TRIBUNNEWSWIKI.COM – Trending tagar GejayanMemanggil masih menduduki nomor 1 trending di Twitter Indonesia.
Aksi ajakan yang kembali digelar di Yogyakarta ini mengandung banyak aksi sejarah.
Gejayan merupakan padukuhan yang berada di kelurahan Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta.
Seiring berkembangnya waktu, nama Gejayan identik dengan Jalan Gejayan yang menjadi satu di antara pusat penjualan gadget.
Gejayan juga merupakan lokasi aksi mahasiswa pada 1998 di Yogyakarta itu, sempat porak-poranda karena kericuhan saat demonstrasi.
Dikutip dari Tribun Jogja yang dirilis pada 2016, peristiwa sejarah memperjuangkan pada 1998 di Yogyakarta ini ternyata memakan korban.
Korban tersebut seorang mahasiswa bernama Moses Gatotkaca.
Saat itu, Moses Gatotkaca tengah melintasi kawasan yang dilakukan aksi demokrasi yang ricuh.
Ia kemudian dihajar oleh aparat lantaran dikira merupakan mahasiswa demonstran.
Baca: Aksi Gejayan Terulang Lagi, Ini Sejarahnya Pernah 3 Kali Terjadi
“Setahu kami, Moses mau mencari makan malam setelah waktu maghrib. Dia lewat selatan kampus Sanata Dharma, di sana ada demo anarkis,"
"Moses dikira masa demonstran dan dipukuli, sampai akhirnya meninggal,” kata Sunarto yang tempat tinggalnya tak jauh dari indekos yang pernah didiami Moses.
Warga Pringgodani, Mrican, Sleman ini pun mengenang peristiwa sejarah tersebut.
Ketika itu kawasan Gejayan merupakan tempat bersejarah sekaligus saksi bisu aksi mahasiswa 1998 di Yogyakarta.
Dimana mahasiswa kampus se-Yogjakarta menyalurkan segala aspirasi mereka.
Mulai dari aksi demonstrasi yang berjalan dengan damai, hingga aksi demonstrasi yang berujung ricuh.
Diungkapkannya saat aksi tersebut berlangsung, sebelum Moses Gatotkaca meninggal, sebagian kecil warga sekitar tidak berani keluar rumah ketika malam.
Ketakutan itu bertambah saat mengetahui terdapat korban salah sasaran oleh aparat.
Kala itu, menurutnya, sebagian besar warga sekitar tak berani keluar pada malam selama beberapa hari.
“Tapi saat Moses Gatotkaca, masyarakat Yogyakarta ikut berduka. Sewaktu jenazah mau dimakamkan, banyak sekali orang yang ikut mengantarkan,” ucapnya.
Puteri pertama Sunarno, Eka Srihartini mengaku, peristiwa meninggalnya Moses Gatotkaca kareka kerusuhan di Gejayan terjadi saat dirinya duduk di bangku TK.
Baca: Trending #GejayanMemanggil di Twitter, Aksi Demo Mahasiswa 1998 Kembali Terulang di 2019
Dia ingat, peristiwa tersebut membuat orangtuanya tidak mengantarkan Eka bersekolah selama beberapa hari, dan memilih berdiam di rumah.
“Yak arena takut. Takut ada korban salah sasaran lagi. Tapi setelah semua kondusif, saya diantarkan ke sekolah lagi,” tutur Eka.
Kesaksian Johanes Eka Priyatma, Rektor Universitas Sanata Dharma (USD) kala itu, saat peristiwa 1998 di Gejayan, dirinya telah menjabat sebagai dosen kampus.
Masih diingatnya saat Moses dikeroyok oleh aparat, sebelumnya terjadi aksi demonstrasi yang ricuh, dan berujung pelemparan batu, hingga pengejaran mahasiswa oleh aparat.
“Saat Moses meninggal, saya masih ingat, civitas akademika Sanata Dharma memberikan perhatian. Kami ikut melayat,” jelasnya.
Eka memandang, Moses merupakan ikon perjuangan menjadikan proses demokrasi yang lebih baik di Indonesia.
Dia pun berpendapat bahwa meninggalnya Moses bukan hal yang sia-sia.
Dengan dijadikannya nama Moses Gatotkaca sebagai nama jalan di tempat dia dikeroyok, diharapkannya dapat menjadi penanda.
“Penanda bahwa di tempat itu pernah terjadi peristiwa sejarah perjuangan demokrasi. Dengan dipakainya nama Moses sebagai nama jalan, itu bentuk penghargaan yang elegan dan mulia,” katanya.
Diberitakan Kompas.com 8 Mei 2019, sejumlah mahasiswa di Yogyakarta menggelar aksi unjuk rasa untuk menolak terpilihnya kembali Soeharto sebagai presiden pada Mei 1998.
Bukan karena itu saja, perekonomian Indonesia yang semakin buruk juga menjadi faktor tambahan pemicu aksi unjuk rasa tersebut.
Aksi tersebut tidak berjalan damai, hingga akhirnya berujung dengan bentrokan.
Salah satunya yang terjadi di Gejayan, Yogyakarta pada 8 Mei 1998.
Peristiwa tersebut dikenal dengan Peristiwa Gejayan atau Tragedi Yogyakarta yang mengakibatkan ratusan orang luka-luka dan satu orang tewas dari mahasiswa MIPA Universitas Sanata Dharma (USD) bernama Moses Gatotkaca.
Saat itu, para mahasiswa USD melakukan aksinya di halaman kampus.
Moses ditemukan telah tergeletak oleh seorang mahasiswa di sekitar Posko PMI di Sanata Dharma.
Ia meninggal dalam perjalanan menuju Rumah Sakit Panti Rapih.
Menurut dokter yang memeriksa, Moses mengalami perdarahan di telinga akibat pukulan benda tumpul.
Selain mahasiswa USD, mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan mahasiswa IKIP Negeri Yogyakarta (saat ini UNY) juga turut melakukan aksi demo yang berujung bentrokan.
Dilansir dari Harian Kompas yang terbit pada 9 Mei 1998, hingga pukul 23.00 WIB pada 8 Mei 1998, Jalan Kolombo, Yogyakarta, masih memanas akibat bentrokan ribuan mahasiswa dan masyarakat dengan ratusan aparat keamanan, menyusul saling serang antara aparat dan para demonstran.
Mahasiswa dan masyarakat melawan aparat dengan batu, petasan, bahkan bom molotov.
Aparat keamanan akhirnya mulai membubarkan demonstran dengan tembakan gas air mata, semprotan air dari kendaraan water gun, dan pengejaran ke IKIP Yogyakarta dan Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta.
Untuk mengenang Peristiwa Gejayan, Jalan Kolombo di sebelah Univeritas Sanata Dharma diubah menjadi Jalan Moses Gatotkaca.
Nama jalan untuk mengenang pahlawan Reformasi yang mungkin masih terlupakan.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Saradita Oktaviani)