17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: KH Abdul Halim

K.H. Abdul Halim, salah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-20 dan menjadi Pahlawan Nasional


zoom-inlihat foto
fotojet_24jpgfotojet_24jpgkhabdulhalim.jpg
kolase wikipedia dan mamansoleman.net
Abdul Halim Majalengka

K.H. Abdul Halim, salah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-20 dan menjadi Pahlawan Nasional




  • Informasi #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - KH Abdul Halim merupakan salah seorang ulama besar yang hidup pada abad ke-20.

KH Abdul Halim termasuk salah seorang tokoh pergerakan nasional, organisatoris, prinsipil (dalam akidah) tetapi luwes dalam menerapkan nilai-nilai luhur Islam.

KH Abdul Halim juga terkenal sebagai tokoh yang toleran, apalagi dalam menghadapi perbedaan pendapat antarulama tardisional dan pembaharu.

Presiden Susilo Bambang Yudoyono menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada KH Abdul Halim berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor: 041/TK/Tahun 2008 tanggal 6 November 2008. (1)

KH Abdul Halim dilahirkan tanggal 4 Syawal 1304 H (26 Juni 1887) di Desa Ciborelang, Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.

Ayahnya, KH Muhammad Iskandar, dari Banten yang menjadi Penghulu di Jatiwangi, kemudian mempersunting gadis setempat, Siti Mutmainah, yang kemudian dikaruniai tujuh anak dengan Abdul Halim sebagai anak bungsu.

Ketika berumur 10 tahun, KH Abdul Halim belajar al-Quran dan al-Hadits kepada KH Anwar, seorang ulama terkemuka dari Ranji Wetan, Majalengka dan merupakan guru pertamanya di luar keluarganya sendiri.

KH Abdul Halim  yang mulai menginjak usia remaja, akhirnya belajar di berbagai Pondok Pesantren.

Di antaranya Pesantren Lontangjaya Penjalin Leuwimunding Majalengka asuhan KH Abdullah,  Pesantren Bobos Sumber Cirebon asuhan KH Sujak,  Pesantren Ciwedus Timbang Cilimus Kuningan asuhan KH Ahmad Shobari, dan Pesantren Kedungwangi Kenayangan Pekalongan asuhan KH Agus.

Setelah menginjak usia 21 tahun, Abdul Halim menikah dengan Siti Murbiyah putri KH Ilyas (Penghulu Landraad Majalengka) dan dikaruniai 7 orang anak. 

KH Abdul Halim meneruskan dan memperdalam ilmu-ilmu keislaman di tanah kelahiran Islam, yaitu Mekah dan berguru kepada ulama-ulama besar, satu di antaranya ialah Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi. (2)

Abdul Halim Majalengka
Abdul Halim Majalengka (upload.wikimedia.org)

  • Pendidikan #


Sejak kecil KH Abdul Halim senang belajar, terbukti beliau banyak membaca ilmu-ilmu keislaman maupun ilmu-ilmu kemasyarakatan.

Ketika berumur 10 tahun Kiai Halim berupaya bisa al-Qur'an dan Hadis kepada K.H. Anwar, yang sekaligus menjadi guru pertamanya di luar keluarganya sendiri.

KH Anwar yaitu seorang ulama terkenal dari Ranji Wetan, Majalengka.

Sebagai penggemar ilmu, Kiai Halim juga menyelami disiplin ilmu lainnya, tidak pandang apakah yang menjadi gurunya sealiran (Islam) ataupun tidak, asalkan dapat bermanfaat untuk perjuangannya yang akan datang.

Hal itu terlihat ketika Kiai Halim berupaya bisa bahasa Belanda dan huruf latin kepada Van Hoeven, seorang pendeta dan misionaris di Cideres, Majalengka.

Ketika menginjak usia dewasa, Kiai Halim mulai berupaya bisa di berbagai Pondok Pesantren di wilayah Jawa Barat.

Berikut beberapa pesantren yang pernah menjadi tempat belajar Kiai Halim :

  1. Pesantren Lontang jaya, Penjalinan, Leuimunding, Majalengka, pimpinan Kiai Abdullah.
  2. Pesantren Bobos, Kecamatan Sumber, Cirebon, asuhan Kiai Sujak.
  3. Pesantren Ciwedus, Timbang, Kecamatan Cilimus, Kabupaten Kuningan, asuhan Kiai Ahmad Shobari.
  4. Dan yang terakhir Abdul Halim berguru kepada K.H. Agus ,Kedungwangi, Kenayangan, Pekalongan, sebelum akhirnya kembali mendalamkan ilmunya di Pesantren Ciwedus.

Belajar di Mekkah

Setelah banyak belajar di beberapa pesantren di Indonesia, Kiai Halim memutuskan untuk pergi ke Mekah untuk menyelami ilmu-ilmu keislaman.

Di Mekah, Kiai Halim berguru kepada ulama-ulama besar di selangnya Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, seorang ulama asal Indonesia yang bertempat tinggal tetap di Mekah dan menjadi ulama besar sekaligus menjadi Imam di Masjidil Haram.

Selama menuntut ilmu di Mekah, Kiai Halim banyak bergaul dengan K.H. Mas Mansur yang yang akan datang menjadi Ketua Umum Muhammadiyah dan K.H. Abdul Wahab Hasbullah yang yaitu salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama.

Selain itu juga dengan Rais Am Syuriyah (Ketua Umum Dewan Syuro) Pengurus Besar organisasi tersebut setelah Kiai Hasyim Asy’ari meninggal pada tahun 1947.

Kedekatan Kiai Halim terhadap kedua orang sahabatnya yang beda latar belakang  dan tradisio inilah yang membuatnya terkenal sebagai ulama yang amat toleran.

Selain belajar dengan Syeikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Kiai Halim juga menyelami kitab-kitab para ulama lainnya, seperti kitab karya Syeikh Muhammad Abduh, Syeikh Muhammad Rasyid Ridlo, dan ulama pembaharu lainnya.

Selain itu Kiai Halim juga banyak membaca majalah al-Urwatul Wutsqo maupun al-Manar yang membahas tentang pemikiran kedua ulama tersebut. (1)

Abdul Halim Majalengka
Abdul Halim Majalengka (bp.blogspot.com)

  • Pesantren Santi Asromo #


Terdapat dua peninggalan KH Abdul Halim, yaitu: pesantren Santi Asromo dan organisasi Persatuan Umat Islam (PUI) yang bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial dan budaya. 

Santri Asromo merupakan pendidikan pesantren yang membekali siswa dengan keterampilan.

Belajar di Santi Asromo ada pandai besi, menyuling minyak kayu putih, bertani kopi dan lada serta beternak ayam, kambing dan ikan

Hingga kini bangunan Santi Asromo telah berkembang dan berdiri kokoh di atas tanah seluas 12 hektare dengan fasilitas pondok pesantren, Madrasah Ibtidaiyah PUI, SMP Prakarya dan SMA Prakarya. (3)

  • Perserikatan Ulama Indonesia/ Persatuan Umat Islam #


Setelah tiga tahun berupaya bisa di Mekah, KH Abdul Halim kembali ke Indonesia untuk mengajar.

Pada tahun 1911, KH Abdul Halim mewujudkan lembaga edukasi Majlis Ilmi di Majalengka untuk memberi tuntunan santri-santri di kawasan tersebut.

Setahun kemudian setelah lembaga edukasi tersebut telah mengembang, Kiai Halim mewujudkan sebuah organisasi yang bernama Hayatul Qulub, yang kemudian Majlis Ilmi menjadi ronde di dalamnya.

Hayatul Qulub (Hayat al-Qulub) yang didirikan tahun 1912 tersebut tidak hanya bangkit di ronde edukasisaja, melainkan juga masuk ke ronde perekonomian.

Hal ini disebabkan KH Abdul Halim mau memajukan lapangan edukasi sekaligus perdagangan.

Maka bagian organisasinya bukan saja dari kalangan santri, guru, dan kiai, tetapi juga para petani dan pedagang.

Namun organisasi yang bangkit di ronde dagang tersebut tentu akan mempunyai saingan dagang, khususnya dengan pedagang Cina yang pada masa itu cenderung semakin berhasil di ronde perdagangan.

Karena pemerintah Hindia Belanda kebanyakan membela kepentingan pedagang-pedagang Cina yang diberi status hukum semakin kuat dibanding kumpulan pribumi.

Persaingan tersebut memuncak ketika pemerintah Hindia Belanda menuduh organisasi Hayatul Qulub sebagai biang kerusuhan dalam peristiwa penyerangan toko-toko milik orang Cina yang terjadi di Majalengka pada tahun 1915.

Akibatnya pemerintah Hindia Belanda menghentikan Hayatul Qulub dan melarang meneruskan segala pokok isi kerangannya.

Setelah dicerai-beraikannya organisasi tersebut, KH Abdul Halim memutuskan untuk kembali ke Majlis Ilmi untuk tetap melindungi kepentingan perjuangan Islam, terutama dalam ronde edukasi.

Pada tanggal 16 Mei 1916, KH Abdul Halim secara resmi mewujudkan lembaga edukasi baru yang beliau beri nama Jam’iyah al-I’anat al-Muta’alimin.

Lembaga edukasi ini semakin baik dari sebelumnya, karena KH Abdul Halim menerapkan sistem klasikal dengan lama kursus lima tahun dan sistem koedukasi.

Dan untuk yang sudah mencapai kelas tinggi akan menerima pelajaran bahasa Arab.

