TRIBUNNEWSWIKI.COM - Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulu Tangkis 2019 digelar di Bandung pada 28-30 Juli 2019.
Legenda Bulu Tangkis Indonesia, Liliyana Natsir turut hadir sebagai salah satu tim pencari bakat dari PB Djarum.
Audisi pertama di Bandung memunculkan 24 atlet yang meraih Super Tiket tahap Final dari 705 atlet yang mendaftar.
Para peserta yang lolos dan mendapat Super Tiket merupakan atlet putra dan putri dari kelompok U-11 dan kelompok U-13 yang melampaui dua pertandingan dengan meraih hasil kemenangan di tahap turnamen.
Selain Bandung, empat kota lain, yakni Purwokerto, Surabaya dan Solo Raya bakal menjadi destinasi audisi umum berikutnya.
Meski begitu, kegiatan pencarian bakat atlet bulu tangkis muda oleh Djarum tersebut mendapat teguran dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
Bidang Kesehatan dan NAPZA dari Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Sitty Hikmawatty menyatakan kegiatan audisi beasiswa bulutangkis Djarum Foundation di GOR KONI Bandung termasuk dalam bentuk eksploitasi anak secara terselubung.
Selain itu, KPAI juga pernah memanggil pihak Djarum Foundation terkait hal tersebut.
Namun, menurut Sitty pengertian eksploitasi harus merujuk pada hukum yang ada di Indonesia.
"Pihak Djarum memang menolak dikatakan bahwa kegiatan tersebut sebagai bentuk eksploitasi, tapi tentu saja patokan eksploitasi ini harus kembali merujuk pada undang-undang ataupun payung hukum yang ada di Indonesia, bukan atas persepsi pihak tertentu," ujarnya.
Pihak KPAI, lebih lanjut sangat menyayangkan audisi tersebut.
Dilansir Tribunnewswiki.com pada Rabu (31/7/2019) dari Bolasport.com, KPAI meminta Djarum Foundation segera menghentikan kegiatan audisi yang masih akan dilaksanakan di beberapa kota di Indonesia.
"KPAI sudah menyurati beberapa kementerian dan lembaga yang memiliki korelasi kuat dengan upaya perlindungan sepenuhnya anak dari eksploitasi rokok," kata Sitty.
Menurutnya, anak-anak tidak boleh terpapar iklan rokok dan dalam hal ini Kementerian Pemuda dan Olahraga, harusnya memfasilitasi kegiatan olahraga seperti Bulu Tangkis, bukan pihak swasta seperti Djarum.
"Tentu upaya-upaya untuk membatasi dan mengatasi keterpaparan anak oleh rokok harus lebih digiatkan lagi," ujar Sitty.
"Berikan perlindungan sepenuhnya pada anak dengan menjaga mereka dari bentuk-bentuk kegiatan yang tanpa disadari justru malah merupakan sebuah bentuk eksploitasi terselubung," pungkasnya.
(TribunnewsWiki.com/Haris C)