Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM - Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma lahir di Manado, 9 Maret 1911.
Ia lebih akrab dikenal sebagai John Lie.
Ia lahir dari pasangan Lie Kae Tae dan Oei Tjeng Nie Nio. (1)
Ayahnya merupakan pemilik perusahaan pengangkutan Vetol.
John Lie merupakan generasi kelima dari leluhur yang datang dari Fuzhou dan Xiamen yang menetap di Minahasa sejak tahun 1790.
Ketika menginjak usia 17 tahun, John Lie ke Batavia karena ingin menjadi pelaut.
Di Batavia ia menjadi buruh pelabuhan sekaligus mengikuti kursus navigasi.
Kemudian John Lie menjadi klerk mualim III, kapal Koninklijk Paketvaart Maatschappij, sebuah perusahaan pelayaran Belanda.
Ia bertugas di Iran dan mendapatkan pendidikan militer pada 1942.
Kelak, John Lie menikah dengan Pdt Margaretha Dharma Angkuw Pada 30 Agustus 1966.
Mulai saat inilah John Lie merubah nama menjadi Jahja Daniel Dharma. (2)
Karier #
Pada masa awal kemerdekaan, John Lie ditugaskan untuk mengangkut komoditas ekspor Indoenesia ke Singapura.
Kala itu, ekspor sangat penting mengingat kas negara yang menipis.
Pada 1947, ia ditugaskan untuk mengawal kapal pembawa 800 ton karet.
Karet tersebut akan diserahkan ke perwakilan Indonesia di Singapura, Oetojo Ramelan.
Perjalanan itu tidak mudah karena ia harus menembus barisan blokade laut Belanda.
Sejak saat itu, ia rutin melakukan operasi untuk menembus blokade Belanda.
Hasil bumi yang dibawa ke Singapura ditukarkan dengan senjata.
Kemudian senjata itu akan diserahkan kepada pejabat yang ada di Sumatra untuk melawan Belanda.
Selain usaha menembus blokade Belanda, perjalanan juga sulit mengingat kapal yang digunakan terlalu kecil untuk ukuran gelombang samudera.
Kapal yang digunakan untuk operasi ini dinamai The Outlaw.
John Lie sempat tertangkap perwira Inggris ketika membawa 18 drum minyak sawit.
Setelah diadili di Singapura, John Lie dibebaskan karena tidak terbukti bersalah.
Setelah menyerahkan senjata pada Bupati Usman Effendi dan Abusamah, John Lie mendapat surat dari Syahbandar bahwa The Outlaw merupakan kapal Indonesia.
Kemudian kapal itu diberi nama resmi PPB 58 LB.
Seminggu setelah kejadian itu, John Lie kembali ke Port Swettenham di Malaya.
Ia turut mendirikan pangklaan Angkatan Laut yang menyuplai bahan bakar, makanan, dan senjata, untuk keperluan perjuangan mempertahankan kemerdekaan.
Pada 1950, John Lie dipanggil oleh KASAL Laksamana TNI R Soebijakto.
Kemudian, ia ditugaskan sebagai Komandan Kapal Perang Rajawali.
Di masa berikutnya, John Lie aktif dalam penumpasan Republik Maluku Selatan dan PRRI/Semesta. (2)
Penganugerahan Gelar Pahlawan #
John Lie meninggal dunia pada 30 Agustus 1966.
Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono memberikan Bintang Mahaputera Adipradana dan gelar pahlawan pada 9 November 2009. (1)
Pengusulan gelar pahlawan dilakukan Yayasan Nabil.
Pengusulan itu dilakukan atas pemikiran salah satu anggota dewan pakarnya, Dr Asvi Warman Adam, yang dirintis sejak tahun 2003.
Tahapan pengajuan dimulai dengan penulisan buku biografi John Lie Memenuhi Panggilan Ibu Pertiwi oleh M Nursam.
Selain itu juga dilakukan seminar tentang kepahlawanan John di Jakarta dan Manado pada awal 2009. (3)
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)
| Nama | John Lie |
|---|
| Nama Lengkap | Laksamana Muda TNI (Purn) Jahja Daniel Dharma |
|---|
| Lahir | Manado, 9 Maret 1911 |
|---|
| Wafat | 30 Agustus 1966 |
|---|
| Dikenal Sebagai | PAHLAWAN NASIONAL |
|---|
| Istri | Pdt Margaretha Dharma Angkuw |
|---|
Sumber :
1. www.biografipahlawan.com
2. id.wikipedia.org
3. intisari.grid.id