Banyuwangi Ethno Carnival

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) adalah sebuah karnaval tahunan yang digelar di Banyuwangi. Banyuwangi Ethno Carnival pertama kali digelar pada 2011 silam.


zoom-inlihat foto
bec.jpg
SURYA/DODO HAWE
Peserta penari gandrung massal ikut memeriahkan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2013 di Kota Banyuwangi, Sabtu (7/9/2013). BEC diikuti ratusan peserta karnaval dari berbagai sekolah, sanggar seni, dan partisipasi warga Banyuwangi yang mengusung tema 'Legend of Kebo-keboan Blambangan' yang diambilkan dari tradisi upacara bajak sawah petani di Bayuwangi.

Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) adalah sebuah karnaval tahunan yang digelar di Banyuwangi. Banyuwangi Ethno Carnival pertama kali digelar pada 2011 silam.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) adalah sebuah karnaval tahunan yang digelar di Banyuwangi.

Banyuwangi Ethno Carnival pertama kali digelar pada 2011 silam.

Banyuwangi Ethno Carnival merupakan karnaval yang merepresentasikan adat tradisional asli Banyuwangi.

Ratusan pemain karnaval memakai kostum berdasarkan tema-tema karnaval yang berbeda setiap tahunnya.

Banyuwangi memang dikenal memiliki kekayaan seni budaya tradisional yang sangat luar biasa.

Hal tersebut ditunjukkan dengan masih banyaknya ritual dan upacara adat maupun event-event budaya yang dilaksanakan oleh masyarakat.

Berangkat dari kekayaan khasanah seni budaya tersebut, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi kemudian mengemas seni budaya tradisional tersebut menjadi Banyuwangi Ethno Carnival.

Harapannya, Banyuwangi Ethno Carnival dapat menjembatani modernisasi seni budaya lokal yang selama ini tumbuh dan berkembang dalam kehidupan masyarakat banyuwangi.

Banyuwangi Ethno Carnival juga merupakan parade berskala internasional, tanpa harus mengubah nilai-nilai yang sudah berkembang dan tumbuh di dalam masyarakat baik spirit maupun filosofinya.

Lebih lanjut, Banyuwangi Ethno Carnival juga diharapkan dapat memacu kreativitas muda untuk menuangkan gagasan-gagasan unit dan menarik serta memvisualisasikan gagasan yang berlatar etnik dan tradisi dalam bentuk dan kemasan artistic yang spektakuler.

Banyuwangi Ethno Carnival menjadi apresiasi terhadap nilai budaya lokal sehingga dapat memiliki daya tarik tersendiri dalam meningkatkan kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal maupun sebagai sajian yang sangat menarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Banyuwangi.

Setiap tahunnya, Banyuwangi Ethno Carnival diselenggarakan di sepanjang Jalan Protokol Kabupaten Banyuwangi pada waktu yang berbeda-beda.

Banyuwangi Ethno Carnival sering dilihat sebagai peniruan atas ajang sejenis di Jember, Jember Fashion Carnival (JFC).

Inspirasi Banyuwangi Ethno Carnival memang tidak lepas dari JFC, namun ada perbedaan mendasar antara keduanya.

Perbedaan tersebut terletak pada kekuatan konsep dan tema.

Konsep Banyuwangi Ethno Carnival berakar pada kesenian tradisional yang tidak dimiliki oleh JFC.

Banyuwangi Ethno Carnival menjadi jembatan antara kesenian tradisional dengan modern supaya lebih dapat diterima di panggung internasional.

Penyelenggaraan Banyuwangi Ethno Carnival selalu mengusung tema kebudayaan lokal.

Ketika karnaval lain sibuk menarik tema dari “luar” ke “dalam”, Banyuwangi justru melakukan hal sebaliknya.

Banyuwangi Ethno Carnival mencoba menggali apa yang dimiliki di “dalam” untuk diperkenalkan ke “luar”.

Upaya mengangkat kebudayaan lokal tersebut merupakan bentuk investasi kebudayaan kepada generasi muda agar bisa menyerap dan memahami makna filososfis yang ada di setiap tradisi masyarakat. (1)

Peserta penari gandrung yang ikut memeriahkan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2013 bersolek sebelum pementasan, di Kota Banyuwangi, Sabtu (7/9/2013). BEC diikuti ratusan peserta karnaval dari berbagai sekolah, sanggar seni, dan partisipasi warga Banyuwangi yang mengusung tema 'Legend of Kebo-keboan Blambangan' yang diambilkan dari tradisi upacara bajak sawah petani di Bayuwangi.
Peserta penari gandrung yang ikut memeriahkan Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2013 bersolek sebelum pementasan, di Kota Banyuwangi, Sabtu (7/9/2013). BEC diikuti ratusan peserta karnaval dari berbagai sekolah, sanggar seni, dan partisipasi warga Banyuwangi yang mengusung tema 'Legend of Kebo-keboan Blambangan' yang diambilkan dari tradisi upacara bajak sawah petani di Bayuwangi. (SURYA/DODO HAWE)

  • Banyuwangi Ethno Carnival I (2011) #


Banyuwangi Ethno Carnival pertama digelar pada Minggu, 22 Oktober 2011.

Banyuwangi Ethno Carnival pertama ini mengusung tema “Gandrung, Darmawulan, dan Kundaran”.

Ketiganya merupakan kesenian tradisional asli Banyuwangi.

Dari tiga kesenian tradisional itulah peserta Banyuwangi Erhni Carnival kemudian melakukan modifikasi kostum sehingga tampil lebih kontemporer.

Peserta Banyuwangi Ethno Carnival 2011 berasal dari hasil seleksi berbagai sekolah dan instansi yang ada di Kabupaten Banyuwangi dengan jumlah total mencapai 420 peserta.

Setelah lolos seleksi, peserta mengikuti workshop untuk dilatih cara membuat kostum dan berjalan di panggung peragaan busana. 

Para peserta yang tampil rata-rata butuh waktu dua sampai tiga pekan untuk mengkreasi kostum yang mereka pakai di acara karnaval budaya pertama tersebut.

Banyuwangi Ethno Carnival 2011 dibuka oleh pagelaran Tarian Gandrung Banyuwangi.

Tarian Gandrung awalnya merupakan tarian sakral yang dipercaya telah ada sejak jaman Majapahit.

Gandrung berasal dari Bahasa jawa yang berarti cinta atau terpesona.

Tarian ini mengandung maksud sebagai ungkapan cinta kepada Dewi Sri atau dewi kesuburan karena telah memberikan kesejahteraan pada masyarakat agraris Banyuwangi.

Pada acara pembukaan tersebut, penari yang tampil sejumlah 119 orang dari berbagai kalangan, mulai dari kalangan pelajar sampai dengan para penari senior.

Kostum kreasi mereka didominasi warna hitam dan merah.

Setelah penari Gandrung, di belakangnya menyusul penampilan kesenian Damarwulan atau disebut juga Jinggoan.

Kesenian ini merupakan teater rakyat Banyuwangi yang mengadopsi epos cerita “Minak Djinggo Vs Damarwulan”.

Pada barisan ini modifikasi kostum Damarwulan ditampilkan oleh 112 peserta, dimana seluruh kostum dan pernak-perniknya didominasi oleh warna biru, merah, dan hitam.

Penampilan terakhir adalah kesenian Kundaran yang muncul pertama sejak masuknya pengaruh Islam di Banyuwangi.

Pada awalnya, para penari Kundaran adalah pria, namun dalam perkembangannya Kundaran ditarikan oleh perempuan memakai pakaian gemerlap dengan gerak tari dinamis namun masih tampak keislamannya.

Kreasi kostum Kundaran menonjolkan warna oranye, hijau, dan merah.

Selain warna, tidak ada perbedaan mencolok pada kreasi kostum ketiga tema tersebut, sebagian besar kostum sama-sama memakai mahkota dan modifikasi bagian sayap. (2)

BEC2
BEC 2011. (banyuwangibagus.com)

  • Banyuwangi Ethno Carnival II (2012) #


Gelaran Banyuwangi Ethno Carnival yang kedua dilaksanakan pada 18 November 2012.

Tema yang diusung adalah Re-Barong Using, yaitu kostum peserta memakai pernak Pernik barong khas Using atau Banyuwangenan.

Tema Re-Barong berarti menggambarkan bahwa Barong yang akan ditampilkan berbeda dari aslinya.

Peserta dibagi menjadi 3 defile, yaitu Defile barong merah, barong kuning, dan barong hijau.

Ada juga tamu dari Jember Fashion Carnaval yang ikut andil dalam event kali  ini.

Biasanya orang mengenal barong sebagai kesenian Bali, namun di Banyuwangi juga ada sebuah kesenian Barong, yaitu Barong Using atau disebut juga Barong Kemiren.

Meski mirip, tetapi Barong Banyuwangi berbeda dengan Barong Bali.

Barong Using memiliki bentuk mirip Barong Bali hanya saja bentuknya lebih kecil.

Bentuk mukanya seperti serigala, bermahkota, dan bersayap di bagian kanan-kiri dengan paduan warna merah, kuning, dan hijau.

Sedangkan Barong Bali lebih besar dan tidak punya sayap.

Kesenian Barong biasanya dimainkan dalam bentuk teater rakyat yang sering ditanggap untuk pernikahan dan sunatan.

Selain itu di Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi dikenal ritual upacara adat yang bernama Barong Ider Bumi, yaitu ritual bersih desa yang dilangsung pada hari kedua setelah lebaran yang dilakukan oleh masyarakat suku Osing atau Using di desa tersebut. (3)

  • Banyuwangi Ethno Carnival III (2013) #


Banyuwangi Ethno Carnival III dilaksanakan pada 7 September 2013, mengusung salah satu budaya di Banyuwangi yakni, “The Legend of Kebo-keboan”. 

Budaya Kebo-keboan ini berasal dari Desa Alasmalang, Banyuwangi.

Ritual kebo-keboan dilakukan sebagai wujud doa dan pengharapan agar hasil panen bisa melimpah.

Ritual itu telah berkembang di Banyuwangi selama ratusan tahun.

Dalam masyarakat agraris, kerbau atau water buffalo mempunyai posisi spesial.

Kerbau merupakan rekan kerja dan harapan bagi petani.

Tidak seperti ternak lain seperti sapi yang dikonsumsi dagingnya, kerbau selalu dianggap hewan yang membantu kemakmuran dan ketahanan pangan petani melalui tenaganya.

Karena itu, kerbau memperoleh status penting dan perlakuan khusus ketika masa tanam.

Kebo-keboan merupakan sebuah ritual masyarakat lokal Banyuwangi yang berisi doa dan permohonan kepada Tuhan agar sawah mereka subur dan panen berlangsung sukses.

Dalam ritual itu, sejumlah orang didandani seperti kerbau yang merupakan simbolisasi mitra petani di sawah untuk menghalau malapetaka selama musim tanam hingga panen. (4)

Sejumlah peserta Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2013 mementaskan tradisi Kebo-keboan di hadapan penonton di Kota Banyuwangi, Sabtu (7/9/2013). BEC diikuti ratusan peserta karnaval dari berbagai sekolah, sanggar seni, dan partisipasi warga Banyuwangi yang mengusung tema 'Legend of Kebo-keboan Blambangan' yang diambilkan dari tradisi upacara bajak sawah petani di Bayuwangi. SURYA/DODO HAWE
Sejumlah peserta Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2013 mementaskan tradisi Kebo-keboan di hadapan penonton di Kota Banyuwangi, Sabtu (7/9/2013). BEC diikuti ratusan peserta karnaval dari berbagai sekolah, sanggar seni, dan partisipasi warga Banyuwangi yang mengusung tema 'Legend of Kebo-keboan Blambangan' yang diambilkan dari tradisi upacara bajak sawah petani di Bayuwangi. SURYA/DODO HAWE (SURYA/DODO HAWE)

  • Banyuwangi Ethno Carnival IV (2014) #


Pada tahun keempat, Banyuwangi Ethno Carnival mengusung tema The Mystic Dance of Seblang.

Banyuwangi Ethno Carnival keempat ini diselenggarakan pada 22 November 2014 dan diikuti oleh 500 peserta yang berparade di beberapa jalan utama di Banyuwangi.

Banyuwangi Rthno Carnival keempat ini mengangkat tema budaya dan tradisi lokal yang kental dengan nuasnsa mistis, yaitu Tari Seblang.

Tari Seblang merupakan tarian ritual tertua di Banyuwangi dan telah ditetapkan sebagai Watisan Budaya Nasional oleh pemerintah pusat.

Seblang berasa dari kata sebele ilang, atau sialnya hilang.

Tarian ini merupakan sebuah upacara ritual adat masyarakat suku Using Banyuwangi yang mengintepretasikan rasa syukur atas rezeki yang melimpah sekaligus sebagai tolak bala.

Ritual Seblang dapat dijumpai di Kelurahan Bakungan dan Desa Olehsari Kecamatan Glagah, Banyuwangi.

Nuansa magis yang masih kental dari ritual Seblang divisualisasikan dalam bentuk parade karnaval Banyuwangi Ethno Carnival.

Dari tema sentral Seblang tersebut digabi menjadi tiga sub tema, diantaranya Seblang Olehsari, Seblang Bakungan, dan Porobungkil.

Banyuwangi Ethno Carnival keempat ini dihadiri undangan beberapa tokoh penting seperti Dubes Amerika Serikat, Robert O Blake Jr., Konsul Jenderal AS di Surabaya, Joaquin F Monseratte, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, serta Menteri Pariwisata Arief Yahya. (5)

BEC4
ETNIK - Peserta karnaval Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2014, menarik ribuan penonton, termasuk Menteri Pariwisata Arief Yahya, Sabtu (22/11/2014) (surya/erfan hazransyah)

  • Banyuwangi Ethno Carnival V (2015) #


Banyuwangi Ethno Carnival kelima digelar pada 17 Oktober 2015 dengan tema Usingnese Royal Wedding atau pernikahan Suku Using.

Banyuwangi Ethno Carnival 2015 ini diikuti oleh ratusan peserta yang menampilkan ragam pengantin ala suku Using dalam balutan kostum kontemporer.

Parade dimulai dari Taman Blambangan dengan panggung seluas 10 x 16 meter dan dilengkapi cat walk sepanjang 70 meter.

Pagelaran diawali oleh parade Tari Gandrung kolosal kemudian disambung dengan prosesi ritual adat kemanten Using, yaitu perang bangkat.

Perang bangkat merupakan sebuah situs adat yang dilakukan dalam acara pernikahan apabila kedua mempelainya merupakan anak terakhir atau anak munjilan. (6)

Parade kostum bertema 'The Usingnese Royal Wedding' pada Banyuwangi Ethno Carnical 2015 yang diadakan di Taman Blambangan Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (17/10/2015).(KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI)
Parade kostum bertema 'The Usingnese Royal Wedding' pada Banyuwangi Ethno Carnical 2015 yang diadakan di Taman Blambangan Banyuwangi, Jawa Timur, Sabtu (17/10/2015).(KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI) ((KOMPAS.COM/IRA RACHMAWATI))

  • Banyuwangi Ethno Carnival VI (2016) #


Banyuwangi Ethno Carnival 2016 digelar pada Sabtu, 12 November 2016 dengan tema The Legend of Sritanjung Sidopekso.

Sekitar 40.000 orang memadati Taman Blambangan, Banyuwangi untuk menyaksikan gelaran tahunan itu.

Tidak hanya penonton yang ingin menyaksikan Banyuwangi Ethno Carnival, perwakilan-perwakilan dari pemerintahan baik tingkat kabupaten maupun provinsi juga hadir untuk belajar dan melihat langsung gelaran tersebut.

Di antaranya Bupati Tabanan, Bupati Bandung Barat, Wali Kota Cirebon, SKPD dari Pemkot Bandung, Pemprov Jawa Barat, DPRD Tulungagung, Malang, dan instansi pemerintahan lainnya.

Legenda Sritanjung bercerita tentang kesetiaan seorang Sri Tanjung, istri patih Sidopekso.

Namun kesetiaan itu berubah menjadi bencana karena sang suami Patih Sidopekso mendapat cerita bohong dari Sang Raja Sula Hadikromo yang rupanya jatuh cinta pada Putri Sritanjung.

Raja itu mengatakan bahwa Sri Tanjung jatuh cinta kepada sang Raja.

Patih Sidopekso pun murka dan membunuhnya.

Sebelum dibunuh, Sri Tanjung sempat mengatakan bahwa apa yang didengar suaminya adalah fitnah.

Bila tidak terjadi apa yang dituduhkan, Sri Tanjung bersumpah bahwa jasadnya akan mengeluarkan bau harum. (7)

BEC6
Salah satu peserta BEC 2016 menggunakan kostum Sritanjung(Kontributor Banyuwangi, Ira Rachmawati)

  • Banyuwangi Ethno Carnival VII (2017) #


Banyuwangi Ethno Carnival ketujuh digelar pada 11 November 2017 dengan tema Majestik Ijen.

Pada gelaran kali ini, ditampilkan 160 busana adikarya desainer lokal yang terinspirasi dari Gunung Ijen yang berada di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso.

Banyuwangi Ethno Carnival 2017 dihadiri oleh beberapa tokoh penting seperti Menko PMK, Puan Maharani dan Menteri Pariwiasta, Arief Yahya.

Ada tiga tema yang ditampilkan pada Banyuwangi Ethno Carnival ketujuh itu, diantaranya Belerang yang didominasi warna kuning, blue fire atau api biru dengan dominasi warna biru, dan lanskap dengan dominasi warna hijau. (8)

BEC7
Pserta BEC 2017 menampilkan kostum dengan tema Belerang(KOMPAS.COM / Ira Rachmawati)

  • Banyuwangi Ethno Carnival VIII (2018) #


Bannyuwangi Ethno Carnival kedelapan diselenggarakan pada 29 Juli 2018 dengan tema Puter Kayun.

Tema tersebut diambil dari tradisi warga Boyolangu ke Pantai Watudodol setiap tanggal 10 Syawal dengan menempuh perjalanan menggunakan dokar atau delman sejauh 15 kilometer.

Tradisi tersebut dilakukan masyarakat Boyolangu untuk menepati janji kepada leluhur mereka Ki Buyut Jakso yang telah membantu pembongkaran gunung batu saat pembukaan jalur Anyer Panarukan di wilayah Banyuwangi Utara.

Wilayah tersebut saat ini dikenal dengan nama Pantai Watudodol.

Fragmen BEC 2018 diawali dengan penampilan 100 penari Gandrung yang dibawakan para pelajar Banyuwangi lalu kemudian fragmen menceritakan Belanda yang kesulitan membuka jalur Anyer-Panarukan karena terhalang gunung batu yang tidak bisa hancurkan karena dihuni oleh makhluk halus.

Akhirnya Belanda meminta bantuan kepada Bupati Banyuwangi pertama, Mas Alit yang kemudian memerintahkan Ki Buyut Jakso, orang sakti dari Boyolangu.

Dengan mediasi Ki Buyut Jakso, para jin dan dedemit yang menghuni gunung batu tersebut mau dipindahkan namun dengan syarat bahwa setiap tahun, keturunan Ki Buyut Jakso harus menggelar selamatan di sekitar Pantai Watudodol.

Ki Buyut Jakso menyetujui, dibantu oleh masyarakat Boyolangu, gunung batu tersebut berhasil dihancurkan (didodol).

Lalu disisakan bongkahan batu di Pantai Watudodol sebagai penanda perjuangan Ki Buyut Jakso dan warga Boyolangu saat membuka jalur Anyer-Panarukan yang masih bisa dilihat hingga hari ini.

Janji kepada leluhur Ki Buyut Jakso selalu ditepati oleh masyarakat Boyolang.

Secara rutin, setahun sekali mereka mengendarai dokar atau delman menuju Pantai Watudodol.

Dokar dipilih karena pada masa itu sebagian besar masyarakat Boyolangu memiliki kuda dan bekerja sebagai kusir delman.

Parade busana kolosal yang masuk pada TOP 10 Calendar Event of Indonesia ini diikuti oleh 120 talent yang mengenakan busana merepresentasikan 10 sub tema yang diangkat dari ritual “Puter Kayun” seperti Kupat Lepet, Tapekong, Oncor-oncoran, Keris, Dokar, Buyut Jakso, dan Gedogan.

Selain panggung utama, ada juga 10 panggung yang ada di sepanjang jalur "cat walk" sepanjang 2 kilometer.

Di setiap panggung, para talent akan tampil diiringi musik tradisional yang dimainkan secara langsung oleh seniman-seniman dan penyanyi daerah Banyuwangi.

Selain 120 talent, hadir juga 35 wisatawan asing yang ikut dalam parade Banyuwangi Ethno Carnival.

Mereka ada yang berasal dari Jerman, Australia, Kolombia, Turkmenistan, Rusia, Palestina, Tajikistan, Rwanda, Uganda dan Hungaria.

Menggunakan pakaian Gandrung dan pakaian adat Banyuwangi, mereka menari di panggung utama. (9)

BEC9
Seorang talent menggunakan konstum Tapekong di Banyuwangi Ethno Carnival (BEC) 2018, Minggu (29/7/2018).(KOMPAS.com/IRA RACHMAWATI)

  • Banyuwangi Ethno Carnival IX (2019) #


Banyuwangi Ethno Carnival kesembilan digelar pada Sabtu, 27 Juli 2019 dengan tema The Kingdom of Blambangan.

Parade kolosal ini bakal menampilkan 120 kostum megah yang memvisualisasikan kisah kejayaan Kerajaan Blambangan dan kisah kemakmuran warganya. 

Tema ini diangkat karena sarat akan momen historikal yang mewarnai terbentuknya Kabupaten Banyuwangi.

Kepala Dinas Pariwisata MY. Bramuda menambahkan BEC akan dilaksanakan pada 27 Juli tepat pukul 12.00 WIB.

BEC kesembilan ini akan mengambil start di Jalan Veteran Taman Blambangan dan finish di depan Stadion Diponegoro di Jalan Jaksa Agung Suprapto.

Sebagaimana tahun sebelumnya, konsep BEC 2019 kembali menghadirkan 11 panggung, yakni satu panggung utama dan 10 panggung sub tema yang masing-masing berjarak 150 meter.

Setiap panggung sub tema akan menjadi panggung atraksi bagi masing-masing talent sub tema BEC. (10)

*Update informasi terakhir pada 23 Juli 2019

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Nama Banyuwangi Ethno Carnival
Nickname BEC
Kategori Festival Tahunan
Tempat Banyuwangi, Jawa Timur
Pertama Digelar 2011
Situs www.banyuwangitourusm.com
Akun Facebook @BanyuwangiEthnoCarnival
Akun Instagram @banyuwangiethnocarnival_
Akun Twitter @Banyuwangi_tour


Sumber :


1. www.banyuwangibagus.com
2. www.banyuwangibagus.com
3. www.banyuwangibagus.com
4. www.banyuwangibagus.com
5. www.banyuwangibagus.com
6. www.banyuwangibagus.com
7. surabaya.tribunnews.com
8. travel.kompas.com
9. travel.kompas.com
10. www.banyuwangikab.go.id


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

  • Film - My Blackberry Girlfriend

    My Blackberry Girlfriend adalah sebuah film drama komedi
  • Film - Teman Tegar Maira:

    Teman Tegar Maira: Whisper form Papua adalah sebuah
© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved