Candra Wijaya

Candra Wijaya adalah mantan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia yang memenangkan medali emas di Olimpiade Sydney 2000 bersama Tony Gunawan.


zoom-inlihat foto
candra-wijaya.jpg
Instagram/cwibc1
Candra Wijaya.

Candra Wijaya adalah mantan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia yang memenangkan medali emas di Olimpiade Sydney 2000 bersama Tony Gunawan.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Candra Wijaya adalah mantan atlet bulu tangkis ganda putra Indonesia yang memenangkan medali emas di Olimpiade Sydney 2000.

Saat itu Candra Wijaya berpasangan dengan Tony Gunawan.

Candra Wijaya lahir pada 16 September 1975 dari pasangan Hendra Wijaya dan Indranita.

Candra Wijaya besar di keluarga bulu tangkis.

Ayahnya, Hendra Wijaya, merupakan mantan pemain bulu tangkis sekaligus pemilik klub bulu tangkis Rajawali di Cirebon.

Kakaknya, Indra Wijaya adalah pemain bulu tangkis Indonesia yang kemudian mengundurkan diri dari pelatnas dan sempat pindah ke Singapura untuk mewakili negara tersebut dalam berbagai kejuaraan bulu tangkis internasional.

Rendra Wijaya juga merupakan pemain bulu tangkis Indonesia, dengan prestasi internasional terbaiknya, yaitu finalis Dutch Open 2008.

Sedangkan adik perempuan Candra yang bernama Sandrawati, prestasinya masih di level nasional dan junior. (1

  • Masa Kecil #


Candra Wijaya mulai kenal pada bulu tangkis melalui keluarganya.

Keluarga besar Candra Wijaya menyukai olahraga khususnya bulu tangkis.

Ayah Candra Wijaya bermain bulu tangkis seangkatan dengan Tjun-Tjun, Christian Hadinata dan Iie Sumirat.

Candra Wijaya dan kakaknya pun mulai mengikuti jejak ayahnya tersebut.

Awalnya Candra Wijaya bermain bulu tangkis saat usia empat atau lima tahun di Cirebon.

Karena orang tuanya yang memiliki klub, PB Rajawali, maka ia berlatih di sana.

Setelah berlatih di Cirebon hingga usia 12 (tahun 1987), dirinya mulai mencoba masuk klub besar di ibu kota.

Candra Wijaya termotivasi ingin menyusul kakaknya, Indra Wijaya, yang sudah lebih dulu berada di Jakarta.

Di Pelita Bakrie dia merintis karier bulu tangkisnya dari bawah.

Waktu itu dia baru mulai merasakan sulit dan beratnya menjadi seorang atlit.

Mulai dari tingkat pemula, remaja hingga terus perlahan akhirnya dapat berprestasi ke tingkat junior.

Ketika itu Candra Wijaya tidak langsung bermain sebagai pemain ganda, tapi masih bermain di sektor tunggal putra.

Prestasi terbaiknya waktu itu adalah sempat menjadi semifinalis tunggal putra Kejuaraan Dunia Junior 1990 di Jakarta, waktu itu namanya disebut Bimantara World Junior Championship.

Namun setelah itu ternyata Candra Wijaya malah sakit kuning atau hepatitis.

Maka ia pun berhenti dari bulu tangkis untuk sementara waktu dan balik ke Cirebon. (2

  • Karier #


Meskipun dokter menyarankan untuk berhenti berolahraga berat, namun karena kemauan dan kecintaannya pada bulu tangkis Candra Wijaya menjalani pemulihan dan mulai berlatih lagi.

Namun saat itu akhirnya Candra Wijaya pindah ke sektor ganda putra.

Saat itu keputusan pindah ke ganda putra karena tak ingin berbenturan dengan kakaknya yang main di tunggal putra.

Akhirnya setelah pulih dan terus mencari pengalaman, tahun 1993 Candra Wiajaya berhasil menjadi juara kejuaraan nasional ganda putra.

Meskipun ketika itu adalah pasangan dadakan Namrih Suroto, dari situ pula yang membawanya dipromosikan ikut seleksi ke Pelatnas Cipayung.

Di Pelatnas sebelum berpasangan dengan Sigit Budiarto, Candra Wijaya sempat beberapa kali ganti pasangan, pertama bersama Dadan Hidayat.

Lalu dia juga dipasangkan dengan Ade Sutrisna (almarhum).

Bersama Ade, Candra Wijaya pernah menjuarai Polandia Terbuka, Kanada Terbuka, Amerika Serikat Terbuka, dan Swedia Terbuka yang ketika itu setara grand prix atau super series.

Saat berpasangan dengan Sigit Budiarto, Candra Wijaya cukup cepat melejit dan puncaknya adalah saat menjuarai Kejuaraan Dunia di Glasgow, Skotlandia 1997.

Usianya yang saat itu baru 21 tahun bisa disebut masih cukup belia untuk dapat medali emas Kejuaraan Dunia bulu tangkis.

Candra Wijaya menyebut bahwa sparing, kompetisi, dan belajar dari para senior dan pelatih yang mumpuni lah yang membuat dirinya maju pesat.

Candra Wijaya juga menyebut bahwa selama latihan dirinya dan pasangannya sering mengalahkan senior-seniornya, terutama Ricky Subagja/Rexy Mainaky yang baru meraih medali emas Olimpiade Atlanta 1996.

Di masa itu Candra Wijaya/Sigit Budiarto seperti 'Angin Taifun' (sebutan yang disematkan media ketika itu).

Candra Wijaya dan Sigit Budiarto.
Candra Wijaya dan Sigit Budiarto. (bolasport.com/Nugy)

Selama 1997 mereka bisa memenangkan beberapa kejuaraan, bahkan belum sampai 10 turnamen mereka bisa menjadi peringkat satu dunia.

Hal tersebut karena poin mereka yang tinggi, serta dapat mengalahkan unggulan-unggulan atau pasangan ganda yang peringkatnya lebih tinggi dari mereka.

Di tahun 1998 Candra Wijaya berhasil menjuarai Piala Thomas bersama tim Indonesia, juga berhasil mempertahankan prestasi itu di tahun 2000 dan 2002.

Berikutnya Candra Wijaya mampu meraih emas di Olimpiade Sydney tahun 2000 bersama Tony Gunawan.

Namun akhirnya karena satu lain hal dirinya pun memutuskan mundur dari Pelatnas pada 2009.

Meskipun sudah mundur dari Pelatnas, Candra Wijaya masih tetap bermain secara profesional.

Selama berkarier di bulutangkis dia juga pernah bermain di ganda campuran, sempat meraih medali emas SEA Games 1997 bersama Eliza Nathanael, juara Thailand terbuka bersama Jo Novita, dan pernah berpasangan dengan Greysia Polii, menjuarai Kejurnas Beregu Campuran 2003 bersama PB Jaya Raya.

Waktu SEA Games 1997 di Jakarta, Candra Wijaya mengungkapkan bahwa ia masih ingat ketika itu mereka bermain tiga set dan seru sekali melawan Ricky/Rexy.

Candra Wijaya bersama Sigit Budiarto berhasil menang dengan skor 15-4, 14-17, 15-11.

Setelah itu dirinya baru tahu bahwa final tersebut adalah ajang mencetak rekor untuk Ricky/Rexy.

Apabila Ricky/Rexy berhasil atau menang di SEA Games artinya gelar mereka lengkap, namun Candra/Sigit mengagalkan mereka ketika itu. (2)

Candra Wijaya dan Tony Gunawan saat mendapat medali emas Olimpiade Sydney 2000.
Candra Wijaya dan Tony Gunawan saat mendapat medali emas Olimpiade Sydney 2000. (siti-entin.blogspot.com)

Prestasi

  • Semi final Yonex Sunrise India Open 2009 (bersama Joko Riyadi)
  • Semi final Li Ning China Super Series 2008 (bersama Tony Gunawan)
  • Runner-up Chinese Taipei Grand Prix Gold (bersama Tony Gunawan)
  • Runner-up Djarum Indonesia Super Series 2008 (bersama Tony Gunawan)
  • Runner-up Yonex-Sunrise Badminton Asia Championships 2008 (bersama Nova Widianto)
  • Semi final India Grand Prix Gold 2008 (bersama Tony Gunawan)
  • Semi final Proton Malaysia Open Super Series 2008 (bersama Tony Gunawan)
  • Runner-up Hong Kong Super Series 2007 (bersama Tony Gunawan)
  • Juara Yonex Open Japan Super Series 2007 (bersama Tony Gunawan)
  • Medali Emas Olimpiade 2000 di Sydney (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Thomas Cup 1998 dan 2000 (Tim Indonesia)
  • Juara All England Championship 1999 (Candra Wijaya/Tony Gunawan) dan 2003 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara World Championship 1997 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara Asia Championship 1996 (Candra Wijaya/Ade Sutrisna)
  • Juara World Grand Prix Championship 1997 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto), 1999, 2000 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Japan Open 2000, 2006, (Candra Wijaya/Tony Gunawan) dan 2001 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara Indonesia Open 1997 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto), 2000, 2006 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Malaysia Open 1999 (Candra Wijaya/Tony Gunawan) dan 2005 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara Korea Open 2006 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Singapore Open 1997 dan 1998 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara USA Open 1994 (Candra Wijaya/Ade Sutrisna) dan 1996 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara Swiss Open 2005 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara Hong Kong Open 1998 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara China Open 1996, 2004, dan 2005 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara China Taipei Open 1997 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto) dan 2000 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Thailand Open 1996 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Juara Ipoh Master 1999 (Candra Wijaya/Tony Gunawan))
  • Juara Swedish Open 1998 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Copenhagen Master 1997 (Candra Wijaya/Tony Gunawan)
  • Juara Swedish Open 1996 (Candra Wijaya/Ade Sutrisna)
  • Juara Canadian Open 1994 (Candra Wijaya/Ade Sutrisna)
  • Juara Polish Open 1994 (Candra Wijaya/Ade Sutrisna)
  • Medali Emas Beregu Putra Asian Games 1998 di Bangkok
  • Medali Emas SEA Games 1997 dan 2001 (Candra Wijaya/Sigit Budiarto)
  • Medali Emas SEA Games 1997 di Jakarta (Candra Wijaya/Eliza Nathanael) (1)

  • Penghargaan #


Satya Lencana Kebudayaan - President B.J. Habibie

Parama Krida Utama - Menpora

Most Valuable Players Bola Respondent Version (1999, 2000 & 2003)

Most Valuable Players Siwo Pwi Jaya Version

Satya Karya Bhakti Olahraga Utama - Koni Pusat

Most Valuable Players 2007, 2008 - Japan League

Eddy Choong Award (Best Player of the Year - 2000)

Vw Life Time Achievement Award (1)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/ Abdurrahman Al Farid)



Nama Rafael Candra Wijaya
Nama Panggilan Candra
Tempat, Tanggal Lahir Cirebon, 16 September 1975
Riwayat Pekerjaan Atlet Bulu Tangkis
Ayah Hendra Wijaya
Ibu Indranita
Istri Caroline Indrian
Anak Gabriel Christopher Wintan Wijaya, Christina Joshephine Wintania Wijaya
Saudara Indra Wijaya, Rendra Wijaya, Sandrawati Wijaya
Instagram cwibc1


Sumber :


1. www.merdeka.com
2. www.cnnindonesia.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - Uang Passolo (2026)

    Uang Passolo adalah sebuah film drama Indonesia yang
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved