Informasi Awal #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Float merupakan grup musik folk rock asal Jakarta yang didirikan pada 2004.
Awalnya, Float merupakan sebuah proyek solo album.
Float digawangi oleh empat orang personel, Hotma Roni Simamora sebagai vokalis dan gitaris, David Qlintang sebagai gitaris, Binsar Tobing basis, serta Timur Segara sebagai drummer. (1)
Sejarah #
Seperti yang sudah disinggung di awal, bahwa Float awalnya merupakan sebuah proyek solo album.
Semua bermula pada 2002, setelah dua tahun lulus kuliah dan bekerja sebagai fotografer lepas, penyanyi sekaligus penulis lagu Hotma 'Meng' Roni Simamora diajak untuk bergabung dalam sebuah band bernama Zero oleh Svendpri Sanderson Umpel.
Svendpri adalah teman lama Meng ketika masih sekolah di bangku SMA.
Sedangkan Zero adalah sebuah proyek sampingan yang didirikan oleh Svendpri dan dua rekan se-bandnya di Mangobuds.
Kedua rekan Svendpri itu adalah Priyo Budz dan Richard Henry Pattiradjawane.
Windra 'Bontel' Benyamin, yang juga personel Mangobuds juga kerap ikut nongkrong saat Zero sedang latihan.
Pada akhir 2002, ketika Zero bermain di sebuah acara di Bandung, Bontel meminta Meng untuk memainkan beberapa lagu ciptaannya.
Setelah mendengarkan lagu-lagu ciptaan Meng, Bontel kemudian mengajak Meng untuk merekam lagu-lagunya di studio rekaman milik Bontel.
Pada awal 2003, Bontel dan Meng mulai merekam guide track yang terdiri dari vokal dan gitar.
Sebagian besar dari lagu-lagu itu ditulis Meng pada tahun 90an, diantaranya adalah 'Pulang', 'Sementara', 'Perlahan' dan 'Biasa' yang merupakan versi awal dari '3 Hari Untuk Selamanya'.
Sedangkan sebagian lainnya adalah karya-karya terbaru Meng waktu itu seperti 'No-Dream Land' dan 'Stupido Ritmo'.
Dengan materi yang ada, Bontel mengajak Meng untuk bersama-sama menjadikan proyek ini sebagai proyek album solo Meng di mana Bontel berperan sebagai produser.
Tidak lama kemudian, keduanya memutuskan hengkang dari Zero dan Mangobuds.
Bontel memilih mengerjakan 'Pulang' sebagai lagu pertama selama hampir setahun.
Hal ini disebabkan oleh rusaknya data digital yang menyimpan komposisi dan aransemen instrumen yang telah dibuat untuk lagu itu.
Kesibukannya dalam pekerjaan di sebuah rumah produksi sebagai sound designer dan jingle maker menjadi penyebabnya.
Untuk menyelesaikan aransemen 'Pulang', Bontel merasa perlu mengganti track bas plastik (midi) yang telah dibuat.
Akhirnya Bontel membujuk teman se-bandnya di d’Opera dulu, yaitu Raymond 'Remon' Agus Saputra, untuk bergabung sebagai pemain bas.
Setelah Remon bergabung, Bontel lalu mengajak Meng untuk kembali melanjutkan proyek album solonya sebagai sebuah band.
Pada 22 Agustus 2004 sesi rekaman 'Pulang' dan 'Stupido Ritmo' selesai.
Walaupun saat itu industri musik indie telah berkembang pesat, satu-satunya hal yang mereka lakukan pada karya rekaman itu agar didengar banyak orang adalah dengan membagikan copy rekaman ke teman-teman.
Karena saat itu baru 'Stupido Ritmo' saja yang sudah selesai mastering, keping-keping CD kopian itu hanya berisi satu lagu.
Mereka pun belum memikirkan nama yang mewakili mereka bertiga sebagai sebuah band, hingga seorang teman, Febi Lubis – Tassignon menanyakannya.
Untuk itu, pada tanggal 30 Agustus 2004, Meng menawarkan Bontel dan Remon tiga buah nama termasuk Float yang akhirnya terpilih karena maknanya yang paling mewakili ketiganya dalam hal pendekatan bermusik dan semangat kebebasan berekspresi.
Diam-diam, Febby mengirim CD itu ke Anton 'Not' Wahyudi yang saat itu bekerja sebagai music director di Radio Prambors Jakarta.
Tidak lama kemudian, 'Stupido Ritmo' mulai mengudara dan masuk ke daftar tangga lagu musik indie Prambors Nubuzz.
Lagu itu akhirnya mencapai puncaknya pada 8 Desember 2004 dan bertengger di sana selama tiga pekan.
Dengan tambahan lagu 'No-Dream Land', Float memutuskan untuk memproduksi sendiri album perdananya dengan judul yang sama.
Album itu hanya memuat tiga buah lagu, bersama dua lagu lainnya yaitu 'Stupido Ritmo' dan 'Pulang'.
Pada awal Januari 2005, album perdana Float 'No-Dream Land' yang jumlahnya hanya 1000 keping mulai didistribusikan melalui distro-distro dan pesanan.
Sebagian malah tetap mereka bagikan ke teman-teman, beberapa stasiun radio di kota-kota besar, stasiun TV swasta, dan target market lainnya.
Pada April 2005, Radio Prambors Jakarta menganugerahkan Float sebuah reward sebagai band yang jenis musiknya dianggap out of the box dalam ajang Prambors Blast The Rewards.
Tak disangka-sangka, pada November 2005, produser film Mira Lesmana berada di antara penonton di konser mini mereka di Tornado Coffee Kemang Jakarta.
Pada sesi rehat, Mira Lesmana menyampaikan kesukaannya pada musik Float.
Mira Lesmana juga menawarkan sebuah proyek kolaborasi di mana Float, dengan musik dalam album barunya nanti, akan mengisi soundtrack untuk film terbarunya yang berjudul '3 Hari Untuk Selamanya' yang disutradarai Riri Riza.
Album baru itu akan dirilis oleh label perusahaan rekamannya yang baru, yaitu Miles Music.
Tawaran itu pun langsung disambut antusias oleh Meng, Bontel dan Remon.
Sayangnya, bersamaan dengan kealpaan seorang manajer resmi yang berperan penting dalam menangani pengembangan visi, soliditas, citra, dan potensi bisnis yang diperlukan untuk kelangsungan eksistensi Float, berbagai masalah yang melibatkan ketiganya makin banyak bermunculan dan tidak terhindarkan.
Apalagi setelah Bontel dan Remon direkrut untuk bekerja di sebuah rumah produksi yang membuat ketiganya semakin jarang bertemu.
Akhirnya, pada 5 Februari 2006, Meng memutuskan untuk menjalankan proyeknya sebagai musisi solo.
Namun perpisahan itu tidak berlangsung lama.
Pada pertemuan Meng dan Abang Edwin SA yang juga merupakan teman istrinya, Meng menceritakan kondisi Float terakhir.
Abang mengusulkan agar mereka bersama-sama menemui Mira Lesmana untuk menceritakan perkembangan ini, sehubungan dengan tawaran kolaborasi yang sudah telanjur disanggupi oleh Float.
Akhirnya Meng setuju untuk bergabung kembali dengan Bontel dan Remon dalam Float yang baru sebagai sebuah proyek, bukan sebagai band.
Abang pun berperan sebagai manajer proyek itu.
Pada April 2006, mereka mulai mengerjakan album baru mereka yang kemudian diberi judul 'Music For 3 Hari Untuk Selamanya' (Miles Music, 2007).
Pada 21 Desember 2006, proses mastering album itu selesai.
Tidak lama kemudian, Jakobus Mulia bergabung dengan Float untuk membantu menjalankan peran manajerial.
Pada 18 Juli 2007, Timur Segara bergabung sebagai pemain pendukung dalam gig-gig Float.
Dengan album soundtrack mereka, Float memperoleh penghargaan bergengsi seperti Abhinaya Trophy untuk Soundtrack Terbaik di ajang Jakarta Film Festival dan Best Theme Song di ajang penganugerahan MTV Indonesian Movie Awards, di mana keduanya didapat di tahun yang sama.
Selain itu, sebuah pencapaian lain juga diraih Float, lagu mereka yang berjudul 'Surrender' digunakan sebagai lagu tema dalam promosi media sebuah film seri produksi Satellite Television for the Asian Region (STAR), sebuah televisi satelit berbayar yang berbasis di Hong Kong.
Film seri itu berjudul 'Heroes' (Season 2).
Pada awal 2008 masing-masing anggota Float memutuskan untuk mengerjakan proyeknya sendiri.
Meng pun melanjutkan Float dengan mengerjakan sendiri lagu-lagu barunya.
Satu di antaranya berjudul 'Waltz Musim Pelangi', dirilis dalam album kompilasi 'Songs Inspired by Laskar Pelangi'.
Setelah vakum selama dua tahun, akhirnya Meng menemukan tim baru untuk kembali menghidupkan Float.
Semua berawal saat Meng bertemu lagi dengan Timur Segara awal Desember 2010.
Timur menyarankan agar Float diaktifkan lagi dengan mengajak adik ipar Meng, Leo Christian, yang juga teman sekolah Timur dulu.
Untuk menyempurnakan formasi baru ini, David Qlintang dan Iyas Pras pun bersedia bergabung.
Desember 2011 formasi ini merilis singel 'I.H.I' yang ditulis Meng tahun 2010.
Awal 2012 singel kedua Float yang berjudul 'Ke Sana' dirilis.
Pasca Float2Nature, Leo dan Iyas kembali aktif dengan Ecoutez!.
Bontel dan Remon resmi bergabung lagi dan Float kembali ke formasi awal.
Pada masa awal reuni ini, Float menelurkan 'Songs Of Seasons' yang merupakan lagu tema iklan televisi Wonderful Indonesia yang digunakan sebagai media kampanye promosi pariwisata oleh Kementrian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Pada tanggal 2 sampai 3 November 2013, dengan dukungan dari berbagai pihak, manajemen Float kembali mengadakan Float2Nature.
Float2Nature yang kedua ini adalah Float2Nature yang pertama bagi formasi awal Meng, Bontel, dan Remon.
Sejak kembali ke formasi awalnya hingga sekarang, Float didukung David Qlintang, Wizra Uchra, dan Bharata Eli Gulö.
Bertepatan dengan perayaan hari jadi ke-10 yang jatuh pada 30 Agustus 2014, Float merilis album kedua '10'.
Dari jumlah total 1000 keping edisi terbatas, CD dengan nomor urut 0001-0300 dirilis pada malam mini konser '#F2N2014' yang diselenggarakan di Teluk Kiluan, Lampung.
Selain karya rekaman studio, dua lagu dalam album ini direkam secara live.
Pada 25 Oktober 2014, Float kembali didukung oleh Timur Segara.
Pada 7 November 2014, Arman Chaniago juga bergabung.
Pada 15 Agustus 2015, musik Float kembali tersedia di digital stores dengan album '10' (2014) yang kemudian disusul oleh mini album 'No-Dream Land' (2005).
Dua bulan setelah merayakan hari jadi Float yang ke-11, Bontel resmi keluar.
Bencana kebakaran hutan terburuk sepanjang sejarah yang terjadi di berbagai wilayah Indonesia pada tahun itu mendorong Float ikut berpartisipasi dalam kampanye 'Greenpeace Indonesia' yang mendesak pemerintah untuk membuka data-data pengelolaan hutan dan lahan di seluruh nusantara.
Rencana penyelenggaraan '#F2N2016' yang semula dijadwalkan pada 17 sampai 18 September 2016 akhirnya dibatalkan karena kuota minimal tidak tercapai.
Sebagai gantinya, manajemen Float bersama tim produksi '#F2N2016' mengajak floatmates untuk ikut merayakan hari jadi Float yang ke-12 di lokasi dan waktu yang sama.
Meng, Remon dan Bontel kembali berkontribusi dalam proyek promosi Wonderful Indonesia dengan mengerjakan ilustrasi musik dan original theme song 'Reborn' yang dirilis pada Februari 2017.
Dalam rangka pemulihan penyakit radang paru-paru yang dideritanya, Remon mengundurkan diri dari segala aktivitas di Float.
Posisinya digantikan Binsar Tobing.
Untuk pertama kalinya, Float mengadakan mini konser di alam terbuka sebanyak dua kali dalam setahun.
Acara yang dinamakan 'Floatspot Reborn' ini diadakan di Perkemahan Bungbuay, Situgunung Park, Sukabumi.
Acara pertama diadakan sebagai floatspot pembuka 2017, sedangkan yang kedua diadakan dalam rangka perayaan hari jadi Float yang ke-13.
Rekaman live 'Floatspot Reborn' yang pertama ini telah dirilis dalam album berformat digital yang bertajuk 'Live at Bungbuay'. (2)
Diskografi #
No Dreamland (2015)
Musif For “3 Hari Untuk Selamanya” (2007)
Waltz Musim Pelangi (2008)
I.H.I (Radio Edit) (2011)
Ke Sana (2012)
10 (Celebrating Float’s 19th Anniversary) (2014)
Keruh (2016)
Reborn (2017)
Live at Bungbuay (2017) (3)
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official
| Nama | Float |
|---|
| Kategori | Grup Musik |
|---|
| Aliran | Folk Rock |
|---|
| Asal | Jakarta |
|---|
| Dibentuk | 2004 |
|---|
| Alamat | Float2Nature Head Office Jalan Pintu Air Raya No 19 Jakarta Pusat 10710 |
|---|
| Situs dan Media Sosial |
|---|
| Situs | http://floatproject.com/ |
|---|
| Akun Facebook | @floatproject |
|---|
| Akun Instagram | @float_project |
|---|
| Akun Twitter | @float_project |
|---|
| Youtube | FLOAT PROJECT |
|---|
| Soundcloud | https://soundcloud.com/floatproject |
|---|
Sumber :
1. www.lorongmusik.com
2. floatproject.com
3. floatproject.com