Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pertempuran 10 November di Surabaya atau sering disebut juga Pertempuran Surabaya merupakan salah satu pertempuran terbesar yang terjadi pascakemerdekaan Indonesia.
Pertempuran 10 November yang berlangsung pada 10 November 1945 ini melibatkan pasukan Indonesia melawan pasukan Sekutu.
Pertempuran 10 November juga tidak bis dilepaskan dari peristiwa sebelumnya yaitu perebutan kekuasaan dan senjata tentara Jepang.
Perebutan senjata itu sudah terjadi sejak 2 September 1945.
Pertempuran 10 November kemudian diperingati setiap tahunnya sebagai hari pahlawan. (1)
Baca: 17 AGUSTUS – Insiden Hotel Yamato
Baca: Bandung Lautan Api
Latar Belakang #
Pertempuran 10 November tidak dapat dilepaskan dari kedatangan pasukan Sekutu di Surabaya.
Sebelumnya, setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, para pemuda Surabaya berhasil menguasai senjata milik tentara Jepang.
Gerakan pemuda Surabaya juga sudah diorganisir sedemikian rupa sehingga siap menghadapi berbagai ancaman yang datang dari manapun.
25 Oktober 1945, Brigade 49 dari Divisi 23 Sekutu yang berkekuatan 5 ribu tentara mendarat di Surabaya di bawah Brigadir Aulbertin Walter Sothern Mallaby.
Mereka kemudian mendirikan pos-pos pertahanan di delapan titik.
Awalnya mereka ingin segera melucuti semua persenjataan yang sudah dikuasai rakyat, namun karena mendapat tentangan keras dari pemimpin Indonesia di Surabaya, akhirnya mereka mengalah.
26 Oktober 1945, dicapai kesepakatan antara pimpinan Indonesia dengan Mallaby.
Kesepakatan tersebut berisi bahwa senjata-senjata yang dilucuti hanya tentar Jepang dan tentara Inggris selaku wakil sekutu akan membantu Indonesia dalam pemeliharaan keamanan.
Selain itu, kedua pihak juga menyepakati bahwa setelah semua senjata tentara Jepang dilucuti, maka mereka akan diangkut melalui jalur darat.
Namun Sekutu ternyata berkhianat setelah kesepakatan itu batu saja disepakati.
Malam harinya, 26 Oktober 1945, Sekutu menyerang penjara Kalisolok untuk membebaskan Kolonel Huiyer, seorang perwira Belanda dan beberapa tentara Belanda yang ditawan pasukan Indonesia.
27 Oktober pukul 11.00 siang, sebuah pesawat Dakota melintas dari Jakarta atas perintah Mayjen Hawthorn.
Pesawat itu menyebarkan pamflet yang berisi perintah penyerahan senjata milik rakyat Indonesia kepada Sekutu.
Mereka memberikan waktu 2x24 jam, jika ada yang masih membawa senjata melewati batas waktu tersebut maka akan ditembak di tempat.
Hal itu tentu sangat bertentangan dengan kesepakatan sehari sebelumnya yang juga telah disetujui Mallaby.
Konon Mallaby sempat terkejut dengan adanya pamflet tersebut, namun nyatanya ia tetap mematuhi perintah atasannya di Jakarta.
Ia kemudian menginstruksikan kepada pasukannya untuk melucuti senjata milik rakyat Surabaya.
Karena merasa telah dihianati oleh Sekutu, pimpinan militer di Surabaya kemudian menginstruksikan untuk melakukan penyerbuan ke seluruh pos pertahanan Inggris.
Pada saat yang hampir bersamaan, para pemimpin Nahdlatul Ulama dan Masyumi juga menyatakan bahwa perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia adalah Perang Sabil, suatu kewajiban yang melekat pada semua muslim.
Para Kyai dan santri kemudian mulai bergerak dari berbagai pesantren di Jawa Timur menuju ke Surabaya.
Serangan total dilakukan pada 28 Oktober 1945 pada pukul 04.30 pagi.
Delapan pos pertahanan Sekutu diserbu oleh sekitar 30 ribu rakyat bersenjata api ditambah sekitar 100 ribu menggunakan senjata tajam.
Setelah penggempuran total, tentara Sekutu yang tidak siap bertempur mengibarkan bendera putih dan memohon untuk berunding.
Pada pertempuran 28 sampai 29 Oktober itu, Inggris mencatat 18 orang perwira dan 274 serdadunya tewas, luka-luka, dan hilang.
Sedangkan di pihak Indonesia, sebanyak 6 ribu orang tewas, luka-luka, dan hilang.
Mallaby menyadari jika pertempuran tetap dilanjutkan, maka mereka akan disapu bersih oleh pasukan Indonesia.
Dalam posisi yang terdesak Inggris menghubungi pimpinan Indonesia di Jakarta.
Mereka sadar, tidak ada jalan lain selain meminta bantuan pimpinan Indonesia di Jakarta, untuk menyelamatkan nyawa ribuan tentara Inggris yang sudah terkepung.
30 Oktober, dari perundingan kedua pihak, dicapai kesepakatan yang berisi beberapa poin utama, di antaranya:
Pamflet yang ditanda tangani Mayjen Hawthorn dinyatakan tidak berlaku.
Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan polisi diakui oleh sekutu.
Seluruh kota Surabaya tidak dijaga lagi oleh Sekutu, kecuali kamp-kamp tawanan dijaga tentara Sekutu bersama TKR.
Untuk sementara waktu Tanjung Perak dijaga bersama TKR, polisi, dan tentara Sekutu untuk menyelesaikan tugas menerima obat-obatan untuk tawanan perang.
Hasil perundingan untuk menyelamatkan pasukan Mallaby dari kekalahan total dipertegas oleh menteri penerangan sebagai berikut:
- Pembentukan suatu Kontak Biro yang terdiri dari unsur pemerintah RI di Surabaya bersama-sama tentara Inggris.
- Daerah pelabuhan dijaga bersama, yang ditentukan kedudukan masing-masing oleh Kontak Biro.
- Daerah Darmo, daerah kamp interniran orang-orang Eropa dijaga oleh sekutu. Hubungan antara daerah Darmo dan pelabuhan Tanjung Perak diamankan, untuk mempercepat proses pemindahan tawanan.
- Tawanan dari kedua belah pihak harus dikembalikan kepada masing-masing pihak.
Pada perundingan itu juga disepakati nama-nama anggota Kontak Biro dari kedua belah pihak.
Dari Inggris ada lima orang yakni Brigjen Mallaby, Kolonel LHO Pugh, Wing Commander Groom, Mayor M Hudson, dan Kapten H Shaw.
Dari pihak Indonesia ada sembilan perwakilan yaitu Residen Sudirman, Doel Arnowo, Atmaji, Mohammad, Soengkono, Soeyono, Koesnandar, Roeslan Abdulgani, dan TD Kundan selaku juru bahasa.
Pasca tercapainya kesepakatan Presiden Soekarno beserta rombongan kembali ke Jakarta pada pukul 13.00 WIB. (2)
Tewasnya Mallaby #
Setelah perjanjian disepakati, beberapa tempat di Surabaya masih terjadi pertempuran meski sudah diumumkan gencatan senjata.
Para anggota Kontak Biro dari kedua belah pihak kemudian mendatangi lokasi-lokasi tersebut untuk menghentikan petempuran.
30 Oktober sore, seluruh anggota Kontak Biro pergi bersama-sama menuju lokasi pertempuran, yaitu Gedung Bank Internatio di Jembatan Merah yang masih diduduki pasukan Inggris dan dikepung para pemuda.
Ketika sampai di lokasi, para pemuda menuntut supaya pasukan Mallaby menyerah, namun ia tidak bisa menerima tuntutan itu.
Hasilnya, terjadilah baku tembak antara kedua pihak yang akhirnya menewaskan Mallaby, Komandan Brigade 49 di Surabaya.
Inggris menyalahkan Indonesia yang telah melanggar gencatan senjata dan membunuh Mallaby.
Dari berbagai kesaksian mantan perwira Inggris di tempat kejadian, ternyata yang memulai tembakan adalah pihak Inggris, sesuai kesaksian Mayor Gopal tahun 1974.
Penyebab tewasnya Mallaby sendiri masih menjadi misteri.
Ada yang mengatakan tertusuk bayonet dan bambu runcing pemuda, namun berdasarkan surat dari Kapten Smith kepada Parrot tahun 1973-1974, kemungkinan besar Mallaby terbunuh karena ledakan granat yang dilempar pengawalnya sendiri.
Setelah Mallaby tewas, baik Letnan Jenderal Christison, panglima AFNEI ataupun Mayor Jenderal Mansergh menyatakan pihak Indonesia telah melanggar genjatan senjata dan secara licik membunuh Brigjend Mallaby.
Dengan tuduhan tersebut, Inggris memperoleh alasan untuk memenuhi perjanjiannya dengan Belanda, yaitu membersihkan kekuatan bersenjata Indonesia.
Pihak Inggris menuntut pertanggungjawaban pihak Indonesia.
Pada 31 Oktober 1945, Letnan Jenderal Christison, memperingatkan kepada rakyat Surabaya untuk menyerah, apabila tidak mereka akan dihancurkan.
Rakyat Surabaya tidak mau memenuhi tuntutan tersebut, Kontak Biro Indonesia mengumumkan bahwa kematian Mallaby merupakan suatu kecelakaan.
Setelah mendapat penolakan, Divisi 5 Inggris yang berkekuatan 24 ribu tentara di bawah komando Mayjend R. C. Mansergh mendarat secara diam-diam di Surabaya.
Selain diperkuat oleh sisa Brigade 49, masih ditambah 1.500 marinir di bawah komando Rear Admiral Sir W. R. Patterson yang pernah memimpin beberapa kapal perang.
Letjen Sir Philip Christison melengkapi pasukan Inggris dengan pesawat tempur Thunderbolt, Mosquito, dan tank kelas Sherman, yang merupakan persenjataan tercanggih saat itu.
Kemudian, pada tanggal 7 November, Mansergh menulis surat kepada Gubernur Soeryo, yang isinya menuduh gubernur tidak mampu menguasai keadaan, akibatnya seluruh kota dikuasai oleh perampok.
Mereka dianggap menghalangi tugas sekutu, untuk itu Sekutu mengancam akan menduduki kota Surabaya serta memanggil Gubernur Soeryo untuk menghadap.
Dalam surat jawabannya tanggal 9 November, Gubernur membantah semua tuduhan Mansergh.
Gubernur Soeryo mengutus Residen Sudirman dan Roeslan Abdulgani untuk menyampaikan surat balasan tersebut.
Di hari yang sama pukul 14.00 WIB, Mansergh menyampaikan ultimatum di Surabaya.
Butir kedua dalam ultimatum itu diformulasikan sedimikian rupa sehingga mustahil untuk dipenuhi pemimpin sipil dan militer Indonesia.
"Seluruh pimpinan Indonesia, termasuk pimpinan gerakan pemuda, kepala polisi, dan kepala radio Surabaya harus melapor ke Bataviaweg tanggal 9 November pukul 18.00. Mereka harus berbaris satu persatu membawa segala jenis senjata yang mereka miliki. Senjata tersebut harus diletakkan di tempat yang berjarak 100 yard dari tempat pertemuan, setelah itu orang-orang Indonesia harus datang dengan tangan di atas kepala mereka, dan akan ditahan, dan harus siap untuk menandatangani pernyataan menyerah tanpa syarat."
Bagi pemuda-pemuda bersenjata diharuskan menyerahkan senjatanya dengan berbaris dan membawa bendera putih.
Batas waktu yang ditentukan adalah pukul 06.00 pagi tanggal 10 November 1945.
Apabila tidak dihiraukan, Inggris akan mengerahkan seluruh kekuatan darat, laut, dan udara untuk menghancurkan Surabaya. (3)
Kronologi #
Mendapatkan ultimatum seperti itu, para pemuda yang sudah siap siaga membuat pertahanan di dalam kota.
Komandan Pertahanan Kota, Soengkono, pada 9 November pukul 17.00 mengundang semua unsur kekuatan rakyat yang terdiri atas komandan TKR, PRI, BPRI, Tentara Pelajar, Polisi Istimewa, BBI, PTKR, TKR Laut untuk berkumpul di Markas Pregolan 4.
Soengkono mempersilahkan siapa pun yang ingin meninggalkan kota, namun mereka bertekad untuk mempertahankan kota Surabaya.
Mereka membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas sebagai tanda setuju, dan diteruskan dengan ikrar bersama.
Dengan adanya ultimatum ini, pemimpin Surabaya mengadakan pertemuan.
Mereka melaporkan kepada presiden, namun hanya diterima oleh Menteri Luar Negeri Ahmad Subardjo.
Menteri luar negeri menyerahkan keputusan kepada rakyat Surabaya.
Secara resmi pada 22.00, Gubernur Soeryo melalui radio menyatakan menolak ultimatum Inggris.
Sebelum waktu ultimatum habis, Kota Surabaya telah dibagi menjadi tiga sektor pertahanan.
Garis pertahanan ditentukan dari Jalan Jakarta, tetapi penempatan pasukan agak mundur ke Krembangan, Kapasan, dan Kedungcowek.
Garis kedua di sekitar Viaduct, dan garis ketiga di daerah Darmo.
Pembagian tiga sektor meliputi sektor barat, sektor tengah, dan timur.
Sektor barat dipimpin oleh Koenkiyat, sektor tengah dipimpin oleh Kretarto dan Marhado, sedangkan sektor timur dipimpin oleh Kadim Prawirodihardjo.
Sementara itu, radio perlawanan yang dipimpin oleh Bung Tomo membakar semangat juang rakyat.
Siaran ini dipancarkan dari Jalan Mawar No. 4.
10 November 1945 pukul 06.00, setelah habisnya waktu ultimatum, Inggris mulai menggempur Surabaya dengan seluruh armada darat, laut, dan udara.
Pemboman secara brutal di hari pertama telah menimbulkan korban yang sangat besar.
Di pasar Turi, ratusan orang tewas dan luka-luka.
Inggris juga berhasil menguasai garis pertama pertahanan rakyat Surabaya.
Rakyat Surabaya tidak tinggal diam, mereka melakukan perlawanan atas serangan tersebut.
Pertempuran yang tidak seimbang selama tiga minggu telah mengakibatkan sekitar 20.000 rakyat Surabaya menjadi korban, sebagian besar adalah warga sipil.
Selain itu, diperkirakan 150.000 orang terpaksa meninggalkan Kota Surabaya yang hampir hancur total terkena serangan Sekutu.
Sementara di pihak Inggris tercatat 1.500 tentara Inggris tewas, hilang, dan luka-luka. (4)
Jika diasumsikan kekuatan Republik Indonesia sekitar 120 ribu dan Inggris 30 ribu, maka perbandingan kuantitas sebenarnya mencapai 4:1.
Akan tetapi itu perbandingan kuantitatif, bukan kualitatif yang menghitung keahlian dan persenjatan.
Jika melihat persentase jumlah korban, korban dari pihak Indonesia diperkirakan mencapai 5 persen.
Sementara Inggris hanya kehilangan 1 persen dari keseluruhan anggota militernya di Surabaya.
Jika dilihat dari wilayah yang diduduki Inggris di Surabaya hingga akhir November 1945, maka Inggris adalah pemenang pertempuran tersebut.
Kemenangan bagi Republik Indonesia terletak pada kemenangan mental.
Meski harus terpukul mundur ke luar kota dan menelan korban yang jauh lebih banyak, memperlihatkan daya tahan yang hebat menghadapi gempuran Inggris.
Keberhasilan menewaskan dua perwira tinggi yang pangkatnya setara jenderal pun menjadi catatan yang menginjeksi moral para pejuang.
Kenekatan para pejuang Surabaya itu juga menerbitkan sikap yang lebih respek dari Inggris kepada Indonesia.
Kendati tahu mereka akan tetap memenangkan pertempuran andaikan terjadi insiden lain dengan Indonesia, Inggris tak mau lagi sembrono.
Mereka sudah menyaksikan dengan mata kepala sendiri betapa mengerikannya kenekatan para pejuang Surabaya.
Terlalu mahal ongkosnya jika harus mengulangi pertempuran dengan arek-arek Suroboyo.
Para pejuang Indonesia, bisa dikatakan, menguatkan moralnya dengan mengangkat gelas untuk Mallaby dan Loder-Symonds. (5)
Sebagai penghormatan atas jasa para pahlawan yang dengan berperang dengan gigih melawan Sekutu di Surabaya, tanggal 10 November 1946 Soekarno menetapkan tanggal 10 November sebagai Hari Pahlawan.
Tindakan Inggris untuk menghukum pasukan Indonesia di Surabaya, dianggap Mansergh sebagai hukuman yang pantas atas pelanggaran terhadap peradaban.
Akan tetapi, tindakan yang dilakukan oleh Inggris pada tanggal 10 November, justru mencerminkan tindakan pelanggaran terhadap peradaban dan kemanusiaan secara nyata.
Kematian Mallaby seakan hanya dijadikan Casus Belli, untuk menghancurkan kekuatan militer Indonesia di Surabaya.
Selain itu, pertempuran Surabaya, dimanfaatkan untuk memenuhi perjanjian bilateral mereka dengan Belanda serta menjalankan keputusan Konferensi Yalta yakni pengembalian situasi pada Status Quo, seperti sebelum invasi Jepang.
Pertempuran Surabaya berakhir dengan kekalahan pihak Indonesia.
Akan tetapi, perang tersebut membuktikan bahwa rakyat Indonesia rela berkorban demi mempertahankan kemerdekaan mereka, meskipun harus dibayar dengan nyawa. (6)
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official
| Nama | Pertempuran 10 November Surabaya |
|---|
| Nama Lain | Pertempuran Surabaya |
|---|
| Kategori | Peristiwa Bersejarah |
|---|
| Waktu | 10 November 1945 |
|---|
| Tempat | Surabaya, Jawa Timur |
|---|
| Pihak Terlibat | Indonesia dan Inggris |
|---|
Sumber :
1. wawasansejarah.com
2. wawasansejarah.com
3. wawasansejarah.com
4. wawasansejarah.com
5. tirto.id
6. wawasansejarah.com