17 AGUSTUS - Seri Tokoh Nasional: Syarif Hamid

17 Agustus : Syarif Hamid adalah tokoh nasional yang menciptakan lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila


Natalia Bulan Retno Palupi

17 AGUSTUS - Seri Tokoh Nasional: Syarif Hamid
nationaalarchief.nl
Sosok tokoh nasional, Syarif Abdul Hamid Alkadrie pencipta lambang negara Indonesia Garuda Pancasila 

17 Agustus : Syarif Hamid adalah tokoh nasional yang menciptakan lambang negara Indonesia, Garuda Pancasila




  • Riwayat Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM -  Syarif Abdul Hamid Alkadrie atau Sultan Hamid II dan dikenal dengan Syarif Hamid, lahir di Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913 dan wafat di Jakarta, 30 Maret 1978.

Syarif Hamid adalah Perancang Lambang Negara Indonesia, Garuda Pancasila.

Syarif Hamid adalah putra sulung Sultan Pontianak ke-6, Sultan Syarif Muhammad Alkadrie.

Syarif Hamid merupakan keturunan Arab-Indonesia.

Syarif Hamid memilki istri seorang perempuan Belanda dan memiliki dua orang anak. (1)

Syari Hamid bersama sang istri,
Syarif Hamid bersama sang istri, Merie Van Delden (gramha.net)


Baca: Gedung Pancasila

Baca: 17 AGUSTUS – Ternyata Ini Makna dan Filosofi di Balik Logo HUT Ke-74 Kemerdekaan RI

  • Pendidikan


Sejak usia 40 hari Syarif Hamid diangkat oleh seorang Skotlandia, Salome Catherine Fox sebagai anak.

Pada usia tujuh tahun, Syarif Hamid pindah ke Batavia bersama sang Ibu angkat.

Syarif Hamid mengawali pendidikan di sekolah dasar Europeesche Lagere School (ELS).

Setelah lulus dari ELS Syarif Hamid melanjutkan di Hoogere Burgerschool (HBS).

Syarif Hamid kemudian melanjutkan ke Techniche Hoge School (THS) atau sekarang bernama Institut Teknologi Bandung (ITB).

Setelah lulus dari THS, Syarif Hamid meneruskan ke Koninklijk Militaire Academie (KMA) di Breda, Belanda.

Syarif Hamid kemudian mendapatkan pangkat letnan dalam kesatuan tentara Hindia Belanda.

Setelah lulus pada tahun 1937, Syarif Hamid dilantik menjadi perwira Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL) dengan pangkat Letnan Dua. (2)

Tokoh nasional, Syarif Hamid
Tokoh nasional, Syarif Hamid (alchetron.com)

  • Karier dan Perjuangan


Selama menjadi perwira KNIL Syarif Hamid pernah bertugas di Malang, Bandung, Balikpapan, dan beberapa tempat lain di Pulau Jawa.

Ketika Jepang mengalahkan Belanda dan sekutu pada 10 Maret1942, Syarif Hamid ditawan.

Kemudian Syarif Hamid dibebaskan ketika Jepang menyerah kepada sekutu sekaligus mendapat kenaikan pangkat menjadi kolonel.

Pangkat tersebut merupakan pangkat tertinggi yang pernah diberikan kepada putera Indonesia.

Ketika sang Ayahnya wafat akibat agresi Jepang, pada 29 Oktober 1945 Syarif Hamid diangkat menjadi sultan Pontianak dengan gelar Sultan Hamid II.

Dalam perjuangan federalisme, Sultan Hamid II pernah memperoleh jabatan penting sebagai wakil daerah istimewa Kalimantan Barat.

Syarif Hamid juga terlibat  dalam perundingan Malino, Denpasar, BFO, BFC, IJC dan Konferensi Meja Bundar (KMB) di Indonesia dan Belanda.

Syarif Hamid kemudian memperoleh jabatan Ajudant in Buitenfgewone Dienst bij HN Koningin der Nederlanden, yaitu pangkat tertinggi sebagai asisten ratu Kerajaan Belanda.

Pada 17 Desember 1949, Syarif Hamid diangkat oleh Ir. Sukarno menjadi menteri di Kabinet RIS.

Kabinet tersebut dipimpin oleh Perdana Menteri Mohammad Hatta beserta 11 anggota berhaluan Republik dan lima anggota berhaluan Federal.

Pemerintahan tersebut berumur pendek karena adanya perbedaan pendapat dan kepentingan yang bertentangan antara golongan Unitaris dan Federalis. (3)

Syarif Hamid bersama Ir Sukarno
Tokoh nasional, Syarif Hamid bersama Ir Sukarno (tribunnews.com)

Ketika menjabat sebagai Menteri RIS, Syarif Hamid ditugaskan oleh Ir. Sukarno untuk merencanakan, merancang, dan merumuskan lambang negara.

Pada 10 Januari 1950 dibentuk Panitia Teknis dengan nama Panitia Lencana Negara di bawah koordinator Menteri Negara Zonder Portofolio Syarif Hamid .

Muhammad Yamin sebagai ketua Panitia Teknis, beranggotakan Ki Hajar Dewantoro, M. A. Pellaupessy, Mohammad Natsir, dan R.M. Ngabehi Poerbatjaraka.

Tugas Panitia Teknis adalah menyeleksi usulan rancangan lambang negara untuk dipilih kemudian diajukan kepada pemerintah.

Terpilih dua rancangan lambang negara terbaik, yaitu karya Syarif Hamid dan karya M. Yamin.

Karya Syarif Hamid dipilih dan diterima pemerintah dan DPR. (4)

Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Syarif Hamid, berbentuk garuda tradisional bertubuh manusia
Rancangan awal Garuda Pancasila oleh Syarif Hamid, berbentuk garuda tradisional bertubuh manusia (wikimedia.org)

Setelah rancangan terpilih, Syarif Hamid, Ir. Sukarno, dan Mohammad Hatta, terus melakukan penyempurnaan rancangan lambang negara tersebut.

Langkah penyempurnaan tersebut di antaranya pita yang dicengkeram Garuda ditambahkan kalimat 'Bhinneka Tunggal Ika'.

Pada 8 Februari 1950, rancangan final lambang negara diajukan kepada Ir. Sukarno.

Partai Masyumi meminta dilakukan sedikit perubahan karena tangan dan bahu manusia yang memegang perisai dianggap bersifat mitologis.

Oleh karena itu Syarif Hamid melakukan perubahan berdasarkan aspirasi Masyumi sehingga tercipta Garuda Pancasila menggunakan tubuh burung Rajawali.

Ir. Sukarno memperkenalkan Garuda Pancasila untuk pertama kalinya kepada masyarakat di Hotel Des Indes, Jakarta pada 15 Februari 1950.

Penyempurnaan Garuda Pancasila kembali diupayakan, yaitu kepala Rajawali kini memiliki jambul.

Garuda Pancasila tanpa jambul
Garuda Pancasila tanpa jambul (wikimedia.org)

Bentuk cakar kaki yang mencengkram pita dari semula menghadap ke belakang telah diubah menghadap ke depan.

Pada 20 Maret 1950, bentuk final lambang negara dilukis oleh pelukis negara Dullah,  dan dipergunakan secara resmi hingga sekarang.

Pada 26 Agustus 2016, Garuda Pancasila disahkan menjadi Benda Cagar Budaya Nasional, melalui Surat Keputusan (SK) Nomor 204 Tahun 2016 yang ditandatangani oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,Muhajir Effendi.

Syarif Hamid wafat pada 30 Maret 1978 di Jakarta dan dimakamkan di Pemakaman Keluarga Kesultanan Pontianak di Batulayang. (4)

(TRIBUNNEWSWIKI/Magi)



Nama Sultan Syarif Muhammad Alkadrie
Lahir Pontianak, Kalimantan Barat, 12 Juli 1913
Wafat Jakarta, 30 Maret 1978
Keluarga
Ayah Muhammad Alkadrie
Ibu Syecha Jamilah
Istri Merie Van Delden
Anak Syarifah Zahra Alkadrie (Edith Hamid)
Syarif Yusuf Alkadrie (Max Nico)


Sumber :


1. list-biography.blogspot.com
2. web.archive.org
3. info-biografi.blogspot.com
4. el-zeno.blogspot.com


Editor: Natalia Bulan Retno Palupi






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved