Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - KH Noer Ali lahir di Ujung Malang, Bekasi, 15 Juli 1914.
Nama KH Noer Ali sendiri terkenal di kalangan masyarakat Betawi.
Bahkan ia mendapat julukan "Singa Karawang-Bekasi".
Ia lahir dari pasangan H Anwar bin Layu dan Hj Maemunah.
Keluarga kecil ini bermatapencaharian sebagai petani.
KH Noer Ali sudah menunjukkan minat untuk mendalami ilmu-ilmu agama sejak kecil.
Ia mulai belajar mengaji pada guru Maksum, di Kampung Bulak, pada usia delapan tahun.
Tiga tahun kemudian, KH Noer Ali sudah belajar tata bahasa Arab, tauhid, dan fiqih dari Guru Mughni.
Memasuki usia remaja, KH Noer Ali hijrah ke Kampung Cipinang, Jakarta Timur.
Ia menimba ilmu dari Guru Marzuqi.
Seiring berjalannya waktu, KH Noer Ali diizinkan mengajar murid junior ketika Guru Marzuqi berhalangan.
Kelak, dari Guru Marquki juga lahir ulama-ulama yang terkemuka.
Beberapa di antara ulama tersebut juga menjadi sahabat karib KH Noer Ali. (1)
Pendidikan #
Pada usia yang ke-20, KH Noer Ali dan KH Hasbullah pergi ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.
Kala itu mereka mendapat dukungan dana dari Wat Siong.
Kesempatan ini tidak disia-siakan.
KH Noer Ali juga memanfaatkan kesempatan ini untuk memperdalam ilmu agama di Mekkah.
Sebelum berangkat, Guru Marzuqi menasihati agar belajar pada Syekh Ali Al Maliki.
Meski demikian KH Noer Ali tidak hanya belajar pada satu guru.
Berikut adalah guru KH Noer Ali ketika di Mekkah.
- Syekh Umar Hamdan, pengajar Kutub as-Sittah
- Syekh Ahmad Fatoni, ulama asal Thailand Selatan, mengajar Kitab Iqna tentang ilmu fiqih
- Syekh Muhammad Amin al-Quthbi, mengajarkan kesusastraan, tata bahasa Arab, ilmu logika, serta tauhid
- Syekh Abdul Zalil, ilmu politik Islam
- Syekh Ibn al-Arabi, ilmu hadis dan ‘ulum Alquran
Ketika di Arab, KH Noer Ali aktif di berbagai organisasi Jawi atau Melayu.
Beberapa organisasi tersebut adalah Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Persatuan Talabah Indonesia, Perhimpunan Pelajar Indonesia-Malaya, dan Persatuan Pelajar Betawi. (1)
Perjuangan #
Ketika akan kembali ke Indonesia, KH Noer Ali mengirim surat kepada Syekh Ali Al Maliki.
Syekh Ali Al Maliki menjawab surat tersebut dan meneguhkan semangat anti kolonialisme.
Ketika tiba di Batavia, KH Noer Ali mendirikan Pesantren At-Taqwa di kampung halamannya.
Pendirian pesantren pada 1940-an ini seklaigus sebagai bakti kepada sang guru.
Sebelumnya, Syekh Ali Al Maliki telah meridhoi apabila KH Noer Ali mau mengajar.
Pondok Pesantren At-Taqwa selalu diamati oleh Belanda.
Hal itu tidak bisa dilepaskan dari peran pesantren tersebut dalam meneguhkan tekad melawan penjajah, di samping ilmu agama.
Ketika masa pendudukan Jepang, mereka mengaku sebagai saudara tua.
Meski demikian, KH Noer Ali tidak luntur oleh slogan tersebut.
Bahkan Jepang tidak kalah kejam dengan penjajahan yang dilakukan oleh Belanda.
Meski demikian, KH Noer Ali memandang positif berbagai pelatihan militer yang diberikan Jepang.
Hal ini bukan berarti KH Noer Ali mendukung upaya Jepang untuk menarik simpati rakyat.
Ia memandang inilah kesempatan bagi pemuda Indonesia agar memperoleh ilmu militer yang modern dan mumpuni.
Modal tersebut menjadi penting untuk mempersiapkan kemerdekaan Indonesia.
Oleh karena itu banyak santri KH Noer Ali yang ikut Heiho, Keibodan, atau PETA. (1)
Setelah Indonesia merdeka, KH Noer Ali terpilih menjadi Ketua Komita Nasional Indonesia (KNID) Kecamatan Babelan, Bekasi.
Pada tahun 1945 ia juga membentuk Laskar Rakyat.
Wadah ini bekerja sama dengan TKR Bekasi dan Jatinegara untuk memobilisasi pemuda dan santri agar mengikuti pelatihan kemiliteran di Teluk Pucung.
Setelah Agresi Militer I Belanda, KH Noer Ali mendirikan organisasi gerilya yang bermarkas di Tanjung Karekok, Cikampek.
Kemudian pasukan ini hijrah ke Banten setelah perjanjian Renville 1948.
Ketika beristirahat di Cipayung, KH Noer Ali sempat ditangkap oleh Belanda.
Namun kala itu ia berhasil melompat dan meloloskan diri.
Mulai tahun 1949, aktif di Masyumi.
Kala itu ia bertindak sebagai ketua Masyumi Cabang Jatinegara.
Selanjutnya, ia diangkat menjadi Ketua Masyumi Bekasi dan Wakil Ketua Dewan Pemerintah Daerah Bekasi.
Pada desember 1956, KH Noer Ali ditunjuk Masyumi Pusat sebagai anggota Dewan Konstituante.
KH Noer Ali juga turut menumpas pemberontakan G 30 S/PKI pada 1965, khususnya di daerah Bekasi dan Jakarta. (2)
Wafat #
KH Noer Ali wafat di Bekasi, Jawa Barat, pada 29 Januari 1992, pada usia 77 tahun. (3)
Atas jasa dan perjuangannya, pemerintah RI menganugerahi KH Noer Ali Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 085/TK/Tahun 2006 tanggal 3 November 2006. (2)
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)
| Nama | KH Noer Ali |
|---|
| Julukan | Singa Karawang-Bekasi |
|---|
| Lahir | Ujung Malang, Bekasi, 15 Juli 1914 |
|---|
| Dikenal Sebagai | PAHLAWAN NASIONAL |
|---|
| Ulama |
| Wafat | Bekasi, Jawa Barat, pada 29 Januari 1992 |
|---|
Sumber :
1. www.republika.co.id
2. pahlawancenter.com
3. id.wikipedia.org