G30S 1965 - Kisah Pembunuhan terhadap Tokoh PKI & Benih Rekonsiliasi di Palu, Sulawesi Tengah

Berikut adalah kesaksian pembunuhan terhadap pimpinan PKI di Sulawesi Tengah dan benih rekonsiliasi antara anak-anak yang bersangkutan di Palu, Sulawesi Tengah


G30S 1965 - Kisah Pembunuhan terhadap Tokoh PKI & Benih Rekonsiliasi di Palu, Sulawesi Tengah
(https://www.skp-ham.org)
Wali Kota Palu, Sulawesi Tengah, Rusdi Mastura (tengah) saat diwawancara jurnalis New York Times, Amerika Serikat. Ia pernah meminta maaf kepada korban tragedi kemanusiaan akibat peristiwa G30S 

Berikut adalah kesaksian pembunuhan terhadap pimpinan PKI di Sulawesi Tengah dan benih rekonsiliasi antara anak-anak yang bersangkutan di Palu, Sulawesi Tengah




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Tragedi kemanusiaan peristiwa Gerakan 30 September 1965 / G30S 1965 menyisakan luka yang mendalam bagi mereka yang terlibat baik sebagai pelaku maupun korban.

Merespon peristiwa G30S, hadir kebijakan pemberantasan terhadap orang-orang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan para simpatisannya yang menyulut konflik sosial di Jawa dan Bali hingga menyebar ke daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Seusai kejadian G30S, konflik yang berujung pembunuhan terjadi di daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Para algojo atau penjagal muncul sebagai eksekutor untuk membunuh orang-orang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) atau mereka yang dicap sebagai PKI.

Ahmad Bantam, seorang yang mengaku sebagai penggali kubur tokoh-tokoh PKI yang telah dibunuh menceritakan pengalamannya.

Ia menyempatkan untuk menemui keluarga korban untuk meminta maaf atas apa yang pernah ia lakukannya dulu.

Selanjutnya terdapat laporan dari Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sulawesi Tengah yang mengungkap pembunuhan terhadap anggota dan tertuduh PKI di Sulawesi Tengah, dan masih banyak lainnya.

Para anak pelaku dan korban dalam beberapa kesempatan telah mengadakan pertemuan dan saling meminta maaf atas perbuatan masa lalu.

Wali Kota Palu Rusdi Mastura, atas nama pemerintah daerah Palu juga pernah meminta maaf kepada anak-anak korban dan berjanji memberikan beasiswa.

Rusdi menyampaikan permintaan maafnya dalam Dialog Terbuka Memperingati Hari Hak Korban Pelanggaran HAM atas Kebenaran dan Keadilan pada 24 Maret 2012 di Taman GOR, Palu, Sulawesi Tengah.

"Sebagai pemerintah Kota Palu, saya minta maaf. Saya juga sebagai orang Masyumi dan bisa dikatakan pelaku juga pada saat itu karena ikut menangkap dan menjaga rumah tahanan," kata Rusdi.

Kesaksian, laporan, dan pernyataan tersebut Tribunnewswiki.com himpun dari Liputan Khusus Tempo edisi 1-7 Oktober 2012, 'Pengakuan Algojo 1965'.

Informasi yang dituliskan telah terlebih dahulu dilakukan verifikasi melalui beberapa sumber.

Selain itu juga telah dilakukan pengecekan apakah benar pelaku atau orang yang sekadar ingin dicap berani.

Privasi narasumber tetap diutamakan.

Pencantuman nama seseorang diperoleh melalui izin atau berita yang telah memperoleh izin.

Beberapa orang yang tak ingin disebut namanya, maka akan dicantumkan inisial.

Sedangkan foto yang terpampang adalah mereka yang telah memberikan izin gambar untuk diketahui publik luas.

Tidak ada niatan untuk membuka aib atau menyudutkan orang-orang yang terlibat.

Penulisan ini adalah bagian dari kajian yang dimaksudkan untuk kepentingan ilmu pengetahuan.

Tribunnewswiki.com tidak mengubah beberapa pernyataan individu untuk menjaga otentisitas sumber.

  • Kesaksian Ahmad Bantam (1): Sang Penggali Kubur Tokoh PKI yang Dibunuh


Seorang saksi mata mengisahkan pengalamannya saat bertugas menjadi penggali kubur bagi para petinggi PKI yang dibunuh di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Ahmad Bantam yang lahir di Ambon ini mengaku menggali kubur bersama dua temannya atas perintah Kapten Umar Said, komandannya di Markas Komando Resimen 132 Tadulako di Jalan Sudirman, Palu.

Tiga tokoh PKI yang dibunuh yaitu:

  1. Abd Rahman Maselo, Ketua Pimpinan Comite Daerah Besar PKI Sulawesi Tengah,
  2. Hairi Ruswanto, Wakil Ketua Pimpinan Comite Daerah Besar PKI Sulawesi Tengah,
  3. Sunaryo, Ketua Pemuda Rakyat Sulawesi Tengah 

Seorang pensiunan tentara dengan pangkat terakhir sersan dua,  Ahmad Bantam, mengetahui dengan persis letak kuburan ketiganya.

Ia mengaku sebagai penggali kubur mereka.

Letak kuburan mereka berada tak jauh dari jalan besar yang menghubungkan dua kelurahan Loli dan Watusampu, di Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Di tengah-tengah semak tersebut, tiga tokoh PKI dibunuh dan dikubur pada Mei 1967.

  • Kesaksian Ahmad Bantam (2)


Ahmad mencoba mengingat proses pembunuhan tiga tokoh PKI itu.

Dituturkan olehnya, tiga petinggi PKI itu mereka jemput di penjara Donggala, lalu dibawa ke tempat galian.

Ahmad mengaku dirinya diminta menjaga mobil.

Sedangkan Umar dan beberapa tentara lain turun sambil membawa tahanan.

Beberapa menit setelahnya, Ahmad mendengar letusan senapan.

"Dorang sudah tumbang," Ahmad memperkirakan

Mobil yang ia dan temannya tumpangi kemudian melaju kembali ke Palu.

Di dalam mobil, Ahmad melihat ada bekas darah segar menempel di sekop itu.

Terdapat usaha penelusuran dari Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sulawesi Tengah untuk mengungkap fakta kekerasan tersebut.

Data dari lembaga tersebut menunjukkan bahwa kuburan itu pernah digali pada 1977 dan kerangkanya dikuburkan kembali di samping gedung Korem.

Saat ini, di samping kiri dan kanan gedung tersebut sudah berdiri gedung lain.

  • Kesaksian Ahmad Bantam (3): Mencari Keluarga Korban untuk Minta Maaf


Ahmad mengaku menyimpan erat rahasia itu selama puluhan tahun.

Namun demikian, makin tua usianya, ia merasa beban itu makin menyesakkan dada.

Ia pernah dikambing hitamkan sebagai pembunuh para petinggi itu.

Pada tahun 1977 ia pernah diperiksa oleh Detasemen Polisi Militer Palu.

Ia menjelaskan soal laporan hilangnya tiga petinggi PKI, namun laporan tersebut hanya tersimpan di arsip militer.

Akhirnya, ia memutuskan mencari keluarga ketiga tokoh komunis itu pada 2006.

Saat bertemu dengan keluarga mereka, ia sampaikan ceritanya.

"Saya beri tahu bahwa keluargamu bukan hilang, tapi sudah ditembak mati.

Saya yang menggali kuburannya," 

"Sebentar lagi saya meninggal. Saya tidak mau rahasia ini tidak dibuka, kasihan keluarga korban." ujar Ahmad.

Pengakuan Ahmad membuat hatinya sekaligus keluarga korban lega.

"Lega, plong hati ini. Selama ini saya sudah ke mana-mana menanyakan keberadaan Bapak, ke Manado, Makassar, Jakarta, bahkan ke Cina dan Rusia," kata Maryam Labonu.

Maryam adalah istri Abd Rahman.

Sejak suaminya ditangkap, Maryam mengaku hidup bersama tiga anaknya yang berusia 8 bulan hingga 2 tahun, yakni Gagahrismus, Rulian, dan Gamal Bardi.

Bersama anak-anaknya, Maryam sempat ditahan selama setahun di sebuah penjara di Jalan Nusa Indah.

Ia mengaku tak ada yang tersisa dari kejayaan suaminya sebagai tokoh partai, termasuk rumah besarnya di Jalan Jenderal Sudirman pun diambil orang.

"Saya tak mempermasalahkan, yang penting jiwa ini tak diambil," kata Maryam.

Maryam merupakan bekas guru SD Negeri 10 Palu yang menghidupi keluarganya dengan berjualan kue hingga kini, semenjak suaminya ditangkap.

Namun demikian ia merasa ada sesuatu yang salah.

"Yang masih ada dalam benak saya, kenapa saya ditangkap? Apa salah saya?" ujarnya

Sebenarnya, Ahmad juga mempertanyakan kenapa orang-orang PKI di sana ditangkap dan dibunuh.

"Belasan tahun saya sebagai intel tidak pernah ada indikasi orang PKI Sulawesi Tengah mau memberontak. Itu sebabnya saya yakin orang dieksekusi itu tidak tahu masalah," katanya.

Tak hanya itu, Ahmad turut memberi pengakuannya kepada Solidaritas Korban Pelanggaran HAM Sulawesi Tengah.

Ia juga membantah laporan palsu yang dibuat Umar Said, yang menyatakan bahwa ketiga korban dieksekusi karena mencoba melarikan diri ke laut saat pamit buang air kecil.

"Bagaimana mau lari, ikatannya pendek-pendek, dan ikatannya saling terkait ketiganya," kata Ahmad.

Sejak tahun 2006, kelompok solidaritas ini mendata lebih dari seribu korban peristiwa 1965-1966 di provinsi tersebut.

Empat di antaranya belum kembali, yakni tiga petinggi PKI yang dihabisi di Watusampu dan Zamrud, pemimpin PKI di Donggala.

Ahmad Bantam menyempatkan mencari keluarga korban untuk menceritakan kesaksiannya.
Ahmad Bantam menyempatkan mencari keluarga korban untuk menceritakan kesaksiannya. "Saya tidak mau rahasia ini tidak dibuka, kasihan keluarga korban" ucapnya (Repro: Liputan Khusus Tempo, 1 - 7 Oktober 2012 "Pengakuan Algojo 1965")

  • Benih Rekonsiliasi di Kota Palu, Sulawesi Tengah


Kelompok solidaritas ini sempat mencoba membuka upaya rekonsiliasi antara para pelaku dan korban.

Salah satu kegiatan yang diadakan adalah acara Dialog Terbuka Memperingati Hari Hak Korban Pelanggaran HAM atas Kebenaran dan Keadilan pada 24 Maret 2012 di Taman GOR.

Dalam pertemuan itu, Wali Kota Palu Rusdi Mastura secara terbuka meminta maaf kepada para korban atas kejadian di masa lalu.

Rusdi bercerita, saat peristiwa itu berlangsung dia berusia 16 tahun dan bersekolah di SMA 1.

Sebagai anggota Pramuka, Rusdi disuruh kepala sekolahnya menjaga beberapa tempat tahanan di sekitar kota itu selama 1-2 bulan.

"Jadi saya tahu peristiwa itu. Saya tahu Umar Said membunuh empat orang itu di Watusampu. Dalam perhitungan saya, dia hanya menutup belangnya dan akhirnya dia juga ditangkap," kata Rusdi

Saat meminta maaf dalam pidatonya, Rusdi mengatakan saat itu politik jadi panglima, dan peristiwa pemberontakan PKI di Madiun terus-menerus diangkat, sehingga timbul rasa dendam.

Rusdi mengatakan, "Sebagai pemerintah Kota Palu, saya minta maaf. Saya juga sebagai orang Masyumi dan bisa dikatakan pelaku juga pada saat itu karena ikut menangkap dan menjaga rumah tahanan," katanya.

Rusdi atas nama pemerintah Palu berjanji memberikan kesehatan gratis kepada keluarga korban dan beasiswa bagi anak-kanak korban.

Ia dan pejabat pemerintah Palu juga berjanji mendirikan monumen di lokasi kerja paksa PKI.

Nurlaela Lamasitudju, Koordinator Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sulawesi Tengah, mengungkap bahwa pada 1970-an, para tahanan dipaksa membuat sejumlah jalan dan gedung perkantoran.

"Ada 15 titik jalan yang dikerjakan orang PKI secara kerja paksa," kata Nurlaela.

Perlahan, rekonsiliasi mulai bergulir di kota itu.

Setiap bulan, dikatakan Nurlaela, para korban dan pelaku bertemu.

Para pelaku atau keluarganya mulai muncul dan meminta maaf.

Satu di antaranya Shinta, putri Darman Sura, seorang pensiunan polisi yang bertugas di Kepolisian Distrik Parigi pada tahun 1965-1966.

Shinta datang di pertemuan itu dan meminta maaf kepada korban atas nama bapaknya, karena bapaknya ternyata pernah memukul hingga gigi korban rontok.

Seminggu kemudian, ayah Shinta, Darman meninggal.

Pengakuan para pelaku, telah menyemai benih rekonsiliasi di Palu.

--

Sumber:

Liputan Khusus Tempo, 1 - 7 Oktober 2012 "Pengakuan Algojo 1965"

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan usulan perubahan untuk menambah informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Informasi Detail
Nama Kisah Pembunuhan terhadap Tokoh PKI & Benih Rekonsiliasi
Lokasi Palu, Sulawesi Tengah
Kesaksian Ahmad Bantam
Laporan Solidaritas Korban Pelanggaran Hak Asasi Manusia Sulawesi Tengah
Pernyataan Rusdi Mastara (Wali Kota Palu, 2005 - 2015)


Sumber :




Penulis: Dinar Fitra Maghiszha
Editor: Putradi Pamungkas






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • RS Darurat Corona di Batam

    Presiden Jokowi memberi batasan waktu hingga hari Senin
  • FILM - A Knights Tale

    A Knights Tale adalah film medieval yang bercerita
  • Atiqah Hasiholan

    Atiqah Hasiholan adalah seorang aktris, model, dan pembawa
  • FILM - A Reason to

    A Reason to Live merupakan film KoreaSelatan yang
  • Roro Fitria Bersama 30 Ribu

    Kemenkumhan membebaskan 30 ribu narapidana untuk meminimalisir penyebaran
© 2020 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved