17 AGUSTUS - Tokoh Jepang: Ichiki Tatsuo

Seusai Jepang mengakui kekalahannya terhadap Sekutu, beberapa orang Jepang di Indonesia turut membantu berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Ichiki Tatsuo.


17 AGUSTUS - Tokoh Jepang: Ichiki Tatsuo
(https://japanesestation.com)
Ichiki Tatsuo 

Seusai Jepang mengakui kekalahannya terhadap Sekutu, beberapa orang Jepang di Indonesia turut membantu berjuang dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Ichiki Tatsuo.




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM -   Seusai Jepang menyerah pada Sekutu, orang Jepang di Indonesia turut membantu perjuangan Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan.

Satu di antaranya adalah Ichiki Tatsuo.

Ichiki Tatsuo lahir di kota kecil Taraki, prefektur Kumamoto, bagian selatan Kyushu.

Belum ditemukan kapan tanggal kelahiran dari Ichiki Tatsuo.

Ichiko tercatat ikut membantu dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Dikutip dari artikel Historia.id, (20/8/2014), yang ditulis oleh Hendri F. Isnaeni berjudul, 'Kekecewaan Seorang Jepang', diterangkan seputar Ichiki Tatsuo yaitu kehidupan masa kecil, masa keberpihakan kepada Indonesia dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. [1]

  • Ichiki Tatsuo: Kehidupan Masa Kecil


Ichiki Tatsuo adalah anak ketiga dari enam bersaudara.

Ketika kecil, orangtua Ichiki Tatsuo bercerai, kemudian ikut ibunya.

Ichiki selanjutnya dibesarkan saat Jepang berada pada masa transisi.

Banyak pemuda desa seperti juga Ichiki bercita-cita mencari kehidupan baru di Amerika Selatan atau Samudra Pasifik bagian selatan, yaitu Asia Tenggara.

Pada akhirnya, Ichiki Tatsuo mendapat kesempatan itu.

Saat berusia 21 tahun, Ichiki Tatsuo mendapat surat dari temannya, Tsuruoka Kazuo yang sukses mendirikan toko kelontong yang dikenal dengan sebutan toko Jepang di Kota Pagar Alam, dekat Palembang, Sumatra Selatan.

Isi dari surat itu adalah mengundang Ichiki datang dan bekerja di studio foto Miyahata di Palembang.

Ichiki Tatsuo kemudian meninggalkan bangku sekolah menengah sebelum lulus dan magang di sebuah studio foto dekat kampungnya.

Pada tanggal 22 Januari 1928, Ichiki Tatsuo berangkat ke Palembang. [2]

  • Ichiki Tatsuo: Riwayat Pekerjaan


Dalam buku karangan Goto 'Life and Death of Abdul Rachman (1906-49): One Aspect of Japanese-Indonesian Relationships Indonesia Vol 22', 1976 yang dikutip dalam artikel Historia.id, (20/8/2014) dan ditulis oleh Hendri F. Isnaeni berjudul, 'Kekecewaan Seorang Jepang' diterangkan bahwa pihak Jepang mengirim spionase dengan tujuan memakmurkan bangsanya.

"Dia (Ichiki) bermimpi menjalankan studio foto terbesar di Samudra Pasifik bagian selatan," tulis Goto.

Pada tahun 1933, Ichiki datang ke Bandung karena saudaranya, Naohiro yang menyusulnya pada akhir 1929, meninggal dunia.

Selanjutnya Ichiki tak kembali lagi ke Palembang namun menetap di Bandung dan bekerja di studio foto.

Merasa tak nyaman bekerja di studio foto, Ichiki Tatsuo kemudian menjadi kondektur bus.

Tak cocok dengan kondektur bus, Ichiki Tatsuo meninggalkan pekerjannya dan tinggal di rumah Iti, perempuan dari keluarga miskin di sebuah kampung di Sumedang.

Di sini, Ichiki Tatsuo menemukan kedamaian, bahkan merasa hampir sepenuhnya sebagai orang Indonesia.

Dituliskan dalam buku bahwa momentum ini adalah kelahiran baru dari Ichiki Tatsuo.

Kehidupan keras di kampung, membuat Ichiki mempelajari Bahasa Indonesia hingga menyusun kamus Indonesia-Jepang.

Kendati demikian, Ichiki tetap mengikuti perkembangan politik di Jepang.

Sebagai bentuk manifestasinya, Ichiki Tatsuo sering pergi ke klub Jepang di Bandung.

Ichiki Tatsuo juga melahap koran dan majalah Jepang.

Ichiki tercatat pernah menerjemahkan artikel dengan topik 'semangat Jepang Bushido' lalu menjual tulisan tersebut di koran-koran lokal.

Seorang pemimpin senior klub Jepang di Bandung, Machida Taisaku merekomendasikan Ichiki ke koran Nichiran Shogyo Shinbun, yang dijalankan Kubo Tatsuji, seorang advokat pendukung Asianisme.

Koran ini kemudian bergabung dengan Jawa Nippo dan berubah nama menjadi Toindo Nippo (Harian Hindia Timur) yang anti-Belanda.

Pemerintah Hindia Belanda menganggap Jepang sebagai ancaman dan kemudian membuat kebijakan untuk meningkatkan pengawasan terhadap kegiatan Ichiki dan kawan-kawannya.

Pada tahun 1938, untuk menjalankan proyek Toindo Nippo lebih maksimal, Ichiki kembali ke Tokyo.

Namun, sebelum berangkat ke Indonesia, Ichiki menerima telegram dari Belanda di Batavia.

Isi telegram tersebut adalah melarang Ichiko masuk kembali ke Jawa karena kegiatan anti-Belandanya di jurnalistik.

Ichiki kemudian bekerja sebagai peneliti paruh waktu di Biro Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri dan di Staf Umum Angkatan Darat. [3]

  • Ichiki Tatsuo: Masa Keberpihakan ke Rakyat Indonesia


Pada kurun waktu 1940-an, Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda secara bertahap memperkuat embargo ekonomi kepada Jepang.

Hal tersebut membuat Jepang begitu bergantung pada Indonesia.

Dalam buku Ricklefs berjudul 'Sejarah Indonesia Modern 1200-2008' yang dikutip dalam artikel Historia.id, (20/8/2014) yang ditulis oleh Hendri F. Isnaeni berjudul, 'Kekecewaan Seorang Jepang' diterangkan bahwa pada saat itu, pemimpin-pemimpin Jepang mulai membicarakan secara terang-terangan ‘pembebasan’ Indonesia.

Ichiki berteman dekat dengan Joseph Hassan, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang secara diam-diam dikirim ke Jepang.

Setelah mengalahkan Belanda pada Maret 1942, Jepang disambut dengan suka cita sebagai saudara tua.

Di Indonesia, pihak Jepang segera melarang berbagai aktivitas politik.

Momen tersebut membuat Ichiki kecewa.

Pada sesi pertemuan Majelis Perwakilan Tertinggi Jepang pada awal 1943, Perdana Menteri Hideki Tojo menyebutkan akan memberikan kemerdekaan bagi Filipina dan Burma di akhir tahun 1943, namun nama Indonesia tidak disebut.

Momen ini membuat Ichiki frustasi dan perlahan membenci negerinya sendiri.

Pada Oktober 1943, Jepang membentuk Pembela Tanah Air (PETA).

Ichiki bekerja sebagai petugas paruh waktu di Divisi Pendidikan Peta di Bogor dan membangun sebuah rumah terpencil di perkebunan karet serta menyebut dirinya yang berkulit agak gelap sebagai 'gagak dari Bogor'.

Ichiki menjadi penerjemah untuk tentara Jepang dan menjadi editor majalah Heiho, Pradjoerit.

Melalui karyanya, Ichiko merasa punya andil dalam melayani masyarakat Indonesia.

Tatsuo Ichiki tercatat pernah menjadi Pemimpin Redaksi Asia Raya.

Pada tanggal 15 Agustus 1945, berita kekalahan Jepang didengar Ichiki.

Dalam hal ini, Ichiki merasa Jepang telah mengkhianati rakyat Indonesia dua kali: pada awal dan akhir pendudukan.

Di hari di mana Jepang menyerah, Ichiki menyatakan berpisah dengan Jepang.

Selanjutnya, Ichiki menentang tentara Sekutu dan pendaratan pasukan Belanda. [4]

  • Ichiki Tatsuo: Masa Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan


Iciki Tatsuo selanjutnya berjuang bersama rakyat Indonesia, bukan sebagai seorang Jepang namun sebagai pemuda Abdul Rachman.

Ichiki Tatsuo diberi nama Abdul Rachman oleh H. Agus Salim ketika menjadi penasihat Divisi Pendidikan Peta.

Hal tersebut sebagai bentuk penghargaan kepada tokoh Jepang yang memihak republik.

Pada waktu perang kemerdekaan, Abdul Rachman memimpin Pasukan Gerilya Istimewa di Semeru, Jawa Timur.

Pasukan yang dibentuk pada 1948 ini merupakan satuan khusus di bawah militer Indonesia yang beranggotakan sekira 28 orang tentara Jepang yang bersimpati pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada 9 Januari 1949, di Desa Dampit dekat Malang Jawa Timur, Abdul Rachman berlari ke depan melawan arus peluru Belanda untuk mendorong pasukan Indonesia, yang kemudian beberapa peluru Belanda mengenai dirinya.

--

Presiden Sukarno pada tanggal 15 Februari 1958 menyerahkan sebuah teks kepada Shigetada Nishijima untuk disimpan di Biara Buddha Shei Shoji di Minatoku, Tokyo.

Teks tersebut berisi kenangan Sukarno kepada dua orang tokoh Jepang yang membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia: Ichiki Tatsuo dan Yoshizumi Tomegoro.

Di Biara Buddha itu kemudian dibuat monumen Sukarno yang bertuliskan: "Kepada sdr. Ichiki Tatsuo dan sdr. Yoshizumi Tomegoro. Kemerdekaan bukanlah milik suatu bangsa saja, tetapi milik semua manusia. Tokyo, 15 Februari 1958. Soekarno." [5]

--

Tribunnewswiki.com terbuka dengan data dan sumber baru serta usulan perubahan untuk memperkaya informasi.

--

(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Dinar Fitra Maghiszha)

JANGAN LUPA SUBSCRIBE CHANNEL YOUTUBE TRIBUNNEWSWIKI.COM



Informasi Detail
Nama Ichiki Tatsuo
Nama Lain Abdul Rachman
Lahir Taraki, prefektur Kumamoto, bagian selatan Kyushu.
Wafat 9 Januari 1949, di desa Dampit dekat Malang, Jawa Timur
Riwayat Pekerjaan
Magang - Studio foto
Pekerja - Studio foto
Kondektur Bus
Penulis Toindo Nippo
Peneliti paruh waktu di Biro Asia Pasifik Kementerian Luar Negeri
Staf Umum Angkatan Darat
Penerjemah Tentara Jepang
Editor majalah Heiho bernama Pradjoerit


Sumber :


1. historia.id
2. historia.id
3. historia.id
4. historia.id
5. historia.id








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved