Telaga Jonge

Telaga Jonge adalah tempat wisata alam yang berada di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta.


zoom-inlihat foto
jonge.jpg
transpesona.com
Telaga Jonge dari atas. (transpesona.com)

Telaga Jonge adalah tempat wisata alam yang berada di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta.




  • Informasi Awal #


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Telaga Jonge adalah tempat wisata alam yang berada di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Yogyakarta.

Telaga Jonge memiliki luas sekitar tiga hektar.

Air di Telaga Jonge biasa digunakan oleh masyarakat sekitar untuk bertani, memancing, bahkan untuk mandi dan mencuci, terutama ketika musim kemarau berkapanjangan.

Uniknya, Telaga Jonge tidak pernah mengalami kekeringan sepanjang tahun meski di tengah musim kemarau.

Di sekitar Telaga Jonge terdapat hutan buatan dengan pohon-pohon besar, sehingga membuat udara di Telaga Jonge menjadi sejuk dan asri.

Telaga Jonge juga dikenal sebagai tempat petilasan, sehingga sering dikunjungi orang-orang untuk memohon doa dan sebagainya.

Ada beberapa pantangan di Telaga Jonge, seperti tidak boleh mengucapkan kata-kata kotor dan melakukan hal-hal yang tidak baik. (1)

Jonge 1
Warga tengah mengambil air sembari menggendong anaknya, di Telaga Jonge, di Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Gunungkidul, Jumat (19/5/2017). (tribunjogja/rendika ferri)

  • Sejarah #


Sejarah Telaga Jonge sampai sekarang masih simpang siur, karena masih sangat minim sumber-sumber tertulis tentang sejarah Telaga Jonge.

Belum diketahui secara pasti juga kapan Telaga Jonge tersebut dibangun.

Konon, penamaan Telaga Jonge diambil dari nama seorang tetua di Desa Pacarejo yang bernama Kiai Jonge.

Mbah Jonge adalah seorang prajurit Majapahit yang terdampar di Pantai Selatan Gunungkiful. (2)

Nama asli Mbah Jonge adalah Ki Sidik Wacono, ia terdampar di daerah Jepitu, Rongkop, Gunungkidul bersama enam orang prajurit lainnya.

Cerita ini bermula saat kekalahan Kerajaan Majapahit oleh Kerajaan Demak yang tidak berhenti pada takluknya para raja kecil di tanah Jawa bekas jajahan Majapahit kepada Kerajaan Demak.

Kerajaan Majapahit dan jajahannya yang berpaham Hindu, Budha, serta Animisme/Dinamisme terus mendapat tekanan dari Kerajaan Demak.

Hal ini tidak lepas dari agresifnya Kerajaan Demak dalam menyiarkan agama Islam hingga ke pelosok tanah Jawa.

Raden Patah mengutus pasukannya untuk melakukan penyerangan terhadap pasukan Majapahit dan antek-anteknya di Jawa Timur dan sekitarnya untuk menakluklan penaklukannya.

Sisa-sisa Laskar Majapahit yang sudah tidak terorganisir dengan baik mulai kocar-kacir dan pelarian mereka sudah tidak berpola, ada yang ke pantai selatan, ke gunung-gunung, membaur dengan masyarakat biasa, ada yang menjadi petani, pedagang, nelayan, dan ada yang terus mengembara menyelamatkan diri ke Bali.

Ki Sidiq Wacono, seorang prajurit pinilih, andal, dan setia kepada Majapahit yang masih tersisa terus melakukan pengembaraan menyusuri pantai selatan Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Yogyakarta.

Ki Sidiq Wacono sangat lihai dalam melakukan persembunyian hingga pasukan Demak tidak dapat menangkapnya meski sudah berbulan-bulan mengejarnya.

Namun ketika pengembaraannya sampai di pesisir tenggara Kabupaten Gunungkidul, perahu kecil atau jong yang ditumpangi Ki Sidiq Wacono dan enam orang prajurit lain ternalik atau kerem karena menabrak karang.

Perahu tersebut hancur dan tidak mungkin diperbaiki lagi.

Akhirnya tujuh prajurit tersebut mendarat dan masuk ke wilayah Desa Jepitu, Cuwelo, Wedi Ombo, Rongkop, dan sekitarnya.

Awalnya mereka hidup bergerombol, namun mereka sadar bahwa jika mereka bergerombol maka akan mudah ditemukan pasukan Demak.

Akhirnya mereka memutuskan untuk berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing, membaur di dalam masyarakat biasa.

Sebelum berpisah, mereka menggunakan “telik sandi” atau isyarat sebagai pertandan jika kelak suatu hari ditemukan tanda-tanda yang dimaksud merupakan jejak perjalanan mereka bertujuh.

Tiga tanda tersebut yang pertama mereka menyebut dirinya Jongke (Jong Kerem) untuk mengenang pendaratan mereka yang disebabkan karena perahunya yang tenggelam.

Jongke ini kemudian disebut Jonge oleh masyarakat karena lebih mudah dihafal.

Kedua, untuk mengenandai tujuh prajurit yang setia dan senasib tersebut, maka apabila suatu saat mereka meninggal dunia mereka minta agar kuburannya “dikrapyak tundu pitu”, semacam kayu nisan yang disusun bertingkat tujuh.

Terakhir, sisa hidup mereka akan dihabiskan untuk mengabdi kepada masyarakat dalam bentuk menyediakan sumber kehidupan berupa telaga.

Hal tersebut sangat berarti karena kawasan tersebut merupakan pegunungan karst yang tidak ada sumber air permukaan dan satu-satunya sumber air adalah tampungan air hujan.

Mereka juga tidak boleh mengangkat anak buah atau murid bela diri meski mereka adalah seorang pendekar.

Kehidupan Ki Sidiq Wacono kemudian dihabiskan untuk bertani dan mengolah lahan di kawasan hutan belantara.

Di daerah yang sulit air, maka dibuat “kedokan”, yaitu semacam waduk kecil untuk menampung air hujan dan dirawat sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk minum dan bercocok tanam sepanjang tahun.

Ki Sidiq Wacono atau Mbah Jonge bekerja sama dengan warga sekitar dan anak-anak muda untuk mengolah lahan pertanian.

Di sela-sela kesibukannya, Mbah Jonge juga memberikan “sesorah” yaitu semacam pesan-pesan bijak atau nasihat kepada warga sekitar.

Warga setempatpun semakin mengagumi Mbah Jonge dan mulai berpikir kalau ia bukanlah orang sembarangan sehingga banyak warga sekitar yang memberanikan diri menyampaikan keinginananya untuk menyerap ilmu Mbah Jonge atau menjadi muridnya.

Mbah Jonge tetap merendah dan tidak mengaku bahwa mempunyai ilmu “linuwih”.

Mbah Jonge tetap melayani warga sekitar dan selalu menasihati agar masyarakat giat bekerja, apa lagi tentang jati dirinya sebagai prajurit Majapahit benar-benar disimpan rapat hingga wafat.

Agar masyarakat  tidak kecewa atas permintaannya yang tidak dikabulkan, Mbah Jonge juga memberi wejangan kepada generasi muda tentang makna hidup, tujuan hidup, kebaikan dan pada hari-hari tertentu anak-anak muda diajak bergotong royong untuk membangun sarana-sarana yang sifatnya untuk kepentingan bersama.

Apa yang disampaikan Mbah Jonge kepada generasi muda inilah sebetulnya yang disebut pembelajaran ilmu bela diri, tetapi karena hal ini dilakukan dengan cara tidak terang-terangan dan sambil melakukan pekerjaan bertani dan pada waktu luang saja maka anak-anak muda tidak merasa bahwa sebetulnya mereka mendapat isian ilmu kanuragan atau bela diri.

Mbah Jonge tetap bertani sampai pada masa tuanya.

Ia terus merawat air tadah hujan dengan harapan dapat membantu keberlangsungan kehidupannya dan anak cucu kelak.

Ladang garapannya selain ada di Pedukuhan Kuwangen Lor juga berada di Desa Menthel yang diolah dan diperlakukan sama seperti di Telaga Jonge atau Kuwangen Lor.

Ketika Mbah Jonge wafat, sempat timbul sedikit ketegangan antara warga yang tinggal di Pedukuhan Kuwangen Lor dengan warga yang berada di Desa Menthel.

Keud pihak mengklaim bahwa merekalah yang berhak untuk menguburkan sesepuhnya itu.

Murid-murid yang ada di Kuwangen Lor ingin mengubur Ki Sidiq Wacono di tanah pertaniannya, yaitu di wilayah Kuwangen Lor, sedangkan murid-murid yang ada di Menthel ingin menguburkan  di Menthel  dengan alasan di sana sebagai tanah yang baru dan lebih tersembunyi.

Perdebatan tersebut nyaris menimbulkan adu fisik, untung ketika suasana semakin tegang datang seorang yang arif dan bijaksana berkata; “Kalian tidak usah berebut adu benar untuk menguburkan Si Mbah. Siapapun berhak mengubur dan di manapun boleh asal bisa menjelaskan apa wasiat Ki Jonge ini”.

Mendengar suara yang lirih tapi menggelegar itu warga yang tadinya berebut benar menjadi diam seribu bahasa.

Ditunggu sampai sekian lama tidak ada satu orangpun yang berani angkat bicara, maka orang tersebut berkata lagi; “Jonge asal dari kata Jong Kerem, Si Mbah pesan kalau meninggal minta di atasnya didirikan krapyak tundo pitu, lahan garapannya  diwariskan untuk anak-cucu, dijadikan sumber kehidupan bersama, yaitu air atau telaga dan pategalan untuk oro-oro tau ladang penggembalaan ternak”.

Selesai menjelaskan wasiat Ki Jonge, orang tua tadi langsung meminta kepada orang sahabatnya untuk mengangkat jasad Ki Sidik Wacono dan dibawa ke arah selatan menuju Menthel.

Warga pelayat tidak bisa berkata-kata seolah terhipnotis oleh orang-orang asing yang membawa jenazah dan berjalan terburu-buru seolah tidak mau berkomunikasi dengan siapapun yang ada arena pelayatan.

Sepeninggal orang tua dan enam orang yang membawa jenazah Ki Sidiq Wacono tadi, orang-orang di pelayatanpun mulai bertanya-tanya.

Mau dibawa ke mana jenazah Mbah Jonge?

Namun pertanyaan tersebut tak menemui jawab.

Keesokan harinya, sekelompok petani dari Padukuhan Menthel berdatangan dengan tujuan melayat karena berita tentang meninggalnya Mbah Jonge baru mereka dengar tadi malam.

Warga Kuwangen Lor pun menjadi bingung karena jenazah Mbah Jonge sudah dibawa ke Menthel, tapi mereka justru tidak tau tentang hal itu.

Mereka pun bersepakat untuk menelusuri ke mana jenazah Mbah Jonge dibawa.

Namun sampai saat ini, kisah meninggalnya Mbah Jonge masih menjadi misteri, terlebih karena belum ditemukannya makam Mbah Jonge tersebut. (3)

Sebagian masyarakat ada yang percaya bahwa meninggalnya Mbah Jonge terjadi secara moksa, atau kebebasan dari ikatan duniawai.

Namun hal itu masih menjadi perdebatan.

Ketika dilakukan pengerukan pada 1997, ternyata ditemukan cungkup makam di tengah-tengah telaga.

Makam tersebut diduga milik Mbah Jonge.

Sejak saat itu, warga mulai percaya dengan cerita moksanya Mbah Jonge di atas.

Sebagian warga juga percaya bahwa air di telaga dapat memberikan berkah sehingga banyak wara yang memadati area petilasan setiap malam Jumat Legi. (4)

Jonge 2
Telaga Jonge. (mutiaky.blogspot.co.id)

  • Mitos #


Ada beberapa mitos yang berkembang di tengah masyarakat.

Seperti Telaga Jonge harus dimanfaatkan untuk kemaslahatan anak cucu, bukan untuk yang lain.

Telaga Jonge juga tidak boleh digunakan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar norma hokum dan budaya masyarakat.

Masyarakat sangat memercayai hal tersebut, mereka percaya bahwa jika ada yang berbuat tidak semestinya di Telaga Jonge maka mereka akan mengelami karma yang tidak diduga dan kadang tiak masuk akal.

Mereka yang menyalahgunakan Telaga Jonge untuk keuntungan pribadi atau golongannya sendiri, maka mereka akan menanggung segala risikonya.

Bagi masyarakat yang memiliki tanah garapan yang berbatasan langsung dengan oro-oro Telaga Jonge dan mencoba memperluas tanahnya dengan mendesak lahan ke arah oro-oro agar tanahnya lebih luas, maka mereka akan menemui karma.

Karma tersebut biasanya berupa sakit berkepanjangan dan tidak kunjung sembuh, sulit mendapat obat sebelum dia menyadari dan mengembalikan tanah tersebut seperti semula.

Pada 1970-an, Pemerintah Desa Pacarejo menerapkan kebijakan dengan membuat kapling-kapling oro-oro Telaga Jonge untuk dibagikan kepada warga sekitar.

Satu KK mendapat satu kapling supaya diolah sebagai lahan pertanian.

Namun ternyata tanah jenis apapun tidak ada yang bisa hidup dan memberikan hasil yang semestinya.

Bahkan warga banyak yang mengalami kecelakaan seperti kena sabit, cangkul, tunggak, disengat kalajengking, digigit ular, dan sebagainya ketika menggarap lahan tersebut.

Berbeda dengan kejadian tahun 2000-an, pemerintah desa menerapkan kebijakan pengerukan telaga dan tanah sisa pengerukan ditimbun di oro-oro seputar air telaga, kemudian lahan ditanami pepohonan menjadi hutan kecil seperti sekarang.

Hal tersebut dapat berjalan lancar tidak ada halangan satu apapun bahkan pohon-pohon itu telah tumbuh subur semakin menambah keindahan Teloga Jonge yang daat kita nikmati seperti sekarang.

Dari situ masyarakat semakin percaya bahwa mereka tidak bosa menghilangkan fungsi sosial oro-oro sebagai lading penggembalaan menjadi milik pribadi.

Telaga Jonge juga sempat dibisniskan sebagai tempat pemancingan.

Atas nama panitia pengurus telaga, sebagian orang berinisiatif memelihara ikan di telaga dan setelah besar ikan tersebut dipanen dengan cara pemancingan umum berbayar.

Siapa saja boleh memancing ikan di telaga dengan cara membayar sejumlah uang kepada panitia.

Hampir semua orang yang melihat keadaan ikan di telaga pasti akan tertarik karena tampak banyak dan gemuk-gemuk.

Namun pada saat hari pemancingan ditentukan dan pemancing berbondong-bondong untuk memancing ikan, nyaris tidak ada seorangpun pemancing yang mendapatkan ikan.

Ketika peluit panjang tanda pemancingan dimulai ikan yang bergerombol-gerombol itu hilang seperti ditelan bumi.

Kejadian ini terus berulang dari tahun ke tahun hingga pemancingan terakhir pada tahun 2013 panitia sungguh merasa malu.

Kejadian lomba pemancingan di Telaga Jonge tahun 2013 bisa jadi sebagai lomba pemancingan terakhir berbayar karena kejadian demi kejadian yang membuat panitia dan tokoh masyarakat semakin meyakini kalau Telaga Jonge tidak bisa dibisniskan.

Kisah lain menceritakan bahwa ada seorang wanita yang mengina, merendahkan, atau meremehkan Telaga Jonge.

Hal ini bermula ketika musim kemarau, Telaga Jonge ditumbuhi ganggang halus semacam lumut yang biasa disebut tieng.

Ganggang ini pada pagi hari permulaan kena sinar matahari biasanya mengeluarkan bau amis atau anyir, warga sekitar sudah sangat memahami karena hal ini terjadi secara turun temurun sehingga tidak mengomentari kejadian alam tersebut.

Meski demikian, warga sekitar tetep memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci, karena setelah air tersebut disingkap tiengnya, maka bau amisnya akan hilang.

Suatu hari, seorang perempuan dari desa tetangga melihat hal tersebut dan berkomentar “walah banyu koyo ngono ambune amis kok do dienggo adus to yooo, njijiki!!! (walah air seperti itu, baunya amis kok pada dipakai mandi ya, menjijikan)”.

Belum genap 10 langkah perjalanannya ibu yang berkomentar ini kakinya tersandung batu dan jatuh seperti dihempaskan ke tanah dan kemudian mengalami sakit berkepanjangan. (5)

jonge 3
Telaga Jonge. (gunungkidulku.com)

  • Telaga Jonge Sekarang #


Sampai saat ini, Telaga Jonge masih menjadi tumpuan kehiduapan masyarakat sekitar.

Selain menyediakan air sepanjang tahun, Telaga Jonge juga menyimpan ikan untuk tambahan gizi masyarakat, padang rumput untuk tempat penggembalaan ternak, serta pepohonan untuk kesejukan dan keperluan bahan bangunan dan bahan bakar.

Telaga Jonge juga menjadi tempat perkemahan dan rekreasi.

Saat ini, Telaga Jonge sudah menjadi salah satu tujuan wisata di Gunungkidul dengan berbagai keunikan yang ditawarkannya.

Di sekitar telaga juga sudah dibangun jogging track, gazebo, warung makanan dan minuman. (6)

Baca: Goa Pindul

Baca: Monumen Yogya Kembali

  • Fasilitas #


Sebagai tempat wisata, Telaga Jonge sudah memiliki berbagai fasilitas yang bisa dinikmati oleh para pengunjung.

Fasilitas tersebut diantaranya area parkir kendaraan, Jogging track, musala, kamar mandi atau MCK, tempat istirahat, rumah makan, tempat pemancingan, dan masih ada beberapa fasilitas lainnya. (7)

Pada 26 Oktober 2018, telah dibuka Pasar Digital Telaga Jonge.

Pasar ini menjual berbagai macam kuliner mulai dari jenang, hingga soto bathok.

Uniknya, untuk berbelanja di pasar digital tersebut, uang rupiah tidak akan dipakai.

Pengunjung harus menukarkan uang tersebut dengan uang khusus yang dibuat dari kayu berbentuk persegi panjang.

Satu keping uang kayu tersebut nilainya Rp 2 ribu. (8)

jonge 4
Suasana Pasar Digital Telaga Jonge, Semanu, Gunungkidul, DI Yogyakarta, Jumat (26/10/2018).(KOMPAS.com/MARKUS YUWONO)

  • Akses #


Seperti yang sudah disebutkan di atas, bahwa Telaga Jonge terletak di Padukuhan Jelok, Desa Pacarejo, Semanu, Gunungkidul.

Lokasi tersebut dapat ditempuh kurang lebih 15 menit dari pusat kota Wonosari ke sebelah timur.

Bagi wisatawan yang menggunakan transportasi umum, dari Terminal Dhalsinarga, Wonosari, Telaga Jonge dapat ditempuh kurang lebih 10 menit.

Telaga Jonge buka setiap hari selama 24 jam.

Tidak ada biaya tiket masuk, alias gratis.

Pengunjung hanya dikenakan biaya parkir saja.

(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)

Jangan lupa subscribe kanal Youtube TribunnewsWIKI Official



Nama Telaga Jonge
Alamat Padukuhan Jelok, Desa Pacarejo, Kecamatan Semanu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta 55893
Posisi Utara berbatasan dengan wilayah Padukuhan Jelok, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul
Selatan berbatasan dengan Padukuhan Kuwangen Lor, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul (SMPN 3 Semanu)
Timur berbatasan dengan wilayah Padukuhan Jonge, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul
Barat berbatasam dengan wilayah Padukuhan Jelok, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul
Titik Koordinat 8°00'39.6
Google Map https://goo.gl/maps/yboEJLrt5GKej2Pc8
Tiket Masuk Gratis
Jam Buka Setiap Hari 24 jam


Sumber :


1. baltyra.com
2. visitingjogja.com
3. baltyra.com
4. ihategreenjello.com
5. baltyra.com
6. baltyra.com
7. ihategreenjello.com
8. travel.kompas.com


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved