Hari Ini Dalam Sejarah: 23 Agustus Jerman-Uni Soviet Menandatangani Pakta Molotov-Ribbentrop

Pada 23 Agustus 1939, Hitler dan Stalin menandatangani pakta non-agresi, yang disebut juga Pakta Molotov-Ribbentrop


zoom-inlihat foto
stalin.jpg
instagram.com/@gean_von_reinhard
Penandatangan Pakta Non-Agregasi Molotov-Ribbentrop (23 Agustus 1939)

Pada 23 Agustus 1939, Hitler dan Stalin menandatangani pakta non-agresi, yang disebut juga Pakta Molotov-Ribbentrop




  • Informasi


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pada 23 Agustus 1939, Hitler dan Stalin menandatangani pakta non-agresi, yang disebut juga Pakta Molotov-Ribbentrop.

Pakta Molotov-Ribbentrop merupakan sebuah perjanjian antara Jerman dan Uni Soviet sebagai salah satu bentuk aliansi yang khusus pada pengaturan non-agregasi dan pembagian wilayah secara rahasia antara Jerman dan Uni Soviet.

Dengan penandatanganan Pakta Molotov-Ribbentrop, Jerman dan Uni Soviet sepakat untuk tidak mengambil tindakan militer terhadap satu sama lain selama 10 tahun ke depan. (1) 

Menurut Pakta Molotov-Ribbentrop, Rusia akan memiliki kontrol atas Latvia, Estonia, dan Finlandia, sementara Jerman akan mendapatkan kontrol atas Lithuania dan Danzig.

Di dalam Pakta Molotov-Ribbentrop tersebut disebutkan wilayah Polandia akan dibagi menjadi tiga area utama.

Wilayah Warthland, yang berbatasan dengan Jerman akan dilampirkan langsung ke Reich Jerman, dan semua penduduk non-Jerman diusir ke timur.

Lebih dari 77.000 mil persegi tanah Polandia timur, dengan populasi lebih dari tiga belas juta akan menjadi wilayah Rusia.

Area pusat akan menjadi protektorat Jerman, yang diberi nama General Gouvernement, yang diperintah oleh otoritas sipil Jerman. (2) 

  • Latar Belakang


Uni Soviet tidak dapat mencapai kesepakatan keamanan kolektif dengan Inggris dan Prancis melawan Jerman Nazi, terutama pada saat Konferensi Munich pada bulan September 1938.

Pada awal 1939 Uni Soviet tidak memiliki sekutu untuk menghadapi prospek menentang ekspansi militer Jerman di Eropa Timur, untuk itu Uni Soviet mulai melakukan perubahan kebijakan-kebijakan.

Pada 3 Mei 1939, pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin memecat Menteri Luar Negeri Maksim Litvinov dan kemudian menggantikannya dengan Vyacheslav Mikhaylovich Molotov.

Vyacheslav Mikhaylovich Molotov kemudian langsung mulai melakukan negosiasi dengan Menteri Luar Negeri Jerman, Joachim von Ribbentrop.

Saat itu, Uni Soviet juga terus bernegosiasi dengan Inggris dan Prancis, tetapi pada akhirnya Stalin memilih untuk mencapai kesepakatan dengan Jerman.

Tujuan Uni Soviet adalah untuk berdamai dengan Jerman.

Baca: Hari Ini Dalam Sejarah 9 Agustus: Peristiwa Bom Nagasaki

Baca: Hari Ini dalam Sejarah 5 Agustus: Marilyn Monroe Ditemukan Meninggal Dunia

Selain itu Soviet juga bertujuan untuk mendapatkan waktu guna membangun kekuatan militer Soviet yang telah dilemahkan oleh pembersihan korps perwira Tentara Merah pada tahun 1937.

Sedangkan di pihak Nazi Jerman, tujuan Hitler dalam pakta non-agresi dengan Uni Soviet adalah agar pasukannya dapat menginvasi Polandia tanpa dihalangi oleh kekuatan besar seperti Sovit.

Selain itu, setelah itu Jerman berharap bisa menghadapi pasukan Perancis dan Inggris di barat harus menghadapi pasukan Soviet di timur secara bersamaan.

Kesepakatan Jerman-Uni Soviet adalah dengan ditandatanganinya Pakta Non-Agregasi Jerman-Soviet, atau disebut juga Pakta Non-Agregasi Nazi-Soviet, atau Pakta Molotov-Ribbentrop pada 23 Agustus 1939. (3) 

Dalam Pakta Molotov-Ribbentrop, kedua belah pihak dari Jerman dan Uni Soviet sepakat untuk:

Kedua belah pihak berkewajiban untuk menghentikan segala tindakan kekerasan, agresif, dan serangan satu sama lain, baik secara individu bersama dengan kekuatan lain.

Seandainya di salah satu pihak menjadi objek tindakan agresif oleh kekuatan ketiga, pihak lainnya tidak akan dengan cara apa pun memberikan dukungannya kepada kekuatan ketiga tersebut.

Pemerintah kedua Pihak pada Masa Depan akan di masa depan memelihara hubungan yang berkelanjutan satu sama lain untuk tujuan konsultasi dalam rangka bertukar informasi tentang masalah yang mempengaruhi kepentingan bersama mereka.

Baca: Hari Ini dalam Sejarah: 26 Juli 1847 Kemerdekaan Liberia

Kedua belah pihak yang berkontrak dilarang untuk berpartisipasi dalam kelompok atau kekuatan apa pun yang secara langsung atau tidak langsung ditujukan untuk melawan pihak lainnya.

Seandainya terjadi perselisihan atau konflik antara kedua pihak yang berkontrak maka kedua belah pihak harus menyelesaikan perselisihan tersebut melalui pertukaran pendapat atau jika perlu melalui pembentukan komisi arbitrase.

Perjanjian ini berlaku untuk jangka waktu sepuluh tahun, dengan ketentuan bahwa, sejauh salah satu pihak tidak memajukannya satu tahun sebelum berakhirnya periode ini, validitas Perjanjian ini secara otomatis akan diperpanjang selama lima tahun.

Perjanjian ini harus disahkan dalam waktu secepat mungkin dan dilakukan di Berlin, perjanjian akan mulai berlaku segera setelah penandatanganan.(2) 

(TRIBUNNEWSWIKI/Ami Heppy)

Jangan lupa subscribe official Youtube channel TribunnewsWiki



Nama Pakta Non-Agregasi Molotov-Ribbentrop
   


Sumber :


1. www.history.com
2. www.jewishvirtuallibrary.org
3. www.britannica.com








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2021 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved