TRIBUNNEWSWIKI.COM -Film Wage yang diproduksi dan tayang tahun 2017 mengisahkan tentang hidup pencipta lagu kebangsaan Indonesia, Wage Rudolf Supratman atau WR Supratman.
Film ini disutradarai oleh John De Rantau, serta ditulis oleh Freddy Aryanto dan Gunawan BS. (1)
John De Rantau mendekonstruksi kisah Wage melalui riset panjang selama tujuh tahun.
Film ini adalah jawaban dari banyak pertanyaan soal WR Supratman .
Film Wage melakukan proses pengambilan gambar selama satu bulan di tiga tempat, yakni Semarang, Klaten dan Yogyakarta.
Film yang berdurasi 120 menit ini dibintangi oleh Rendra Bagus Pamungkas, Teuku Rifnu Wikana, Prisia Nasution, Putri Ayudya, Khoirul Ilyas Aryatmaja, Ecky Lamoh, Eko Pthel dan sederet pemeran berkebangsaan Belanda. (2)
Film ini berkisah tentang Wage Supratman, seorang pemuda yang menciptakan lagu Indonesia Raya.
Lagu tersebut merupakan lagu kebangsaan Indonesia dan menjadi simbol serta identitas bangsa.
Pertama kali dikumandangkan bersamaan dengan pengucapan Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928.
Hal ini sebenarnya perwujudan dari bangkitnya kesadaran pemuda-pemuda Indonesia dan perlawanan terhadap penjajah yang dilakukan secara nasional.
Bersama-sama sebagai kesatuan yaitu Indonesia Raya dan tidak ada lagi perbedaan mengenai daerah, suku serta agama.
Semua hal tersebut terkandung di dalam lirik lagu Indonesia Raya serta Sumpah Pemuda yang memang lahir bersamaan.
“Aku harus ikut untuk berjuang demi kemerdekaan bangsa Indonesia melalui lagu dan biolaku. Untuk itulah aku juga harus terlibat langsung di dalam pergerakan kemerdekaan bangsa Indonesia ini”.
Semangat itu lah yang selalu membara dalam diri Wage Supratman.
Bahkan semangat tersebut selalu dikobarkan untuk terus melawan penindasan para penjajah.
Bagi Wage Supratman, darah pejuang memberinya semangat bagi dirinya untuk meninggalkan segala kemewahan yang dirasakan di Makassar dan kembali lagi ke tanah Jawa.
Semangat tersebut juga yang kemudian mengantarkan Wage Supratman terlibat langsung dalam pergerakan kemerdekaan yang ada di tanah Jawa.
Wage Supratman memutuskan untuk menjadi jurnalis, menyuarakan segala penderitaan yang dirasakan oleh rakyat kecil.
Tak hanya itu, Wage Supratman juga turut aktif terlibat di dalam ruang-ruang rapat organisasi pemuda.
Terlibat ke dalam pergerakan kebangsaan, serta mengubah lagu-lagu perjuangan yang diperuntukkan menggelorakan semangat perlawanan dari rakyat Indonesia.
Seperti 'Indonesia Wahai Ibuku', 'Dari Barat Sampai ke Timur', 'R.A Kartini' dan 'Di Timur Matahari' dan puncaknya adalah lagu kebangsaan Indonesia Raya. (1)