Warkop DKI

Warkop DKI yang sebelumnya bernama Warkop Prambors, dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro)


zoom-inlihat foto
warkop-dki.jpg
warkopdki.org
Warkop DKI

Warkop DKI yang sebelumnya bernama Warkop Prambors, dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro)




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Warkop DKI merupakan grup lawak legendaris Indonesia.

Warkop DKI yang sebelumnya bernama Warkop Prambors, dibentuk oleh Nanu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro).

Nanu, Rudy, Dono dan Kasino adalah mahasiswa Universitas Indonesia (UI), Jakarta.

Sedangkan Indro kuliah di Universitas Pancasila, Jakarta.

Usai Nanu dan Rudy mengundurkan, formasi trio Dono, Kasino dan Indro terus bertahan lama.

Warkop DKI
Warkop DKI (Instagram PECINTA WARKOP DKI)

Kini, Warkop DKI tinggal menyisakan Indro.

Dono dan Kasino telah meninggal dunia.

  • Sejarah


Awal kesuksesan Warkop DKI dimulai dari Obrolan Santai di Warung Kopi yg merupakan acara lawakan di Radio Prambors setiap Jumat 20.30 sampai 21.15.

Ide obrolan Warkop Prambors berawal dari dedengkot radio Prambors, Temmy Lesanpura.

Radio Prambors meminta Hariman Siregar, dedengkot mahasiswa UI untuk mengisi acara di Prambors.

Hariman pun menunjuk Kasino dan Nanu, sang pelawak di kalangan kampus UI untuk mengisi acara ini.

Ide ini pun segera didukung oleh Kasino, Nanu, dan Rudy Badil, lalu disusul oleh Dono dan Indro.

Rudy yang semula ikut Warkop saat masih siaran radio, tak berani ikut Warkop dalam melakukan lawakan panggung, karena demam panggung.

Dono pun awalnya saat manggung beberapa menit pertama mojok dulu, karena masih malu dan takut

Setelah beberapa menit, barulah Dono mulai ikut berpartisipasi dan mulai kerasan, hingga akhirnya terus menggila hingga akhir durasi lawakan.

Indro adalah anggota termuda, saat anggota Warkop yang lain sudah menduduki bangku kuliah, Indro masih pelajar SMA.

Pertama kali Warkop muncul di pesta perpisahan SMP IX yang diadakan di Hotel Indonesia.

Semua personil gemetar, alias demam panggung, dan hasilnya hanya bisa dibilang lumayan saja, tidak terlalu sukses.

Namun peristiwa di tahun 1976 itulah pertama kali Warkop menerima honor yang berupa uang transport sebesar Rp 20.000.

Uang itu dirasakan para personil Warkop besar sekali, namun akhirnya habis untuk menraktir makan teman-teman mereka.

Berikutnya mereka manggung di Tropicana.

Sebelum naik panggung, kembali seluruh personel komat-kamit dan panas dingin, tapi ternyata hasilnya kembali lumayan.

Baru pada acara Terminal Musikal (asuhan Mus Mualim), grup Warkop Prambors baru benar-benar lahir sebagai bintang baru dalam dunia lawak Indonesia.

Acara Terminal Musikal sendiri tak hanya melahirkan Warkop tetapi juga membantu memperkenalkan grup PSP (Pancaran Sinar Petromaks), yang bertetangga dengan Warkop.

Sejak itulah honor mereka mulai meroket, sekitar Rp 1.000.000 per pertunjukan atau dibagi empat orang, setiap personil mendapat no pek go ceng (Rp 250.000).

Mereka juga jadi dikenal lewat nama Dono Kasino Indro atau DKI (yang merupakan pelesetan dari singkatan Daerah Khusus Ibukota).

Ini karena nama mereka sebelumnya Warkop Prambors memiliki konsekuensi tersendiri. 

Selama mereka memakai nama Warkop Prambors, maka mereka harus mengirim royalti kepada Radio Prambors sebagai pemilik nama Prambors.

Maka itu kemudian mereka mengganti nama menjadi Warkop DKI, untuk menghentikan praktek upeti itu. (1)

  • Personel


Dari semua personil Warkop, mungkin Dono lah yang paling intelek, walau ini agak bertolak belakang dari profil wajahnya yang ‘ndeso’.

Dono bahkan setelah lulus kuliah menjadi asisten dosen di FISIP UI tepatnya jurusan Sosiologi.

Dono juga kerap menjadi pembawa acara pada acara kampus atau acara perkimpoian rekan kampusnya.

Kasino juga lulus dari FISIP.

Selain melawak, mereka juga sempat berkecimpung di dunia pencinta alam.

Hingga akhir hayatnya Nanu, Dono, dan Kasino tercatat sebagai anggota pencinta alam Mapala UI. (1)

  • Era Film, Televisi dan Proses Kreatif


Setelah puas manggung dan mengobrol di udara, Warkop mulai membuat film-film komedi yang selalu laris ditonton oleh masyarakat.

Dari filmlah para personil Warkop mulai meraup kekayaan berlimpah.

Dengan honor Rp 15.000.000 per satu film untuk satu grup, maka mereka pun kebanjiran uang, karena hampir tiap tahun mereka membintangi satu film di dekade 1980-an.

Malah beberapa tahun ada dua film Warkop sekaligus.

Mereka disebut-sebut sebagai artis dengan honor termahal masa itu.

Kelebihan Warkop dibandingkan grup lawak lain, adalah tingkat kesadaran intelektualitas para anggotanya.

Warkop DKI
Warkop DKI (Instagram PECINTA WARKOP DKI)

Karena sebagian besar adalah mahasiswa (yang kemudian beberapa menjadi sarjana), maka mereka sadar betul akan perlunya profesionalitas dan pengembangan diri kelompok mereka.

Ini dilihat dari keseriusan mereka membentuk staf yang tugasnya membantu mereka dalam mencari bahan lawakan.

Salah satu staf Warkop ini kemudian menjadi pentolan sebuah grup lawak, yaitu Tubagus Dedi Gumelar alias Miing Bagito.

Saat itu Miing mengaku bahwa ia ingin sekali menjadi pelawak, dan kebetulan ia diterima menjadi staf Warkop.

Kerjanya selain mengumpulkan bahan lawakan, melakukan survei lokasi (di kota atau daerah sekitar tempat Warkop akan manggung), kalau perlu melakukan pekerjaan pembantu sekalipun seperti menyetrika kostum para personil Warkop.

Ini dilakukan Miing dengan serius, karena ia sadar disinilah pembelajaran profesionalitas sebuah kelompok lawak.

Miing sempat ikut dalam kaset warkop dan film warkop, sebelum akhirnya membentuk kelompok lawak sendiri bersama didin (saudaranya) dan Hadi Prabowo alias Unang yang diberi nama Bagito (alias Bagi Roto).

Warkop DKI
Warkop DKI (Instagram PECINTA WARKOP DKI)

Dalam era televisi swasta dan menurunnya jumlah produksi film, DKI pun lantas memulai serial televisi sendiri.

Serial ini tetap dipertahankan selama beberapa lama walaupun Kasino tutup usia di tahun 1997.

Setelah Dono juga meninggal di tahun 2001, Indro menjadi satu-satunya personel Warkop.

Sedangkan Nanu sudah meninggal lebih lama karena sakit liver dan dimakamkan di TPU Tanah Kusir Jakarta. (1)

  • Diskografi
    • Kaset 01 Cangkir Kopi (warkop Live di Palembang/Plaju, masih ada Nanu)
    • Kaset 02 Warung Tenda (masih ada Nanu)
    • Kaset 03 Mana Tahan
    • Kaset 04 Gerhana Asmara (bersama Srimulat)
    • Kaset 05 Pengen Melek Hukum (Indro sebagai mahasiswa penyuluh hukum, Kasino, Dono sebagai warga)
    • Kaset 06 Pokoknya Betul - Ke Bali (Dono dan Indro pengen ke Bali, tanya ke Kasino yang orang Bali)
    • Kaset 07 Semua Bisa Diatur - Lurah Indro (Indro sebagai Lurah, Dono dan Kasino sebagai warga, featuring Mi'ing sebagai rakyat / petugas RSJ)
    • Kaset 08 Dokter Masuk Desa (Indro sebagai dokter baru masuk desa, Dono dan Kasino sebagai warga)
    • Kaset 09 Makin Tipis Makin Asyik (Indro sebagai pak Guru, Kasino dan Dono sebagai murid-murid)


  • Filmografi
    • Mana Tahaaan... (1979) bersama Nanu Mulyono, Elvy Sukaesih, Rahayu Effendi dan Kusno Sudjarwadi.
    • Gengsi Dong (1980) bersama Camelia Malik, Zainal Abidin dan M. Pandji Anom.
    • GeEr - Gede Rasa (1980) bersama Dorman Borisman, Ita Mustafa dan Itje Trisnawati.
    • Pintar Pintar Bodoh (1980) bersama Eva Arnaz, Debby Cynthia Dewi dan Dorman Borisman.
    • Manusia 6.000.000 Dollar (1981) bersama Eva Arnaz, Dorman Borisman dan Abdul Hamid Arief.
    • IQ Jongkok (1981) bersama Enny Haryono, Marissa Haque, dan Bokir.
    • Setan Kredit (1982) bersama Minati Atmanegara, Nasir dan Alicia Djohar.
    • Chips (1982) bersama Sherly Malinton, Tetty Liz Indriati dan M. Pandji Anom.
    • Dongkrak Antik (1982) bersama Meriam Bellina, Mat Solar dan Pietrajaya Burnama.
    • Maju Kena Mundur Kena (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us.
    • Pokoknya Beres (1983) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us.
    • Tahu Diri Dong (1984) bersama Eva Arnaz, Lydia Kandou dan Us Us.
    • Itu Bisa Diatur (1984) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka dan Aminah Cendrakasih.
    • Gantian Dong (1985) bersama Ira Wibowo, Lia Warokka, Leily Sagita dan Advent Bangun.
    • Kesempatan Dalam Kesempitan (1985) bersama Lydia Kandou, Nena Rosier, Lia Warokka, dan Kaharuddin Syah.
    • Sama Juga Bohong (1986) bersama Ayu Azhari, Nia Zulkarnaen, dan Chintami Atmanegara.
    • Atas Boleh Bawah Boleh (1986) besama Eva Arnaz, Dian Nitami dan Wolly Sutinah.
    • Depan Bisa Belakang Bisa (1986) bersama Eva Arnaz dan HIM Damsyik.
    • Makin Lama Makin Asyik (1987) bersama Meriam Bellina, Susy Bolle dan Timbul.
    • Saya Suka Kamu Punya (1987) bersama Doyok dan Didik Mangkuprojo.
    • Jodoh Boleh Diatur (1988) bersama Raja Ema, Silvana Herman dan Nia Zulkarnaen.
    • Malu-Malu Mau (1988) bersama Nurul Arifin, Suyadi dan Sherly Malinton.
    • Godain Kita Dong (1989) bersama Lisa Patsy, Ida Kusumah, Tarsan, dan Diding Boneng
    • Sabar Dulu Doong...! (1989) bersama Anna Shirley, Pak Tile dan Eva Arnaz.
    • Mana Bisa Tahan (1990) bersama Nurul Arifin, Zainal Abidin, Sally Marcellina, dan Diding Boneng
    • Lupa Aturan Main (1991) bersama Eva Arnaz, Fortunella, Hengky Solaiman, dan Diding Boneng
    • Sudah Pasti Tahan (1991) bersama Nurul Arifin dan Sherly Malinton.
    • Bisa Naik Bisa Turun (1992) bersama Kiki Fatmala, Fortunella, Fritz G. Schadt, Gitty Srinita, dan Diding Boneng
    • Masuk Kena Keluar Kena (1992) bersama Kiki Fatmala, Fortunella, Sally Marcellina, dan Diding Boneng
    • Salah Masuk (1992) bersama Fortunella, Gitty Srinita, Tarida Gloria dan Angel Ibrahim.
    • Bagi-Bagi Dong (1993) bersama Kiki Fatmala dan Inneke Koesherawati.
    • Bebas Aturan Main (1993) bersama Lella Anggraini, Gitty Srinita dan Diah Permatasari.
    • Saya Duluan Dong (1994) bersama Diah Permatasari, Gitty Srinita dan HIM Damsyik.
    • Pencet Sana Pencet Sini (1994) bersama Sally Marcellina, Pak Tile, Taffana Dewi, dan Diding Boneng


  • Ujung Kejayaan


Wafatnya Kasino

Pada tahun 1997 Kasino meninggal dunia.

Sebelum meninggal, Kasino sempat mewasiatkan agar kedua rekannya untuk tetap melanjutkan kiprah Warkop.

Wafatnya Dono

Kejayaa personel tersisa Warkop DKI tersebut tidak bertahan lama.

Pada akhir tahun 2001 Dono pun meninggal dunia akibat penyakit sesak napas yang sudah lama diidapnya.

Indro Warkop Terakhir

Kepergian alm. Dono menyisakan Indro seorang diri untuk terus mengibarkan bendera Warkop dalam kancah dunia hiburan tanah air.

Sebelum wafat, Dono juga sempat berpesan kepada Indro agar tetap meneruskan Warkop hingga akhir hayatnya. (2)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)



Informasi
Nama Grup Warkop DKI
Didirikan anu (Nanu Mulyono), Rudy (Rudy Badil), Dono (Wahjoe Sardono), Kasino (Kasino Hadiwibowo) dan Indro (Indrodjojo Kusumonegoro).
Formasi populer Dono, Kasino, Indro
   








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

Tribun JualBeli
© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved