Materi Kuliah Sebut Ada 300 Juta Muslim Radikal, Mahasiswa Ini Laporkan Kampusnya ke Komisi HAM

Tayeba Quddus, salah seorang mahasiswa Holmesglen Insititute di Melbourne, melaporkan kampusnya karena materi perkuliahan yang mengandung kebencian


zoom-inlihat foto
tayeba-quddus.jpg
(ABC News: Mary Gearin)
Tayeba Quddus melaporkan kampusnya atas materi Islamofobia yang dibuat dalam slide pengajaran.


Tayeba Quddus mengakui bahwa dirinya berani mengangkat masalah ini karena kekhawatirannya terhadap mahasiswa Muslim lainnya.

Tayeba juga merasa bahwa banyak mahasiswa lain yang sudah menutup mulut mereka dari pandangan-pandangan yang dianggap negatif yang kerap dilontarkan mahasiswa lain atas nama kebebasan pendapat.

"Ini bukan tentang kebebasan berbicara atau mencoba mengawasi apa yang orang-orang katakan," katanya.

"Saya pikir ini lebih soal masalah dosen yang mempublikasikan materi yang menyebarkan ketakutan secara online, yang tidak memiliki bukti, serta fakta, dan ini tak sepantasnya diucapkan oleh seorang dosen".

Baca: Spesifikasi dan Varian Warna iPhone 11 yang Rilis Besok, Saksikan Live Streaming Peluncurannya!

Baca: Alasan Kenapa Kita Seharusnya Pakai Istilah ‘G30S’, Bukan ‘G30S/PKI’

Kampanye anti-Islam dikutip kuliah

Slide materi kuliah daring / online tersebut rencananya disampaikan dalam topik "mengelola keanekaragaman dalam lingkungan budaya yang kompeten".

Topik ini adalah bagian dari program sertifikasi dari institusi di bidang kepemudaan.

Dalam slide yang terkesan ofensif tersebut yang berjudul "Most Muslim Is Peace", terdapat sebuah tautan YouTube yang membawa para mahasiswa ke sebuah video yang diterbitkan tahun 2017, dan menampilkan aktivis anti-Islam terkemuka Brigitte Gabriel.

Brigitte merupakan pendiri ACT For America, sebuah organisasi yang oleh banyak kritikus, seperti Southern Poverty Law Centre, sebagai kelompok yang menyebarkan kebencian dan organisasi anti-Muslim terbesar AS.

Perempuan tersebut (Brigitte) pernah menulis jika "di dunia Muslim, mayoritasnya adalah ekstrim".

Ia juga sudah sering dituduh menyebarkan pandangan menyimpang tentang Islam.

Videonya yang telah tersebar di dunia maya tersebut, Brigitte mengklaim bahwa badan intelijen di seluruh dunia memperkirakan Muslim radikal berjumlah antara 15 hingga 25 persen.

"Itu artinya 75 persen dari mereka adalah Muslim yang damain," kata Brigitte Gabriel.

"Tapi ketika Anda melihat angka 15 hingga 25 persen dari populasi Muslim dunia, artinya ada 180 juta hingga 300 juta orang yang hendak menghancurkan peradaban barat."

Pada satu bagian slide yang menjadi bahan kuliah di Holmesglen Institute terdapat teks yang memuji pernyataan Brigitte dengan mengatakan "tanggapannya sangat sempurna".

"Faktanya adalah, 180 juta hingga 300 juta orang adalah radikal yang ingin menghancurkan dan membunuh. Anda tidak dapat mengabaikan angka-angka itu," kata-kata ini tertulis dalam materi kuliah tersebut.

Fakta dalam slide yang dikutip tidak benar

Dilaporkan oleh ABC yang melakukan komunikasi dengan Profesor Universitas Deakin, Greg Barton, pakar politik global Islam, mengatakan bahwa Gabriel adalah "tipe orang seperti Pauline Hanson di bidang penelitian".

Menurut Professor Barton (seperti dikutip dari ABC), orang-orang seperti Brigitte "tidak hanya Islamofobia, tetapi mereka membuat kesalahan dengan menggabungkan 1,8 miliar orang menjadi satu kelompok yang tidak berbeda atau mengklaim kebanyakan dari mereka mendukung rezim otoriter dan politik di negara mereka" .

"Dan itu jelas tidak akurat serta terdapat kesalahpahaman melihat penderitaan umat Islam di seluruh dunia, di mana orang-orang terjebak dengan pemerintah yang tidak mereka sukai. Akibatnya ada kelompok-kelompok radikal tetapi mereka tidak populer secara luas."





Halaman
1234
Editor: haerahr
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved