Hari Ini dalam Sejarah: 12 September 1984 Terjadinya Peristiwa Tanjung Priok

Peristiwa Tanjung priok merupakan peristiwa kerusuhan yang terjadi di Tanjung Priok, Jakarta, pada 12 September 1984


haerahr

Hari Ini dalam Sejarah: 12 September 1984 Terjadinya Peristiwa Tanjung Priok
nasional.kompas.com
Hari Ini Dalam Sejarah: 12 September 1984 Terjadinya Peritiwa Tanjung Priok 

Peristiwa Tanjung priok merupakan peristiwa kerusuhan yang terjadi di Tanjung Priok, Jakarta, pada 12 September 1984




  • Informasi


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Peristiwa Tanjung priok merupakan peristiwa kerusuhan yang terjadi di Tanjung Priok, Jakarta pada 12 September 1984.

Terdapat beberapa versi terakit jumlah korban pada Peristiwa Tanjung Priok pemerintah Indonesia melansir jumlah yang tewas adalah 33 orang dan lembaga-lembaga kemanusiaan asing menyebut jumlah korban mencapai ratusan orang yang terbunuh. (1) 

Menurut catatan Komnas HAM, akibat Peristiwa Tanjung Priok tersebut terdapat korban tewas mencapai 24 orang, sedangkan 55 orang luka-luka.

Peritiwa Tanjung Priok juga ditetapkan sebagai salah satu peristiwa pelanggaran HAM tingkat berat.

Hasil dari KP3T menyebutkan nama-nama yang terlibat dalam aksi pelanggaran HAM tersebut, yaitu dari Babinsa, Kesatuan Arhanud, Koramil Koja, Polres Jakarta Utara dan beberapa perwira tinggi selama kejadian itu.

Peritiwa Tanjung Priok diduga dilatarbelakangi penerapan asas tunggal Pancasila yang mendapatkan penolakan dari masyarakat.

Terjadinya Peritiwa Tanjung Priok juga diduga dikarenakan adanya provokasi dan hasutan yang kemudian menimbulkan aksi protes terhadap kebijakan Presiden Soeharto tersebut. (2) 

  • Urutan Kejadian


Pada 8 September 1984, seorang Babinsa bernama Hermanu memasuki Mushola As-Sa’adah di Gang IV Koja, Tanjung Priok yang menurut kesaksian masyarakat Hermanu masuk tanpa melepas sepatu (meski Hermanu sendiri kelak membantahnya).

Di sana, Hermanu bermaksud untuk mencopot pamphlet yang dianggap berisi ujaran kebencian terhadap pemerintah.

Menurut kesaksian masyarakat, Hermanu menggunkan air dari selokan untuk menyiram pamphlet tersebut.

Sedangkan Hermanu mengatakan jika ia kemudian memakai air selokan yang hitam itu untuk melepas pamflet yang melekat dengan kuat di papan pengumuman. (3) 

Perbuatan yang dilakukan oleh anggota Babinsa tersebut kemudian langsung menyebar ke masyarakat keesokan harinya.

Para pengurus Assa’adah lalu meminta bantuan kepada Syarifuddin Rambe dan Syafwan Sulaeman, dua pengurus DKM (Dewan Keluarga Masjid) Baitul Makmur, yang letaknya memang berdekatan dengan Mushola Assa’adah.

Syarifuddin dan Syafwan berinsiatif mengundang Hermanu dan kawan-kawannya untuk bermusyawarah.

Pada tanggal 10 September 1984, terjadi pertengkaran antara beberapa jemaah musala dengan anggota Babinsa tersebut.

Adu mulut itu sempat terhenti setelah dua Babinsa itu diajak masuk ke kantor pengurus Masjid Baitul Makmur yang terletak tidak jauh dari musala.

Diluar dugaan, keadaan kemudian menjadi ricuh setelah massa yang berkumpul di luar musala melakukan pembakaran kepada motor milik anggota Babinsa, Hermanu.

Akibatnya, empat orang yaitu Achmad Sahi, Syafwan Sulaeman, Syarifuddin Rambe, dan Muhammad Nur ditahan.

Pada 11 September 1984, jemaah kemudian meminta bantuan kepada Amir Biki yang merupakan tokoh masyarakat yang dianggap mampu memediasi antara massa dengan tentara di Kodim maupun Koramil untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Amir Biki kemudian langsung mendatangi Kodim dan meminta pembebasan terhadap empat orang yang ditahan tersebut.

Namun, permintaan Amir Biki tersebut tidak mendapatkan tanggapan yang kurang baik ndan Amir Biki mersa seperti dipermainkan karena tidak adanya jawaban yang jelas dari Kodim.

Lalu, pada malam harinya Amir Biki menggagas pertemuan yang juga turut mengundang para tokoh agama untuk membahas tentang persoalan tersebut

Forum umat Islam itu dimulai pada pukul 8 malam dan berlangsung selama kurang lebih 3 jam.

Lantaran permohonan pembebasan 4 tahanan itu tetap tidak digubris hingga menjelang pergantian hari, maka paginya, 12 September 1984, sekitar 1.500 orang bergerak, sebagian menuju Polres Tanjung Priok, yang lainnya ke arah Kodim yang berjarak tidak terlalu jauh, hanya sekira 200 meter. (4) 

  • Peristiwa Tanjung Priok versi pemerintah


Menurut versi Pemerintah, massa bertindak anarkis, meski para korban yang bersaksi menolak pernyataan tersebut.

L.B. Moerdani beserta Pangdam Jaya Mayjen Try Sutrisno juga mengunjungi RSPAD, lokasi tempat korban luka-luka dirawat seadanya.

Umat Islam, beserta para tokoh masyarakat mengecam peristiwa tersebut. Para tokoh Islam seperti Syafrudin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap, Anwar Harjono, AM Fatwa hingga tokoh nasional seperti Hoegeng, Ali Sadikin, HR Dharsono menandatangani Lembar Putih 22 yang berisi keprihatinan tentang pernyataan sepihak dari pemerintah.

Lembar Putih 22 juga mengeluarkan kronologis dan fakta berbeda dari versi pemerintah. Mereka menyebut keterangan sepihak pemerintah sebagai “musibah dalam musibah. (3) 

Kemudian dalam buku Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, Soeharto mengatakan bahwa Peristiwa Tanjung Priok merupakan hasil hasutan sejumlah pemimpin di sana (Tanjung Priok).

Para pemimpin tersebut diduga melakukan provokasi dan menghasu rakyat untuk memberontak dengan menuntut pembebasan empat orang yang ditahan. (4) 

(TRIBUNNEWSWIKI/Ami Heppy)



Peristiwa Peristiwa Kerusuhan Tanjung Priok
Tanggal Kejadian 12 September 1984
   


Sumber :


1. historia.id
2. nasional.kompas.com
3. www.hidayatullah.com
4. tirto.id


Editor: haerahr






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved