TRIBUNNEWSWIKI.COM - Bagi jemaah haji, wukuf di Arafah adalah mutlak dijalankan, lalu bagaimana cara agar tetap bugar selama dan sesudah pelaksanaan puncah ibadah itu?
Seperti diketahui, Haji adalah Arafah.
Tanpa wukuf di Padang Arafah, niscaya hajinya tidak sah.
Kementerian Kesehatan selalu mengimbau kepada para jemaah haji untuk menjaga kondisi kesehatannya.
Baik sebelum, selama maupun sesudah pelaksanaan puncak haji di Arafah, Muzdalifah dan Mina (Armuzna).
Dengan demikian, maka ibadahnya akan lebih sempurna.
Apalagi, cuaca di Arab Saudi kerap kali berubah secara drastis.
Dari pantauan terbaru Tribunnewswiki.com dari Google Weather, cuaca di Riyadh mencapai 35 derajat celcius.
Jemaah haji Indonesia harus pintar-pintar menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Dikutip dari Kompas.com, bidang Kesehatan Panitia Penyelenggara Haji Indonesia (PPIH) membagi kiat dan bersama tim kesehatan berupaya mengedukasi jemaah agar tetap fit dan senantiasa waspada dengan cuaca ekstrem di Arab Saudi.
Pertama, jangan memaksakan diri.
Kendalikan aktivitas, jangan sampai kelebihan aktivitas.
Biasanya jemaah haji yang datang, terlalu bersemangat untuk ibadah.
Melakukan berbagai kegiatan yang disunnahkan, seperti shalat arbain, tadarusan dan itikaf di masjid Nabawi maupun Al-Haram, sehingga lupa menjaga kesehatan mereka.
Padahal, yang terpenting adalah menjaga kondisi agar tetap fit sampai puncak haji di Arafah.
Rata-rata denyut nadi maksimal seseorang 200 per menit dikurangi usia masing-masing.
Namun, denyut nadi maksimal tersebut hanya bisa dicapai biasanya oleh orang yang terlatih kebugarannya seperti atlet dan tentara.
Karena itu, jemaah dianjurkan melakukan olahraga secara rutin sebelum berhaji agar daya tahannya terhadap kelelahan meningkat.
Lalu, banyak minum air zam-zam dan makan kurma, seperti yang disunnahkan Nabi Muhammad SAW.
Air minum biasa maupun air zam-zam memiliki khasiat untuk menekan dehidrasi atau kekurangan cairan dalam tubuh.
Dehidrasi, bisa menjadi pintu masuk berbagai penyakit.
Maka jemaah diimbau agar meminum air paling sedikit dua liter per hari atau bahkan lebih di tengah suhu yang sangat panas di Mekah maupun Madinah.
Tanda-tanda orang terkena dehidrasi antara lain disorientasi dan susah fokus, dan dalam tingkat tertentu akan tampak seperti orang kena gangguan jiwa.
Karena itulah, diperkirakan akibat dehidrasi, banyak jemaah tersesat dan nyasar ketika pulang ibadah.
Hal ketiga yang harus diperhatikan jemaah agar tetap sehat selama di Tanah Suci adalah perilaku hidup bersih dan sehat (PBHS).
Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir sesering mungkin.
Kemudian, pilihlah rute melempar jamarat yang aman dan sudah direkomendasikan oleh petugas haji Indonesia.
Yaitu rute yang melalui tenda-tenda jemaah Indonesia dan masuk melalui terowongan.
Di jalur tersebut tersebar petugas dan pos kesehatan.
Sedangkan jalur lainnya tidak ada perlindungan petugas atau pos kesehatan, yang dapat berbahaya jika dilewati jemaah Indonesia.
Jabal Rahmah
Padang Arafah semakin dipadati jemaah haji dari seluruh dunia. Jabal Rahmah menjadi tempat favorit jemaah. Mengapa?
Pantauan tribunnews di pegunungan ini semakin malam semakin ramai dikunjungi para jemaah haji yang datang ke gunung tersebut dengan jalan kaki.
Bahkan tak sedikit jemaah haji tersebut berasal dari Indonesia, seolah-olah mereka tak kenal waktu mendaki Jabal Rahmah saat dini hari.
Sebagian besar jemaah yang datang ke Jabal Rahmah memang berasal dari jemaah haji selain Indonesia.
Mereka berbondong-bondong datang dengan membawa berbagai perlengkapan mulai dari alas tidur hingga beberapa makanan.
Tampaknya para jemaah haji ini mengincar posisi wukuf di Jabal Rahmah.
Mengapa Jabal Rahmah diincar hingga menjadi lokasi wukuf terpavorit bagi jemaah?
Jabal Rahmah sebagaimana diketahui adalah pegunungan yang diyakini sebagai tempat bertemu Nabi Adam dan Hawa setelah terpisah ratusan tahun usai keduanya dikeluarkan dari surga dan diturunkan ke bumi.
Tak heran, jika suasana malam di Jabal Rahmah sangat ramai.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/PUTRADI PAMUNGKAS)