Tayeba berani melakukan protes karena merasa perlu 'membela' dirinya sebagai Muslim.
Tayeba memutuskan untuk mengambil tindakan karena hal tersebut bukan pertama kalinya yang ia mengalami seperti dipinggirkan sebagai Muslim di mata kuliah tersebut.
Di minggu pertama, Tayeba mengaku teman mahasiswanya mengatakan ada "gerakan besar" di Inggris untuk memberlakukan hukum syariah yang "menakutkan", dan terdapat beberapa "ideologi ekstremisme yang lebih membahayakan daripada yang lain".
Tayeba mengakui bahwa dosennya seolah tidak campur tangan atau mencoba mengarahkan diskusi, saat ia berusaha membuat klaim Islamophobia atas pernyatan dosennya.
Dia merasa perlu "membela dirinya" sendiri sebagai seorang Muslim, yang menurutnya sesuatu yang biasanya tidak perlu dilakukan.
"Saya tidak melihat orang-orang di kelas bisa bekerja dengan orang-orang dari beragam latar belakang, jika mereka berbagi pemikiran yang bernuansa Islamofobia secara terang-terangan, justru mengompori pada pemikiran-pemikiran yang sudah cukup negatif di masyarakat."
Tayeba juga mengaku sempat ragu dan gugup saat membantah klaim dengan menyanggah dosennya.
"Saya khawatir dengan apa yang saya katakan sejak saat itu karena takut disangka sebagai seorang Muslim yang marah atau yang defensif."
"Saya merasa sangat gugup dengan kelas yang terus-terusan menargetkan saya dan orang lain mungkin akan merasakan hal yang sama."
Janji jadikan insiden sebagai 'katalis'
Direktur eksekutif Holmesglen Insititue, Mary Faraone, mengatakan lembaganya telah mengambil langkah-langkah untuk mengatasi masalah ini dan mencegah agar tidak terjadi lagi.
"Holmesglen menggunakan insiden ini sebagai katalis untuk meninjau lebih lanjut pengembangan profesionalnya dalam keanekaragaman, keamananan budaya, dan kompetensi dengan pendidik Institut," katanya.
"Kami menyambut baik masukan, penilaian, dan menindaklanjutinya dengan peningkatan ke arah lebih baik"
"Ini adalah upaya yang berkelanjutan dan kami ingin memastikan bahwa semua mahasiswa, staf, dan pemangku kepentingan yang lebih luas dari insitusi Holmesglen mempelajarinya secara inklusif dan dapat berkomitmen untuk sikap positif."
Pasca kejadian, Tayeba sedang mediasi dengan lembaga kampusnya.
Kendati demikian, ia tetap khawatir akan terisolasi ke depannya
"Saya pikir ada sesuatu yang salah secara sistematis yang membuat ini terjadi," katanya.
"Menurutku ini hanyalah puncak dari gunung es."
Baca: Tanggapan Komnas HAM saat Paspor Veronica Koman akan Dicabut: Itu Pelanggaran Hukum
Baca: Amnesty Internasional Nilai Penetapan Veronica Koman sebagai Tersangka adalah Bentuk Kriminalisasi
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)