G30S 1965 - Plantungan, Kamp Tahanan Politik (Tapol) Perempuan di Kendal, Jawa Tengah

Kamp Plantungan dibentuk pada Juni 1971, sebagai "pusat rehabilitasi" tahanan politik dari berbagai kota di Jawa.


G30S 1965 - Plantungan, Kamp Tahanan Politik (Tapol) Perempuan di Kendal, Jawa Tengah
historia.id
Tahanan politik perempuan di Kamp Plantungan 

Kamp Plantungan dibentuk pada Juni 1971, sebagai "pusat rehabilitasi" tahanan politik dari berbagai kota di Jawa.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Tragedi kemanusiaan peristiwa Gerakan 30 September 1965 menyisakan luka yang mendalam bagi mereka yang terlibat baik sebagai pelaku maupun korban.

Beberapa penjara atau kamp yang bersifat sementara dibuat untuk menahan para tahanan politik baik anggota PKI maupun yang tertuduh sebagai PKI.

Salah satu kamp tahanan politik berada di Plantungan, Kendal, Jawa Tengah.

Kamp Plantungan dibentuk pada Juni 1971, sebagai "pusat rehabilitasi" tahanan politik dari berbagai kota di Jawa.

Tahanan politik (tapol) ini adalah orang-orang PKI atau yang tertuduh PKI yang ditangkap setelah meletusnya peristiwa Gerakan 30 September 1965 / G30S.

"Tempat Pemanfaatan Sementara' Plantungan, Kendal sebelumnya adalah bekas rumah sakit militer yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

Bangunan ini kemudian dimanfaatkan sebagai kamp tahanan yang disebut sebagai kompleks "inrehab".

Kamp Plantungan menampung tahanan politik perempuan anggota PKI dan organisasi afiliasinya serta para perempuan sebagai tertuduh terlibat G30S.

Kompleks bangunan tersebut berada di lembah Lampir, diapit Gunung Perahu, Gunung Butak, dan Kamulan, sebuah dataran tinggi yang membentang di selatan Kendal.

Bangunan itu berdampingan dengan rumah tahanan yang hingga kini masih dipakai.

Dua area bangunan ini dipisahkan Sungai Lampir.

Blok-blok kamp tahanan politik kini telah tiada karena runtuh diterjang banjir bandang 12 tahun silam.

Semua kamp tahanan politik habis tak ada yang tersisa.

Berikut adalah kesaksian penjaga dan tahanan yang Tribunnewswiki.com himpun dari Liputan Khusus Tempo edisi 1-7 Oktober 2012, 'Pengakuan Algojo 1965'.

Informasi yang dituliskan telah terlebih dahulu dilakukan verifikasi melalui beberapa sumber informasi.

Privasi narasumber tetap diutamakan.

Pencantuman nama seseorang diperoleh melalui izin atau berita yang telah memperoleh izin.

Beberapa orang yang tak ingin disebut namanya, maka akan dicantumkan inisial.

Sedangkan foto yang terpampang adalah mereka yang telah memberikan izin gambar untuk diketahui publik luas.

Tidak ada niatan untuk membuka aib atau menyudutkan orang-orang yang terlibat.

Tribunnewswiki.com tidak mengubah  pernyataan langsung individu untuk menjaga otentisitas sumber.

  • Kesaksian Sumarmiyati (1)


C. H. Sumarmiyati menceritakan pengalamannya pada September 1971 di penjara Wirogunan, Yogyakarta.

Ia mengaku diperintahkan untuk berkemas.

Tak hanya dirinya, teman-temannya yang berjumlah 30an tahanan politik perempuan juga diperintahkan hal yang sama.

Sumarmiyati mengaku bahwa semua perintah yang dilakukan tanpa penjelasan.

Hingga tengah hari, ia dan teman-temannya diangkut dengan kendaraan truk

"Ternyata kami dibawa ke Bulu, Semarang, untuk transit sebelum dibawa ke Plantungan," kata Sumarmiyati kepada Tempo.

Mamik, begitu ia dipanggil, menerangkan bersama penumpang bak truk lainnya yang berusaha ceria.

Lagu yang ia nyanyikan bersama menghindari lagu-lagu sedih.

Mereka antara lain melantunkan lagu Di Timur Matahari.

Hampir dua pekan di tahanan Bulu, Mamik dan temannya kembali diperintahkan berkemas.

Mereka kemudian kembali diangkut ke Plantungan, Kendal, sekitar 70 kilometer dari Semarang.

Mamik dan teman-temannya menuju "Tempat Pemanfaatan Sementara Tahanan G-30-S/PKI Golongan B Wanita".

Mamik adalah bekas aktivis Ikatan Persatuan Pelajar Indonesia.

Ia menuturkan bahwa tempat tahanan tersebut adalah bangunan kosong yang ditumbuhi semak belukar, tidak ada lampu.

"Kami diminta membersihkan semuanya, ngepel, pasang lampu, nyapu, cabut rumput," kata Mamik.

Mamik menuturkan beberapa tahanan disengat kalajengking.

Tak hanya kalajengking, banyak ular juga ditemukan.

Namun demikian, menurutnya binatang-binatang tersebut bukanlah hal yang dikeluhkan para tahanan.

"Yang kami pikirkan cuma satu: sampai kapan kami di sana." ujar Mamik

Mamik juga menceritakan bahwa para tahanan "Golongan B" adalah mereka yang dituduh "nyata-nyata terlibat tidak secara langsung" G30S.

  • Laporan Amurwani Dwi Lestariningsih


Kepala Subdirektorat Pemahaman Sejarah Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Amurwani Dwi Lestariningsih yang menulis buku Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan (seperti yang dikutip Tempo), menuturkan pada tahun 1968 tercatat ada 63.894 orang menjadi tahanan politik.

Jumlah tersebut diperkirakan mengalami peningkatan hingga 30 persen pada beberapa tahun berikutnya.

Pada 22 Maret 1971, terbit surat perintah tentang pemindahan 500 tahanan politik B wanita di Jawa ke Plantungan oleh Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban (Kopkamtib).

Dilaporkan jumlah ini terus menggelembung.

Plantungan Kendal 23
Saat ini, di Plantungan terdapat bangunan yang digunakan sebagai Tahanan Anak Negara. Sedangkan bangunan kamp untuk tapol perempuan telah hancur karena banjir bandang. (http://www.balairungpress.com)

  • Kesaksian Dilam & Slamet Shabu


Seorang bekas pembina kerohanian Katolik Kamp Plantungan, Dilam, menceritakan kesaksiannya kepada Tempo saat bertugas pada Mei 1974.

Ia mengaku saat itu kamp dihuni sekitar 870 tahanan.

Dikatakan olehnya, banyak tokoh penting yang menghuni kamp Plantungan, Kendal.

Tokoh-tokoh penting ini datang baik dari aktivis Gerakan Wanita Indonesia / Gerwani ataupun organisasi afiliasi Partai Komunis Indonesia (PKI).

Beberapa orang tokoh penting yang ditangkap karena tuduhan terlibat G30S yaitu Dokter Sumiyarsi Siwirini, aktivis Himpunan Sarjana Indonesia, yang dicap tentara sebagai "dokter Lubang Buaya".

Kemudian, Siti Suratih, yang bekerja sebagai bidan Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto.

Suratih adalah istri anggota Politbiro PKI, Oloan Hutapea, yang ditembak mati di Blitar pada I968.

Juga ada Mia Bustam, istri pelukis S. Sudjojono.

Sebelumnya para tahanan menghuni beberapa lokasi interogasi dan penahanan.

Dilaporkan oleh Tempo, Sumiyarsi pernah ditempatkan di beberapa tempat tahanan yaitu di Markas Kepolisian Bandung Seksi VIII, kemudian di sel di Jalan Panglima Polim.

Selanjutnya ia ditempatkan di Kebayoran Baru, Jakarta, lalu dipindah ke Rumah Tahanan Pesing; Satgas Kalong Gunung Sahari, kemudian ke Lidikus Lapangan Banteng dan juga penjara perempuan Bukit Duri.

Pada mulanya, para tahanan politik tersebut tak bersentuhan dengan penduduk sekitar.

Tentara dilaporkan menjaga dengan ketat mereka.

Salah seorang warga sekitar kamp Plantungan, Slamet Shabu berkomentar atas bangunan itu.

"Masyarakat juga telah didoktrin anggota Gerwani adalah istri para anggota PKI yang jahat," ujar Slamet Shabu.

Slamet adalah sesepuh Desa Pesanggrahan yang tinggal di sekitar bekas kamp.

Kendati kamp Plantungan dianggap tidak nyaman, namun para tahanan menyatakan lebih menyenangkan berada di sana.

Hal itu diungkapkan karena tempat-tempat tahanan lain dinilai justru lebih menyeramkan.

  • Kesaksian Carmel Budiardjo


Carmel Budiardjo dalam buku Bertahan Hidup di Gulag Indonesia (yang dikutip Tempo) mengisahkan bahwa tahanan politik di Bukit Duri pernah berbisik-bisik mengenai tempat pembuangan terakhir.

"Inilah penyelesaian final. Dicampakkan di tempat yang jauh dari keluarga dan sahabat-sahabat untuk selama-lamanya sejauh kita memperkirakan," katanya.

Di Kamp Plantungan, Kendal, diakui oleh beberapa tahanan, mereka menemukan kehidupan dan lokasi baru yang tak terlalu seram, seperti yang sebelumnya mereka bayangkan.

Di Kamp Plantungan terdapat delapan blok besar di sebuah kompleks yang hanya dipagari kawat berduri.

Mereka mengaku di dalam tak ada sel tempat tahanan berdesak-desakan.

"Kami tidak lagi terkungkung di sel," kata Pujiati bekas aktivis Serikat Buruh Unilever yang sebelumnya mendekam enam tahun di Bukit Duri.

Tahanan sesekali mendapat izin keluar dari kompleks dengan pengawalan.

Kendati tak ada siksaan fisik, tahanan politik perempuan ini tetap menanggung beban psikologis dan menerima pelecehan seksual.

Pujiati menganggap kadar penderitaan di Plantungan jauh berbeda dibandingkan saat ia diinterogasi dan ditahan di CPM dan penjara Wirogunan.

Di dua penjara itu, pada saat interogasi, ia mengaku disiksa, dilecehkan secara seksual, dan diperlakukan keras.

  • Kesaksian Sumarmiyati (2)


Terdapat beberapa kejadian yang membuat para tahanan tertekan di Kamp Plantungan.

Berdasarkan kesaksian Mamik, terdapat tahanan asal Solo bernama Sumiyatun yang gila karena ditangkap hanya sebulan setelah menikah.

Selain itu, terdapat juga dua tahanan yang hamil oleh penjaga dari militer.

Hal itu dikonfirmasi oleh Dilam selaku bekas penjaga kamp tahun 1974 yang membenarkan informasi ini.

"Dipaksa atau suka sama suka, saya tidak tahu," ujar Dilam.

Terkait dengan aktivitas yang dilakukan, para tahanan diberi pilihan kegiatan.

Ada yang bercocok tanam, beternak, atau membuat kerajinan seperti menyulam.

Dilam menyebutkan ada tahanan yang dipekerjakan di rumah-rumah dinas petugas kamp dan lembaga pemasyarakatan .

"Tapi dipilih yang lolos evaluasi," ujar Dilam.

Dilan menceritakan bahwa setiap Kamis, tahanan menerima pelajaran agama.

Sedangkan Sabtu adalah hari indoktrinasi yang disebut "santi aji".

Para tahanan ini diminta mempelajari Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila serta pelajaran ilmu politik, sosial, ekonomi, dan budaya.

Para tahanan politik ini lambat laut menjalin relasi dengan masyarakat sekitar.

Warga sekitar kamp setempat sering memanfaatkan klinik yang ada di dalam kamp yang dikelola dokter, bidan, atau perawat yang merupakan tahanan politik.

Sering mereka yang mendatangi pasien di desa dengan pengawalan tentara.

"Persalinan tiga dari enam anak kami dibantu bidan dari tapol," kata Siti Chamidah, istri Slamet.

Siti Chamidah menuturkan pelayanan para tapol sopan dan bersahabat.

Selain itu, berobat ke klinik kamp "inrehab" dekat dan murah.

Sebagai perbandingan, diakui oleh Siti, biaya persalinan di puskesmas saat itu Rp 1.000, sedangkan di klinik "inrehab" cuma Rp 100 (nominal rupiah saat itu).

  • Kesaksian Dilam (2)


Dilam mengaku bahwa klinik yang terdapat di kamp menerima banyak pasien dan dikatakan "menyingkirkan" rumah sakit.

"Sampai mobil-mobil, truk, bawa rombongan," tutur Dilam.

Hubungan baik terus terjalin hingga kamp kosong.

Setelah ada desakan dari Palang Merah Internasional agar tahanan politik dikembalikan ke masyarakat, pada 1975, pemerintah mulai membebaskan mereka.

Dalam bukunya, Amurwani menyatakan 45 tahanan yang digolongkan berideologi komunis kuat selanjutnya direlokasi ke "inrehab" Bulu, Semarang, pada tahun 1976.

Tiga di antaranya adalah dokter Sumiyarsi, Mia Bustam, juga wartawan Istana, Roswati.

Tahanan lain resmi meninggalkan Plantungan pada 1978-1979.

Beberapa bekas tahanan yang telah bebas juga masih menjalin hubungan kekeluargaan dengan penduduk di sekitar bekas kamp.

Bidan Mujiati, misalnya, dua kali berkunjung ke rumah Slamet, termasuk kunjungannya setahun lalu.

"Dia mengaku kangen dan napak tilas ke Plantungan," tutur Slamet.

Dilam, yang kini tinggal di Playen, Gunungkidul, juga mengaku beberapa kali disambangi mantan tahanan politik.

--

Sumber:

Liputan Khusus Tempo, 1 - 7 Oktober 2012 "Pengakuan Algojo 1965"

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan usulan perubahan untuk menambah informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Informasi Detail
Nama Kamp Tahanan Politik, Plantungan, Kendal
Lokasi Kendal, Jawa Tengah
Kesaksian Dilam
Sumarmiyati


Sumber :




Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Melia Istighfaroh






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved