TRIBUNNEWSWIKI.COM - Keindahan topi awan di Gunung Rinjani viral di media sosial pada Rabu pagi (17/7/2019).
Dilansir Kompas.com, Marufin Sudibyo astronom amatir Indonesia, mengatakan bahwa awan tersebut sesungguhnya berbahaya.
Awan yang bernama lentikular itu menandakan sedang terjadi pusaran angin di puncak gunung yang terjadi karena adanya putaran stasioner.
Awan yang membentuk topi ini dapat bertahan beberapa jam hingga berhari-hari dan memiliki dampak bagi pesawat yang melintas di atasnya.
Bagi pesawat, awan dan pusaran angin bersifat turbulen yang membuat pesawat terguncang hingga kehilangan altitudenya dengan cepat.
Sementara bagi pendaki, hembusan angin saat terjadi awan lentikular bisa mendatangkan hipotermia.
Meski demikian, awan lentikular tidak memiliki hubungan dengan aktivitas gunung berapi, gempa, ataupun tsunami.
Sebelumnya, awan ini sempat menyita perhatian warga dan netizen.
Dilansir Tribunnewswiki.com, fenomena topi awan ini pertama kali diunggah oleh akun Instagram bernama @ndorobeii, sekitar pukul 08.30 WITA.
Berdasarkan unggahan @ndorobeii, fenomena tersebut terjadi pukul 08.00 WITA.
Warna dan ketebalan awan lentikular ini pun berganti-ganti.
Fenomena topi awan ini bukan yang pertama di Indonesia.
Sebelumnya, di Gunung Semeru sempat terjadi fenomena serupa pada Desember 2018.
Meski ada fenomena topi awan, pendakian di Gunung Rinjani masih berjalan normal.
Hal tersebut dikatakan Teguh Riyanto, Kepala Seksi Wilayah I Lombok Utara, Taman Nasional Gunung Rinjani pada Kompas.com.
Sejak dibuka kembali pada 14 Juni 2019, pendaki yang lewat jalur Senaru sebanyak 2062 orang, jalur Sembalun 461 orang, jalur Air Berik 107 orang dan Jalur Timbanuh 286 orang.
Hal tersebut menandakan bahwa pendakian di Rinjani masih berjalan seperti biasa.
(TRIBUNNEWSWIKI.COM/Ahmad Nur Rosikin)
Untuk terus update informasi tribunnewswiki.com, ikuti kami di:
Instagram @tribunnewswiki
Fanpage Facebook Tribunnews Wiki
Youtube TribunnewsWiki Official