Setahun kemudian, HOS Cokroaminoto memberi dukungan terhadap lembaga edukasi tersebut, yang akhirnya dikembangkan dan diubah namanya menjadi Perserikatan Ulama yang semakin dikenal dengan PUI (Perserikatan Ulama Indonesia).

Perserikatan tersebut memiliki panti asuhan, percetakan, dan sebuah pertenunan.

Perserikatan Ulama Indonesia memiliki tujuan pokok antara lain:

  1.  Memajukan dan menyiarkan pengetahuan dan pengajaran kepercayaan kepada Tuhan Islam.
  2. Memajukan keadaan penghidupan yang didasarkan atas hukum Islam.
  3. Menghidupi tali percintaan dan persaudaraan yang kuat dan membangunkan hati agar suka tolong menolong antara satu dengan lainnya.

PUI memperagakan beberapa upaya untuk membentuk tujuannya tersebut, di antaranya adalah:

  1.  Mewujudkan dan menghidupi sekolah.
  2. Menerbitkan, menyiarkan, dan menjual buku-buku (kitab-kitab), brosur, majalah, dan surat kabar yang mengandung tentang keislaman.
  3. Meningkatkan pertanian, perdagangan dan perekonomian lainnya.
  4. Memberi tuntunan pemuda sebagai kader muslim masa mendatang.
  5. Memperagakan pekerjaan sama dengan perkumpulan-perkumpulan muslim lainnya demi memajukan Kepercayaan kepada tuhan Islam. (4)

  • Pergerakan Nasional #


Pada masa awal pendudukan Jepang, beberapa partai dan organisasi politik dibekukan.

Organisasi keagamaan yang dibolehkan berdiri hanya Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama.

Namun, KH Abdul Halim tetap berusaha agar organisasinya itu dihidupkan kembali.

Barulah pada tahun 1944 usahanya berhasil, tetapi namanya diganti menjadi Perikatan Oemat Islam (POI).

Kelak, pada tahun 1952, POI mengadakan fusi dengan Persatuan Umat Islam Indonesia (PUII) yang didirikan oleh KH Ahmad Sanusi menjadi Persatuan Umat Islam (PUI) dan Abdul Halim diangkat sebagai ketuanya.

Pada masa pendudukan Jepang, KH Abdul Halim diangkat menjadi anggota Cuo Sangi In (semacam dewan perwakilan).

Pada bulan Mei 1945, KH Abdul Halim diangkat menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) yang bertugas menyiapkan segala sesuatu yang berhubungan dengan pembentukan negara.

Dalam BPUPKI ini KH Abdul Halim duduk sebagai anggota Panitia Pembelaan Negara.

Sesudah Republik Indonesia berdiri, KH Abdul Halim diangkat sebagai anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Daerah (PB KNID) Cirebon.

Selanjutnya KH Abdul Halim aktif membantu perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pada waktu Belanda melancarkan agresi militer kedua yang dimulai tanggal 19 Desember 1948, KH Abdul Halim aktif membantu kebutuhan logistik bagi pasukan TNI dan para gerilyawan.

Residen Cirebon juga mengangkatnya menjadi Bupati Majalengka.

Sesudah perang kemerdekaan berakhir, KH Abdul Halim tetap aktif dalam organisasi keagamaan dan membina Santi Asmoro.

Namun, seba­gai ulama yang berwawasan kebangsaan dan persatuan, KH Abdul Halim menentang gerakan Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo, walaupun ia tinggal di daerah yang dikuasai oleh Darul Islam.

KH Abdul Halim merupakan salah seorang tokoh yang menuntut pembubaran Negara Pasundan ciptaan Belanda.

Dalam periode tahun 1950-an KH Abdul Halim pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat dan kemudian menjadi anggota Konstituante. (1)

  • Meninggalnya #


KH Abdul Halim meninggal pada 7 Mei 1962 dan dikebumikan di Majalengka dalam usia 74 tahun.

Harta bendanya KH Abdul Halim diwakafkan untuk madrasah dan institusi pendidikan.

Bahkan rumah pribadi KH Abdul Halim diberikan untuk PUI. (3)

(Tribunnewswiki.com/Wiene)



Info Pribadi
Nama K.H. Abdul Halim
Asal Majalengka
Lahir Majalengka, 26 Juni 1887
Wafat Majalengka, 7 Mei 1962
Nama pena K.H. Muhammad Syatari (Otong Satori)
Kebangsaan Indonesia
Pasangan Siti Moerbiyah Halim
Anak M. Toha Halim
Fatimah Halim
Mahriyyah Halim
Aziz Halim
Halimah Halim
Karim Halim
Taufiq Halim
Profesi Ulama
Kategori Pahlawan Nasional


Sumber :


1. pahlawancenter.com
2. hystoryana.blogspot.com
3. ciktim.bekasikab.go.id
4. bursa-kerja.ptkpt.net


Penulis: Wiene wardhani
Editor: haerahr
BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved