TRIBUNNEWSWIKI.COM – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau mulai memakan korban.
Sejauh ini, sedikitnya ada 12 warga yang harus dievakuasi karena terpapar kabut asap tersebut.
Mereka dievakuasi oleh tim relawan posko kesehatan DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di jalan Soekarno Hatta, Kecamatan marpoyan Damai, Kota Pekanbaru, Riau.
Dikutip dari Kompas.com, Sabtu (14/9/2019), warga yang dievakuasi rata-rata mengeluhkan sesak napas, demam, batuk, dan pilek.
“Tadi malam, Jumat (13/9/2019) sekitar pukul 23.00 WIB, tim relawan posko kesehatan PKS Riau mengevakuasi 12 orang warga yang terdampak kabut asap,” kata Deputi Humas DPW PKS Riau, Enda Inspirasi.
Baca: Kabut Asap Kepung Riau, Greenpeace Indonesia: Ini Merupakan Bentuk Kegagalan Pemerintah
Warga yang dievakuasi berasal dari Kecamatan Rumbai sebanyak tiga orang, Kecamatan Tampan dua orang, serta Kecamatan Sail sebanyak empat orang.
Ada juga warga dari luar Pekanbaru sebanyak tiga orang dari Kota Duri, Kabupaten Bengkalis.
Untuk mengevakuasi tiga warga itu, tim relawan harus menempuh perjalanan kurang lebih tiga jam dari Pekanbaru.
Bahkan, kata dia, salah seorang anak perempuan yang dievakuasi sudah tiga hari sakit.
“Ada satu anak bernama Adelia usia tujuh tahun, anak dari Ibu Ayi Nuandra (36) warga Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru. Kemudian satu anak Ibu Ayi yang laki-laki, Akif usia lima tahun, juga demam karena asap. Jadi tadi malam kita evakuasi,” kata Enda.
Setelah sampai di posko, para warga diberikan penanganan medis oleh dokte.
“Dokter Arnita Sari secara sukarela membantu membantu warga (korban asap) di posko kesehatan PKS Riau. Dia ini juga Anggota DPRD Provinsi Riau,” ucap Enda.
Baca: Kabut Asap di Pekanbaru Makin Pekat, Warga Keluhkan Dampaknya, Sesak Napas hingga Demam
Sementara itu, salah seorang warga Kecamatan Rumbai Pesisir, Pekanbaru, yang dievakuasi, Ayi Nuandra (36) mengaku sesak napas dan batuk yang dia derita disebabkan oleh kabut asap.
“Saya sesak napas dan batuk. Dua anak saya juga sudah tiga hari demam, batuk dan muntah-muntah,” kata Ayi seperti dilansir Kompas.com, Sabtu.
Dia mengaku dijemput ke rumahnya oleh tim relawan posko kesehatan PKS Riau.
Sebab, Ayi mengaku tidak berani menembus kabut asap menuju posko tersebut.
“Saya enggak berani keluar rumah. Dari hari Senin (9/9/2019) kami nggak ada buka pintu rumah. Udah mengeluh juga anak-anak pengen main keluar, tapi saya larang karena kabut asap pekat,” ungkap Ayi.
Baca: Ini 5 Cara Lindungi Diri dari Kabut Asap, Pakai Masker hingga Konsumsi Makanan Sehat
Dia mengaku sangat terbantu dan bersyukur dengan adanya posko kesehatan tersebut.
“Sangat terbantu. Alhamdulillah ada posko kesehatan PKS Riau. Kalau nggak ada bingung juga. Karena kasihan anak-anak pada muntah-muntah,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, warga terpapar kabut asap akibat kebakaran mengungsi ke posko pengungsian yang dibuka oleh DPW PKS Riau.
Posko pengungsian dan posko kesehatan dibuka sejak, Rabu (11/9/2019).
Setidaknya sudah ada sekitar 75 orang, terdiri dari anak-anak, bayi, orang tua, ibu hamil, ibu menyusui, dan lansia.
(TribunnewsWIKI/Kompas.com/Idon Tanjung/Widi Hermawan)