Tak hanya itu, Professor Barton juga menolak klaim Brigitte tentang Muslim radikal.
"Ada sejumlah kecil orang yang mencari uang dari menjelek-jelekkan Islam dan Muslim, beberapa dari mereka berasal dari dunia akademis dan beberapa lainnya yang tidak," kata Professor Barton.
Mereka memilah-milih data untuk kepentingan politik dan mengambil kesimpulan dengan pendekatan yang tidak objektif
"Jadi, Anda menemukan misalnya ... pemungutan suara untuk pertanyaan yang seringkali diajukan di negara mayoritas Muslim, 'Apakah Anda mendukung hukum Islam?'
Bagi kebanyakan orang, (menurut Professor Barton) hak itu seperti menanyakan latar belakang Kristen, 'Apakah Anda mendukung Sepuluh Perintah Tuhan?'.
Maka jawabannya adalah 'tentu saja', anda tidak bisa mengatakan tidak.
Professor Barton mengemukakan bahwa hal tersebut tidak bisa kemudian disimpulkan bahwa mereka akan mendukung pemerintahan Islam.
"Seperti berkesimpulan mereka akan mendukung pemerintah Islam atau akan mendukung hukuman hudud [hukuman keras untuk pelanggaran agama termasuk rajam dan potong tangan]."
Bukan bahan pengajaran
Dalam korespondensi pertama Tayeba dengan pihak kampusya, seperti yang dilaporkan oleh ABC, pihak kampus mengatakan bahwa akan ada "kontekstualisasi dan diskusi" saat membahas materi di kelas.
Menurut Tayeba, masalah tersebut tidak dapat dibenarkan dengan memasukkannya ke dalam materi kuliah.
"Apa yang saya rasakan dari membaca materi tersebut adalah tidak ada ruang untuk mendisuksikannya secara objektif." ungkap Tayeba
Menurut Tayeba, materi tersebut justru seperti mengajari dan mendukung ide (bahwa ada radikalisme dalam agama) tersebut.
"Saya tidak benar-benar melihat konteks di mana ada 180 hingga 300 juta Muslim menjadi radikal".
"Saya katakan bahwa tidak ada konteks di mana Anda dapat menggunakan aktivis anti-Islam yang tidak akademis. Ini bukan sumber pengajaran di kelas" kata Tayeba.
"Tidak ada slide lain (dalam materi) yang bicara tentang Islamofobia, tidak ada sumber daya aktivis anti-Islamofobia. Anda menggunakan seorang aktivis anti-Islam (dalam pengajaran) dan kemudian memakai pernyataan ini. Saya tidak bisa berpikir, bahwa memang ada sesuatu yang ambigu di sana."
"Dalam kata-kata materi dosen itu sendiri, dikatakan, 'faktanya adalah 180 hingga 300 juta orang Muslim adalah radikal yang ingin menghancurkan dan membunuh'", ujar Tayeba.
Menurut Tayeba, pernyataan tersebut tidak ada ruang untuk interpretasi.
"Itu hanya sebuah pernyataan." kata Tayeba
Perlu Membela Diri