Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Yang dimaksud dengan indeks harga di sini adalah harga rata-rata dari semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.


zoom-inlihat foto
ilustrasi-pergerakan-saham.jpg
Kontan/Yusuf Santoso
Ilustrasi pergerakan nilai saham

IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan. Yang dimaksud dengan indeks harga di sini adalah harga rata-rata dari semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - IHSG adalah singkatan dari Indeks Harga Saham Gabungan.

Yang dimaksud dengan indeks harga di sini adalah harga rata-rata dari semua saham yang ada di Bursa Efek Indonesia.

Kalau dalam bahasa Inggris IHSG ini disebut dengan Indonesia Composite Index, disingkat ICI, atau IDX Composite.

Kalau di Amerika Serikat ada namanya Dow Jones Industrial Average (DJIA).

Secara umur, DJIA ini merupakan indeks tertua yang ada di US dan masih aktif digunakan hingga saat ini. (1)

IHSG pertama kali diperkenalkan pada tanggal 1 April 1983.

Tapi, hari dasar perhitungan IHSG adalah tanggal 10 Agustus 1982 dengan nilai 100.

Suasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/6/2017).
Suasana pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (2/6/2017). (KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG)

Kalau IHSG merepresentasikan rata-rata dari seluruh saham di BEI, LQ45 hanya menghitung indeks untuk 45 saham unggulan yang cukup aktif.

Jakarta Islamic Index (JII) memuat 30 saham pilihan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI.

Indeks sektoral sesuai namanya memuat saham yang memiliki kesamaan bidang bisnis.

Sedangkan Indeks Individual, tentu saja satu saham saja.

Kompas-100 adalah indeks dari 100 saham yang diterbitkan para analis harian Kompas.

Sedangkan Bisnis-27 adalah indeks yang dirilis harian Bisnis Indonesia. (2)

  • Fungsi #


Indeks harga saham mempunyai tiga manfaat utama.

Yaitu: sebagai penanda arah pasar, pengukur tingkat keuntungan, dan tolok ukur kinerja portofolio.

1. Penanda Arah Pasar

Boleh dibilang, Indeks merupakan nilai representatif atas rata-rata dari sekelompok saham.

Karena menggunakan harga hampir semua saham di BEJ dalam perhitungannya, IHSG menjadi indikator kinerja bursa saham paling utama.

Gampangnya, jika ingin melihat kondisi bursa saham saat ini, kita tinggal melihat pergerakan angka IHSG.

Jika IHSG cenderung meningkat seperti yang terjadi akhir-akhir ini, artinya harga-harga saham di BEI sedang meningkat.

Sebaliknya, jika IHSG cenderung turun, artinya harga-harga saham di BEI sedang merosot.

Sekedar catatan, persentase kenaikan atau penurunan IHSG akan berbeda dibanding dengan kenaikan atau penurunan harga masing-masing saham.

Kadang ada kalanya peningkatan atau penurunan harga saham melebihi atau bahkan berlawanan dengan pergerakan angka IHSG.

2. Pengukur Tingkat Keuntungan

Misalnya kita dapat menghitung secara rata-rata berapa keuntungan berinvestasi di pasar saham.

Sekarang di tahun 2013, IHSG bernilai 4400. Lima tahun lalu IHSG bernilai 1400.

Kita dapat menghitung secara sederhana berinvestasi selama 5 tahun dari tahun 2008-2013 menghasilkan keuntungan (4400-1400)/1400*100% = 214%.

Secara rata-rata per tahun keuntungan berinvestasi di pasar saham adalah 214%.

Berarti per tahun 42,8%.

Angka tersebut belum termasuk keuntungan dari dividen.

3. Tolok ukur kinerja portofolio

Bila Anda memiliki reksadana atau portofolio saham, Anda bisa membandingkan kinerjanya dengan IHSG.

Misalnya dalam 5 tahun terakhir IHSG naik sebanyak 214%.

Kalau reksadana atau portofolio Anda kinerjanya di bawah angka tersebut, sebaiknya Anda perlu berganti strategi. (2)

  • Cara Hitung #


Secara umum, ada dua cara untuk menghitung indeks saham.

Cara pertama adalah dengan Price Weight / Simple Average.

Rumusnya adalah sebagai berikut:

Rumus Hitung IHSG
Rumus Hitung IHSG (Wikipedia Common)

P adalah harga saham.

Nd adalah nilai dasar, yaitu nilai yang dibentuk berdasarkan jumlah saham yang tercatat dalam suatu waktu tertentu.

Metode ini dipakai untuk menghitung indeks saham Dow Jones (Dow Jones Industrial Average/DJIA).

Jadi jumlah harga 30 saham langsung dibagi nilai dasar.

Indeks ini tidak menggunakan pembobotan pada masing-masing saham karena karena DJIA merupakan indeks 30 saham terpilih di bursa New York.

Sebanyak 30 saham yang masuk dalam DJIA diasumsikan telah memiliki bobot yang setara, sehingga penghitungan bobot dianggap tidak perlu lagi.

Sebagai catatan, 30 saham ini boleh dibilang mewakili setiap industri di Amerika Serikat (AS) dan memiliki likuiditas transaksi yang tinggi.

Cara kedua adalah dengan menggunakan Capitalization Weight / Weighted Average.

Cara inilah yang digunakan untuk menghitung IHSG dan S&P500.

Rumusnya adalah:

Cara untuk menghitung IHSG dan S&P500;
Cara untuk menghitung IHSG dan S&P500 (Wikipedia Common)

P adalah harga saham di pasar reguler.

Q adalah bobot atau jumlah masing-masing saham.

Nd adalah nilai dasar, yaitu nilai yang dibentuk berdasarkan jumlah saham yang tercatat dalam suatu waktu.

Nilai dasar ini bisa berubah jika ada aksi korporasi yang menyebabkan jumlah saham berkurang atau bertambah.

Sederhananya, setiap saham dihitung terlebih dahulu kapitalisasi pasarnya.

Kemudian dijumlahkan seluruh kapitalisasi pasar untuk semua saham, lalu dibagi dengan nilai dasar, kemudian dikalikan dengan 100.

Menurut informasi, kapitalisasi pasar yang dijumlahkan ini berbeda dengan nilai kapitalisasi pasar seluruh saham di BEI, karena ada saham-saham yang tidak perhitungkan dalam penghitungan indeks.

Kenapa demikian? Saham-saham yang tidak diperhitungkan ini menjadi rahasia BEI.

Pihak BEI memiliki kriteria sendiri atas saham-saham yang bisa dimasukkan dalam penghitungan IHSG. (2)

  • Efek Pembobotan #


Karena pembobotan tersebut, kenaikan atau penurunan IHSG sangat bergantung pada pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.

Karena itulah muncul istilah beberapa saham yang disebut-sebut sebagai motor penggerak IHSG.

Misalnya saham PR Astra Internasional (ASII) di tahun 2012 memiliki kapitalisasi pasar sebesar Rp 277,31 triliun.

Nilai ini merupakan 7% dari seluruh kapitalisasi pasar BEI sebesar Rp 3.916 triliun.

Dengan kapitalisasi pasar sebesar itu, kenaikan atau penurunan sedikit saja bisa memberi dampak lumayan pada IHSG.

Oleh sebab itu, jika IHSG naik atau turun tajam, dapat dipastikan perubahan tersebut didorong oleh kenaikan harga-harga saham berkapitalisasi besar atau yang lebih dikenal sebagai Big Cap. (2)

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)



Informasi
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)
Diperkenalkan 1 April 1983
Pengguna Bursa Efek Indonesia
Fungsi Penanda arah pasar
Pengukur tingkat keuntungan
Tolok ukur kinerja portofolio


Sumber :


1. analis.co.id
2. www.juruscuan.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved