Latar Belakang Sejarah #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Berdirinya Mangkunegaran ditandai dengan ditandatanganinya Perjanjian Salatiga antara Sunan Pakubuwana III dan Raden Mas Said.
Perjanjian tersebut dilaksanakan pada 17 Maret 1757, bertepatan dengan 5 Jumadil Awal tahun Alip Windu Kuntara, tahun Jawa 1638.
Perjanjian Salatiga juga disaksikan oleh perwakilan Sultan Hamengkubuwono I dan VOC.
Berdasarkan perjanjian ini, Raden Mas Said memerintah wilayah Kedaung, Matesih, Hanggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara, dan Kedu.
Posisi Mangkunegaran adalah sebagai kadipaten.
Meski demikian, Mangkunegaran adalah kadipaten yang otonom, independen dari Kasunanan dan Kasultanan.
Sebagai penguasa atau pemimpin Mangkunegaran, Raden Mas Said bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara Senopati Ing Ayudha Sudibyaningprang.
Dengan ini, nama Raden Mas Said selanjutnya lebih dikenal dengan nama Mangkunegara I.
Mangkunegara berkedudukan di Puro Mangkunegaran.
Puro Mangkunegaran sebenarnya merupakan tempat tinggal Mangkunegara, bukan keraton.
Hal tersebut tidak bisa lepas dari status Mangkunegaran sebagai sebuah kadipaten.
Ketika ditemui Reporter Tribunnewswiki, Abdi Dalem Pariwisata Mangkunegaran M.Ng Joko Pramodyo mengatakan, meski otonom terdapat lima hal yang tidak boleh dilakukan oleh Mangkunegaran.
Pertama, Mangkunegaran tidak boleh ada singgasana karena bukan sebagai raja.
Kedua, tidak boleh membangun Balai Winata.
Ketiga, alun-alun sepasang.
Keempat, dalam alun-alun juga tidak boleh ditanam dua pohon beringin.
Terakhir, Mangkunegaran tidak diperbolehkan melakukan eksekusi atau hukuman mati.
Setelah Kemerdekaan #
Pada 17 Agustus 1945, Republik Indonesia menyatakan kemerdekaan.
Pada waktu itu, Mangkunegaran menyatakan menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Dengan demikian, secara politik wilayah kekuasaan Mangkunegaran diambil alih oleh Pemerintahan Republik Indonesia.
M.Ng Joko Pramodyo mengatakan, kini Mangkunegaran berperan sebagai pusat kebudayaan.
Selain itu, baik adat maupun segi politik juga memiliki perbedaan.
Kekuasaan Adipati yang dulunya mutlak, sekarang menjadi bagian dari pemerintahan Indonesia.
Lokasi #
Puro Mangkunegaran terletak di Jalan Ronggowarsito No 83, keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta.
Lokasi ini mudah dijangkau dari berbagai tempat strategis di Kota Surakarta.
Jika pengunjung datang dari Jalan Slamet Riyadi, pengunjung hanya perlu berbelok ke Jalan Diponegoro.
Tetap lurus di Jalan Diponegoro, Pengunjung akan sampai di Jalan Ronggowarsito.
Pengunjung akan menjumpai gerbang untuk masuk ke Puro Mangkunegaran.
Wisata #
Kini, Puro Mangkunegaran juga dibuka sebagai destinasi wisata.
Pertama pengunjung perlu membeli tiket di loket wisata.
Harga tiket terbilang cukup terjangkau.
Wisatawan lokal hanya dikenakan biaya tiket sebesar Rp 10 ribu.
Sementara itu, wisatawan mancanegara akan dikenakan tarif sebesar Rp 20 ribu.
Dengan tiket tersebut, pengunjung akan diajak untuk tur keliling Puro Mangkunegaran.
Tidak perlu khawatir, Pengunjung akan ditemani seorang Tour Guide atau pemandu.
Meski wajib didampingi, jasa pemandu tidak termasuk dalam tiket.
Akan tetapi pihak pengelola juga tidak mematok biaya mengenai besaran tip yang harus diberikan.
Penjaga loket hanya menyarankan agar pemandu diberikan tip seikhlasnya.
Tur Keliling Puro Mangkunegaran #
Setelah membeli tiket, seorang pemandu akan langsung mendampingi pengunjung.
Di bagian depan, terdapat tiga bagian utama yaitu Pendopo Ageng, Paringgitan, dan Dalem Ageng.
Untuk melakukan tur ke tiga tempat tersebut, pengunjung diwajibkan untuk melepas alas kaki.
Pemandu akan memberikan sebuah tas plastik sebagai wadah untuk alas kaki.
Hal itu diperlukan mengingat jalan keluar tur wisata tidak sama dengan rute masuk.
1. Pendopo Ageng
Pendopo Ageng memiliki 108 tiang.
Seorang pemandu, Falentina Evi Febriani menjelaskan jumlah tersebut memiliki filosofi.
Angka 108 terdiri atas 1, 0, 8.
Ketiga angka tersebut apabila dijumlahkan hasilnya adalah sembilan.
Dalam kebudayaan Jawa, angka sembilan merupakan angka yang terbesar.
Soko Guru atau tiang utama Pendopo Ageng berjumlah empat tiang.
Jumlah empat mewakili unsur tanah, air, angin, dan api.
Keempat unsur tersebut merupakan unsur yang utama untuk kehidupan manusia.
Yang menjadikan Soko Guru ini unik, keempat tiang tersebut berasal dari satu pohon yang berasal dari Wonogiri.
Selain itu, sembilan juga menjadi lambang howo songo atau sembilan lubang yang ada pada manusia.
Lantai Pendopo Ageng terbuat dari marmer yang berasal dari Italia.
Ketika tahun 1866 Puro Mangkunegaran sempat terdampak banjir dari Sungai Bengawan Solo selama satu minggu.
Banjir tersebut mengakibatkan marmer yang sebelumnya berwarna putih menjadi tampak agak kecoklatan.
Menurut penuturan Falentina Evi Febriani, karakteristik marmer memang sulit dibersihkan apabila terkena noda.
Meski sempat dibersihkan, hal itulah yang membuat lantai Pendopo Ageng warnanya berubah menjadi seperti sekarang ini.
Bagian atap Pendopo Ageng dihiasi oleh berbagai lampu gantung.
Dulunya, lampu-lampu tersbeut dibeli oleh Istana Bogor dari Belanda.
Namun karena Istana Bogor sudah tidak muat, lampu tersebut dibeli oleh Mangkunegara IV.
Tepat di bagian tengat atap, dihasi oleh delapan lukisan yang disebut Kemodang.
Kedelapan lukisan tersebut memiliki warna dan filosofi yang berbeda satu dan yang lainnya.
Selain itu, di Pendopo Ageng terdapat tiga set gamelan.
Pertama, Gamelan Kiai Kanyut Mesem.
Gamelan ini merupakan gamelan yang paling tua di Puro Mangkunegaran.
Bahkan, sudah ada sebelum Puro Mangkunegaran didirikan.
Gamelan Kiai Kanyut Mesem hanya dimainkan ketika upacara-upacara penting seperti penobatan.
Kedua, Gamelan Kiai Lipur Sari.
Gamelan ini digunakan rutin setiap hari rabu untuk mengiringi tari.
Gamelan yang ketiga bernama Gamelan Seton.
Penamaan tersebut berdasarkan pada jadwal memainkannya, yaitu setiap hari sabtu.
Berbeda dengan Gamelan Kiai Lipur Sari, Gamelan Seton hanya dimainkan berupa instrumen saja, tidak diiringi tarian.
Pada hari-hari biasa, ketiga set gamelan tersebut ditutup menggunakan kain.
Hal itu dilakukan untuk melindungi gamelan dari debu dan kotoran.
2. Paringgitan
Paringgitan terletak di sebelah Pendopo Ageng.
Penamaan Paringgitan berasal dari penggunaan atau pemanfaatan tempat ini.
Ringgit memiliki arti wayang.
Artinya, Paringgitan merupakan sebuah tempat untuk mementaskan wayang di Puro Mangkunegaran.
Dinding Paringgitan dihiasi oleh foto Mangkunegara IX beserta istri, karya Darwis Triadi.
Selain itu, juga terdapat lukisan Mangkunegara VII dan Mangkunegara VIII beserta istrinya.
3. Dalem Ageng
Dalem Ageng merupakan ruangan terusan dari Paringgitan.
Jika dilihat dari luar, Dalem Ageng merupakan ruangan utama, sedangkan Paringgitan memanfaatkan bagian depannya (semacam teras atau bale).
Dalem Ageng difungsikan sebagai museum.
Dalem ageng menyimpan berbagai barang peninggalan Mangkunegara.
Meski demikian, Dalem Ageng masih digunakan untuk acara-acara Mangkunegaran.
Karenanya, pengunjung tidak diperkenankan untuk mengambil dokumentasi di Dalem Ageng.
Keluar dari Museum atau Dalem Ageng, pengunjung akan menuju ke Bale Warni.
Di kawasan ini, pengunjung akan menjumpai satu set meja dan kursi yang digunakan untuk acara tertentu.

Selain itu juga terdapat sebuah taman.
Di bagian tengah taman tersebut dihiasi dengan air mancur.
Pengunjung juga akan menjumpai Pracimoyoso.
Pracimoyoso merupakan tempat yang digunakan untuk acara keluarga Mangkunegara.
Di sebelah kanan terdapat Bale Peni.
Kawasan ini tidak boleh dikunjungi (private area) karena menjadi tempat tinggal bagi Mangkunegara IX beserta keluarga.
Di akhir tur, pengunjung akan menjumpai art shop.
Di sini pengunjung dapat membeli suvernir yang ditawarkan.
Art shop merupakan bagian terakhir dari tur wisata di Puro Mangkunegaran.
Artikel ini ditulis berdasarkan informasi di laman resmi dan liputan lapangan di Puro Mangkunegaran, Senin (19/8/2019).
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)
| Nama | Pura Mangkunegaran |
|---|
| Kategori | Tempat Bersejarah |
|---|
| Alamat | Jalan Ronggowarsito No 83, keprabon, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta |
|---|
| Fungsi | Tempat Tinggal Mangkunegara (Sekarang Mangkunegara IX) |
|---|
| Maps | https://goo.gl/maps/sg9vKxbyJM7ynLa46 |
|---|