G30S 1965 - Ilham Aidit Mencari Makam Ayahnya, DN Aidit

Ilham Aidit yang merupakan anak keempat dari pimpinan PKI, DN Aidit pada suatu waktu pernah melakukan pencarian terhadap makam ayahnya.


zoom-inlihat foto
ilham-aidit-dan-dn-aidit.jpg
Kolase foto (Tribunnews.com)
Ilham Aidit pada suatu waktu pernah mencari keberadaan makam ayahnya. Ia mengaku mempunyai tujuan agar dapat memindahkan makam ayahnya ke tempat yang layak. (Kiri: Ilham Aidit, Kanan: DN Aidit)

Ilham Aidit yang merupakan anak keempat dari pimpinan PKI, DN Aidit pada suatu waktu pernah melakukan pencarian terhadap makam ayahnya.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit adalah seorang politikus yang lahir pada 30 Juli 1923 di Belitung, Sumatera Selatan dengan nama asli Achmad Aidit.

DN Aidit adalah anak pertama dari enam bersaudara, dan memiliki dua orang adik tiri.

Ayah DN Aidit bernama Abdullah Aidit, seorang mantra kehutanan, jabatan yang cukup terpandang di Belitung pada masa itu.

Sedangkan sang ibu, Mailan merupakan perempuan yang lahir dari keluarga ningrat.

Setelah peristiwa Gerakan 30 September / G30S yang menewaskan korban6 jenderal dan satu perwira militer, menimbulkan tragedi kemanusiaan di daerah-daerah.

Merespon peristiwa G30S, hadir kebijakan pemberantasan terhadap orang-orang dari Partai Komunis Indonesia (PKI) dan para simpatisannya  yang menyulut pembunuhan di Jawa dan Bali hingga menyebar ke seluruh daerah.

DN Aidit adalah salah satu korban pembunuhan tersebut, namun hingga kini makamnya tidak bisa dipastikan keberadaannya.

Saat kekuasaan Orde Baru mulai melemah, pencarian lokasi makam DN Aidit sebagian dilakukan oleh beberapa orang, mulai dari anaknya, peneliti, hingga, beberapa organisasi swadaya.

Salah satunya dilakukan oleh anak keempat DN Aidit, bernama Ilham Aidit.

Ilham Aidit adalah seorang pegawai sipil dan arsitek asal Indonesia yang memiliki empat anak, dua perempuan dan dua laki-laki.

Ia adalah alumnus Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan, Bandung.

Ilham juga merupakan salah satu Pemrakarsa, Pendiri dan Pendukung Forum Silaturrahmi Anak Bangsa (FSAB) yang didirikan oleh generasi kedua dan ketiga dari mereka yang di masa lalu terlibat dalam berbagai konflik politik kekerasan dan kekerasan dalam politik di Indonesia.

Dikutip dari beberapa sumber, saat ini, Ir. Ilham Aidit adalah Ketua Wilayah III Partai Buruh dan pernah terlibat dalam proyek rekonstruksi Aceh.

Pencarian terhadap makam ayahnya dilakukan Ilham semenjak lulus kuliah hingga tahun 1998.

Ia mengaku melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

Usaha pencarian makam DN Aidit oleh Ilham dituliskan oleh Tempo dalam bab akhir di buku Seri Buku Tempo Orang Kiri Indonesia, "DN Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara" yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia tahun 2010.

Berikut Tribunnewswiki.com himpun catatan ihwal aktivitas tersebut ke dalam satu peristiwa sejarah.

  • Ilham Aidit Melacak Makam Ayahnya #


Ilham Aidit (sesuai dilaporkan Tempo) pernah memutuskan untuk datang sendiri ke tempat yang diduga sebagai pusara ayahnya.

"Sejak lulus kuliah sampai 1998, saya selalu mencari kuburan ayah dengan sembunyi-sembunyi," kata Ilham.

Pencarian yang ia lakukan didasari dengan hanya berbekal sepotong informasi dari koran bahwa Aidit tewas ditembak di Boyolali.

Ia juga sempat berkomunikasi dengan kawan dekat ayahnya, namun tak ada satu pun yang tahu nasib Aidit selepas meninggalkan Ibu Kota.

Pencarian makam ayahnya dIi Boyolali bukanlah hal yang mudah bagi Ilham Aidit.

Menurutnya, terdapat upaya sistematis untuk membuat makam ayahnya dilupakan orang.

Di sekitar sumur di pekarangan belakang sebuah gedung tua, terdapat hamparan tanah yang berkerikil.

Di sekitarnya juga ditumbuhi labu siam dan ubi jalar.

Tak hanya itu, terdapat juga pohon mangga dan jambu biji yang tumbuh di kanan dan kiri.

Di tempat tersebut, tidak ada satu pun penanda yang menunjukkan bahwa di situ pernah ada bekas sumur di pekarangan belakang gedung tua.

Bangunan tua tersebut dahulu merupakan bagian dari kompeks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Kendati tak ada bekas sumur tua, di tempat tersebut banyak orang meyakini, bahwa pernah ada sebuah sumur tua tempat jenazah Dipa Nusantara Aidit, Ketua Umum Comite Central PKI, dikuburkan pada 23 November 1965.

  • Cerita Tamam Saemuri #


Salah seorang saksi mata sedikit membuka informasi perihal keberadaan makam sekaligus peristiwa pembunuhan DN Aidit.

Seorang Mustasyar Nahdlatul Ulama (NU) Boyolali ini bernama, Tamam Saemuri.

Diakui olehnya bahwa pada suatu malam di tahun berdarah 1965, Taman bertemu Kolonel Yasir Hadibroto dalam sebuah rapat organisasi massa di pendapa kabupaten.

Saat itu Tamam yang masih muda adalah aktivis Gerakan Pemuda Ansor, salah satu organisasi yang banyak terlibat dalam "operasi pembersihan / operasi penumpasan" anggota dan yang tertuduh anggota PKI di daerah-daerah.

Kesaksiannya kepada Tempo, menuturkan bahwa dalam pertemuan itu Yasir mengumumkan pasukannya telah menembak mati Aidit beberapa hari sebelumnya.

"Eksekusi-nya subuh-subuh," Tamam menirukan Yasir.

Meyakinkan ucapan kepada lawan bicaranya, Yasir menunjukkan jam tangan yang ia kenakan.

"Ini arloji Aidit," katanya.

Saat ditanya bagaimana pimpinan PKI itu tewas, Yasir berujar, "Dia diberondong senapan AK sampai habis 1 magasin."

Sejumlah sumber lain (untuk dilakukan kroscek) membenarkan cerita Tamam.

Setelah puluhan tahun, cerita itu sampai juga ke telinga Ilham Aidit.

  • Ilham Aidit Melacak Makam Ayahnya #


Pekarangan bangunan tua yang dicari Ilham Aidit merupakan bagian dari kompeks markas Batalion 444 TNI Angkatan Darat yang terletak di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah.

Kendati tak ada bekas sumur tua, di tempat tersebut banyak orang meyakini, terdapat sebuah sumur tua tempat jenazah Dipa Nusantara Aidit dikuburkan.

Dilaporkan oleh Tempo, bahwa sumur tua itu, misalnya, sampai dua kali diuruk batu setelah November 1965.

Kompleks gedung markas Batalion 444 juga sempat dibongkar.

Kini tempat itu hanya menyisakan sebuah gedung tua.

Gedung itu kemudian digunakan sebagai mes pegawai Komando Distrik Militer (Kodim) di Kabupaten Boyolali.

Batalion 444 dikenal sebagai kesatuan tentara pro-PKI.

Salah satu komandan kompinya, Letnan Kolonel Untung Syamsuri, yang kemudian memimpin operasi penculikan enam jenderal dan satu perwira pada malam 1 Oktober 1965 oleh sebuah gerakan yang mengatasnamakan dirinya Gerakan 30 September,

Beberapa tahun menjelang 1965, Boyolali pernah dikenal sebagai basis PKI di Jawa Tengah.

Pada pemilu 1955 dan pemilihan kepala daerah dua tahun sesudahnya, PKI tercatat meraih kemenangan besar di provinsi tersebut.

Pencarian Ilham Aidit berbuah hasil saat sebuah lembaga swadaya masyarakat lokal di Boyolali menghubunginya dan menceritakan hasil temuan mereka.

"Mereka mengetahui lokasi ini dari sumber-sumber kredibel yang terlibat langsung dalam pembunuhan anggota PKI saat itu," kata Ilham.

Pernyataan Ilham kemudian membuat Tempo melakukan penelusuran sendiri untuk membuktikan kebenaran.

Ditemui oleh Tempo, seorang penghuni di Mes Kodim yang namanya tidak mau disebut.

Si penghuni ini menolak disebut namanya karena khawatir keselamatannya terancam.

Ia membenarkan bahwa pekarangan di belakang gedung tersebut disebut-sebut sebagai lokasi kuburan DN Aidit.

Ditambahkan olehnya, bahwa telah lama warga setempat berusaha menghindari bekas sumur tua itu.

"Pernah ada orang yang mau membuat bak sampah tepat di atasnya, tapi cangkulnya membentur batu keras," katanya.

Ia juga mengungkap saat bergeser beberapa meter ke samping, justru muncul pecahan tulang tempurung tengkorak.

Lubang itu kemudian buru-buru ditutup lagi, kata si penghuni tersebut.

Tak sampai 100 meter dari sana, terdapat sebuah lokasi lain yang juga dianggap berhubungan dengan Aidit.

Di sanalah, konon, menurut si penghuni tersebut, adalah tempat di mana Wakil Ketua Majelis MPR Sementara itu ditembak mati.

Pekarangan tersebut merupakan bagian dari satu rumah berarsitektur tua yang sekarang menjadi Gedung Bank Pembangunan Daerah Jawa Tengah.

"Jadi, setelah ditembak di sana, baru jenazahnya dimasukkan ke sumur di sebelahnya," kata Ilham kepada Tempo.

Pada tahun 1965, rumah itu digunakan sebagai Sekolah Pendidikan Guru.

Rumah yang berlokasi tak jauh dari Pasar Boyolali itu berhadap-hadapan dengan markas polisi militer Kodim Boyolali dan gedung yang dulu digunakan sebagai Sekretariat PKI.

Seorang narasumber, Mbah Jungkung, pensiunan pegawai negeri setempat yang banyak mengetahui ihwal kejadian pada masa itu.

Dalam hal ini ia membenarkan kisah Ilham.

Menurutnya, gedung sekolah itu dahulu dijadikan semacam kamp tahanan.

Para anggota dan simpatisan PKI dikumpulkan di situ sebelum dieksekusi.

Ketika akhirnya dapat berdiri di samping pusara ayahnya pada tahun 2003 lalu, Ilham mengaku tak kuasa menahan getaran hatinya.

"Naluri saya mengatakan memang di sinilah tempatnya," katanya dengan suara tercekat.

Ilham Aidit juga mengaku memendam keinginan untuk memindahkan jenazah ayahnya ke tempat yang layak.

"Tapi mungkin belum bisa sekarang," katanya pelan. "Kami harus bersabar.

--

Sumber:

(Seri Buku Tempo Orang Kiri Indonesia, "DN Aidit, Dua Wajah Dipa Nusantara", Kepustakaan Populer Gramedia)

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data baru dan usulan perubahan untuk menambah informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)



Informasi Detail
Nama Ilham Aidit Mencari Makam Ayahnya, DN Aidit
Lokasi Boyolali, Jawa Tengah
Kesaksian
Tamam Saemuri
Penghuni Mes Kodim Boyolali (Tidak mau disebutkan namanya)
Mbah Jungkung


ARTIKEL REKOMENDASI



KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2023 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved