G30S 1965 - Moncongloe, Kamp Tahanan Politik (Tapol) di Gowa, Sulawesi Selatan

Kamp MoncongMoncongloeloe dibuka pada tahun 1969, sebagai "pusat rehabilitasi" tahanan politik anggota PKI dan yang tertuduh PKI dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan


zoom-inlihat foto
kamp-inrehab-moncongloe-6.jpg
historia.id
Kamp Inrehab Moncongloe, Sulawesi Selatan

Kamp MoncongMoncongloeloe dibuka pada tahun 1969, sebagai "pusat rehabilitasi" tahanan politik anggota PKI dan yang tertuduh PKI dari berbagai daerah di Sulawesi Selatan




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Tragedi kemanusiaan peristiwa Gerakan 30 September 1965 menyisakan luka yang mendalam bagi mereka yang terlibat baik sebagai pelaku maupun korban.

Beberapa penjara atau kamp yang bersifat sementara dibuat untuk menahan para tahanan politik baik anggota PKI maupun yang tertuduh sebagai PKI.

Salah satu kamp tahanan politik berada di Moncongloe, Gowa, Sulawesi Selatan.

Kamp tahanan ini disebut Instalasi Rehabilitasi, Moncongloe yang terletak di perbatasan Kabupaten Gowa dan Maros, Sulawesi Selatan.

Di tempat inilah, sebuah kamp pengasingan bagi orang-orang yang terlibat Partai Komunis Indonesia dibangun.

Di sekitar kamp tersebut, terdapat kebun singkong yang menutupi sebagian area.

Juga terlihat beberapa pengembang membangun perumahan di kawasan perbatasan Kota Makassar ini.

Dimungkinkan daerah ini akan menjadi bagian dari kota tersebut.

Instalasi Rehabilitasi Moncongloe dibuka pada tahun 1969 dan resmi dibubarkan sepuluh tahun berselang.

Berikut adalah kesaksian tahanan yang Tribunnewswiki.com himpun dari Liputan Khusus Tempo edisi 1-7 Oktober 2012, 'Pengakuan Algojo 1965'.

Informasi yang dituliskan telah terlebih dahulu dilakukan verifikasi melalui beberapa sumber informasi.

Privasi narasumber tetap diutamakan.

Pencantuman nama seseorang diperoleh melalui izin atau berita yang telah memperoleh izin.

Beberapa orang yang tak ingin disebut namanya, maka akan dicantumkan inisial.

Sedangkan foto yang terpampang adalah mereka yang telah memberikan izin gambar untuk diketahui publik luas.

Tidak ada niatan untuk membuka aib atau menyudutkan orang-orang yang terlibat.

Tribunnewswiki.com tidak mengubah  pernyataan langsung individu untuk menjaga otentisitas sumber.

  • Kesaksian Soemiran: Dipenjara Karena Membebaskan Tahanan Politik


Salah satu saksi mata yang merupakan warga setempat menceritakan kisahnya.

Soemiran adalah salah satu dari ribuan bekas penghuni kamp yang terletak di Desa Paccellekang, Kecamatan Pattallasang, Kabupaten Gowa.

Ia adalah lulusan Sekolah Kepolisian di Mojokerto, Jawa Timur, yang melanjutkan belajar di SMA Sawerigading, Makassar, untuk mendapatkan kenaikan pangkat itu.

Soemiran saat peristiwa G30 S berlangsung dulu adalah polisi yang bertugas di Pelabuhan Makassar.

Ia dijebloskan ke rumah tahanan militer karena dianggap membantu pelarian seorang tokoh PKI dengan kapal ke Jawa.

"Saya hanya ingin membantu guru saya. Saya lihat surat-suratnya lengkap, saya persilakan naik ke kapal," kata Soemiran.

Ia kemudian masuk kamp tersebut pada 1978, ketika semua tahanan politik telah dibebaskan.

Kamp Moncongloe berubah menjadi tempat penahanan bagi militer.

Masing-masing dari mereka diberi lahan satu hektare dan sepetak rumah.

Setahun kemudian, mereka dibebaskan.

Saat ini tinggal Soemiran yang bertahan, sedangkan rekan-rekan seangkatannya sudah pindah dan menjual lahannya.

Buku Kamp Pengasingan Moncongloe karya Taufik
Buku Kamp Pengasingan Moncongloe karya Taufik (Istimewa)

  • Laporan Taufik


Menurut buku Kamp Pengasingan Moncongloe, yang ditulis Taufik (seperti yang dikutip Tempo).

Kamp Moncongloe dibuka pada Maret 1969.

Tercatat sebelas tahanan politik, yang terdiri atas tujuh laki-laki dan empat perempuan, dibawa ke Moncongloe untuk mendirikan barak darurat.

Setelah dua bulan kemudian, masuk 44 tahanan, yang diberi tugas menyiapkan kamp pengasingan.

Salah seorang dari 44 tahanan politik, Anwar Abbas, mengisahkan kesaksiannya.

Anwar tinggal di Kecamatan Gowa.

Dilaporkan Tempo, Anwar Abbas menunjukkan setumpuk dokumen yang terbungkus plastik.

Dokumen tersebut berisi catatan dengan tulisan dari mesin ketik, peta lokasi Moncongloe, beberapa helai foto, serta dua lembar kliping koran.

"Ini catatan singkat saya," kata Anwar.

Sebagai tahanan, Anwar bersama lainnya membuka hutan dan membangun kamp.

Anwar dan para tahanannya kemudian disebut Kelompok 44.

Ia mengaku melakukan pekerjaan di bawah pengawasan ketat anggota polisi militer.

Kelompok 44 kemudian membangun kompleks pengasingan dengan lima barak berukuran 120 meter persegi, dengan masjid, gereja, poliklinik, dan aula.

Pada bulan Desember 1969, Kamp Moncongloe tercatat menampung tahanan politik di berbagai kota di Sulawesi Selatan.

Tahanan yang dikirim dalam Kamp Moncongloe sebelumnya adalah tahanan dari berbagai kota di Sulawesi Selatan, yaitu di Majene, Tana Toraja, Palopo, Makassar, Bulukumba, sampai Selayar.

Pemindahan tahahan berlangsung hingga tahun 1971.

  • Kesaksian Anwar: Kategorisasi Tahanan Politik


Seorang saksi mata desa setempat, Anwar mengisahkan kesaksiannya saat ditahan di kantor polisi di kotanya pada 1965.

Seorang pria sepuh tersebut adalah Ketua Pemuda Rakyat Pangkajene Kepulauan (Pangkep).

Selanjutnya, Anwar diminta untuk dipindahkan ke rumah tahanan militer di Makassar, karena seorang temannya yang ditahan di sini telah dibebaskan.

Anwar kemudian bebas pada tahun 1977.

Di tahanan militer di Makassar, Anwar mengaku diinterogasi.

Ia juga mengaku, di sinilah mereka disiksa.

Setelah selesai pemeriksaan, para tahanan politik kemudian mendapat kategori B atau C.

Keluar dari ruang pemeriksaan, para tahanan politik ini mendapat kategori B atau C.

"Kriterianya apa, tidak tahu. Suka-suka petugasnya," kata Anwar.

Anwar mengaku kondisi di Kamp Moncongloe lebih baik daripada saat di penjara Makassar.

Diterangkan olehnya, untuk makan, setiap tahanan mendapat jatah setengah liter beras per hari.

Sedangkan untuk lauk, mereka mengusahakan sendiri dari kebun dan hutan.

Tak hanya itu, tempat tinggal mereka juga diakui lebih baik daripada sel sempit yang digunakan untuk 20 orang.

Kendati demikian, mereka mengaku diperlakukan seperti budak oleh para penjaga kamp.

Menurut Anwar, tidak ada tahanan yang sampai meninggal karena penyiksaan.

Tahanan yang meninggal disebabkan karena sakit.

Kebanyakan tahanan menderita hepatitis karena beratnya pekerjaan dan kurangnya asupan gizi.

Diakui juga olehnya, tahanan sering kali bekerja sekadarnya asalkan tidak mendapat hukuman.

Hal ini dilakukannya sebagai bentuk perlawanan,

Tak hanya itu, mereka kerap mencuri kesempatan menggarap ladang penduduk atau lahan milik tentara yang ada di luar kamp.

Dari kerja sampingan yang dilakukan, mereka mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan, mulai peralatan mandi, pakaian, sampai rokok.

Beberapa tahanan suami istri juga ada yang membawa anak.

  • Kesaksian M. Jufri Buape: Menggarap Lahan Tentara Tanpa Dibayar


Bekas tahanan, M. Jufri Buape mengatakan para tahanan diharuskan menggarap lahan tentara tanpa dibayar minimal enam jam sehari.

"Jangankan upah, bisa-bisa kami kena pukul jika dianggap kerja tidak benar," kata Jufri.

Jufri yang merupakan Sekretaris Lekra daerah Sidrap ini berusaha mengingat bentuk hukuman yang ia terima jika pekerjaan tidak sesuai dengan kemauan sang penjaga.

"Ya, macam-macamlah," kays Jufri.

Para tahanan juga sering disuruh tentara untuk mengambil kayu di hutan atau bambu untuk dijual.

Menurutnya, mereka (tahanan) tidak mendapat bagian.

Jufri masih ingat nama para penjaga kamp. "Banyak yang sudah meninggal," ujarnya.

Ia mengakui bahwa saat kamp dijabat oleh Kapten Siregar dan Kapten Lubis, kekerasan fisik terhadap para tahanan sering terjadi.

  • Pelecehan Tahanan Perempuan


Diakui oleh Anwar, para tahanan perempuan sering menjadi korban pelecehan para penjaga.

Hal itu dibenarkan dalam buku Taufik yang menyebut tahanan perempuan berprofesi perawat menjadi hamil dan kemudian dikeluarkan dari kamp.

Taufik menuliskan nasib perempuan itu kini tidak jelas.

Peneliti di Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Makassar itu meneliti tentang Moncongloe dan berhasil mewawancarai tiga tentara yang bertugas menginterogasi tapol.

Mereka (para tentara) membenarkan adanya penyiksaan di kamp pengasingan.

Namun, para penjaga kamp tidak bercerita lebih gamblang/terbuka.

Selama di kamp, para tahanan politik juga merasakan kerja rodi yaitu, membangun jalan sepanjang 20 kilometer dari Moncongloe ke Daya, Makassar.

Para tahanan itu kemudian dibagi dalam beberapa kelompok, yang bertugas mulai mencari batu di gunung sampai mengeraskan jalan.

Menurut Taufik, sebelum bukunya ditulis, tak ada informasi tertulis tentang Kamp Moncongloe.

"Tidak ada referensi saat itu. Saya harus mewawancarai puluhan tapol dan mencari pelaku," ujar Taufik.

Taufik bercerita bahwa padaawalnya banyak bekas  tahanan politik yang menolak bicara.

Ia harus beberapa kali bertemu untuk meyakinkan mereka.

Kesulitan terberat yang dialami Taufik adalah saat hendak mewawancarai eks petugas.

Para pensiunan tentara itu menurutnya menolak dengan alasan beragam.

"Mereka khawatir dituntut balik dan paham komunis bangkit kembali," kata Taufik.

Kamp Moncongloe dijadikan oleh Taufik sebagai penelitian tesis pascasarjana di Universitas Hasanuddin, Makassar.

Sementara Nurkholis, Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia saat meninjau Kamp Moncongloe

Anggota Komisi Nasional Hak Asasi Manusia, Nurkholis, dua tahun lalu sempat meninjau Moncongloe bersama sejumlah bekas penghuninya.

Moehamad Arman dari Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sulawesi Selatan, yang mendampingi korban, berharap negara segera memulihkan nama baik mereka, melakukan rekonsiliasi , dan menyelesaikan kasus 1965.

--

Sumber:

Liputan Khusus Tempo, 1 - 7 Oktober 2012 "Pengakuan Algojo 1965"

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan usulan perubahan untuk menambah informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Informasi Detail
Nama Kamp Moncongloe
Fungsi Kamp Tahanan Politik (Tapol)
Lokasi Gowa, Sulawesi Selatan
Kesaksian M. Jufri Buape
Soemiran
Anwar








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved