17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Abdoel Moeis

Abdoel Moeis, tokoh Sarekat Islam pernah memimpin pemogokan buruh pegadaian, sistem pajak pemerintah Hindia Belanda hingga ia jadi pahlawan nasional


haerahr

17 AGUSTUS - Serial Pahlawan Nasional: Abdoel Moeis
merdeka.com dan id.wikipedia.org
Abdoel Moeis 

Abdoel Moeis, tokoh Sarekat Islam pernah memimpin pemogokan buruh pegadaian, sistem pajak pemerintah Hindia Belanda hingga ia jadi pahlawan nasional




  • Informasi Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Abdoel Moeis adalah seorang aktivis, politikus, jurnalis, dan sastrawan yang lahir di Bukittinggi, Sumatera Barat, pada 3 Juli 1886.

Ayah Abdoel Moeis berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, yang terkemuka dan berpengaruh.

Sedangkan Ibu Abdoel Moeis berasal dari Jawa dan memiliki keahlian pencak silat.

Abdoel Moeis bergelar Soetan Penghoeloe, beragama Islam dan aktif mengikuti organisasi politik beraliran Islam.

Abdoel Moeis memulai pendidikannya di Europees Lagere School (ELS), kemudian melanjutkan ke Kleinambtenaarsexamen {Amtenar Kecil), dan tiga tahun di STOVIA (Sekolah Dokter) di Jakarta, namun keluar lebih awal karena sakit.

Dalam perjalanan politiknya, Abdoel Moeis adalah anggota Sarekat Islam (SI) pimpinan Tjokroaminoto.

Pada saat SI terbelah, Abdoel Moeis merupakan tokoh SI Putih bersama Agoes Salim yang menjadi rival politik SI Merah pimpinan Semaoen dan Darsono.

Tercatat, Abdoel Moeis pernah menggerakkan rakyat untuk melakukan pemogokan untuk persoalan pemecatan sepihak pekerja, menolak sistem pajak pemerintah Hindia Belanda dan lain sebagainya.

Abdoel Moeis adalah juga seorang sastrawan yang terkenal dengan novel berjudul "Salah Asuhan".

Abdoel Moies meninggal di Bandung pada 17 Juni 1959 dan diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia yang pertama pada 30 Agustus 1959.

Abdoel Moeis 22
Abdoel Moeis (id.wikipedia.org)

  • Riwayat Pekerjaan dan Organisasi


Abdoel Moeis tercatat pernah magang di Departemen van Onderwijs en Eredienst, yaitu departemen yang dipimpin oleh Abendanon.

Kemudian, Abdoel Moeis diangkat menjadi Klerk di departemen tersebut pada tahun 1903 karena keahlian Bahasa Belanda.

Namun demikian, Abdoel Moeis keluar dari departemen tersebut karena tidak disukai oleh pegawai-pegawai Belanda.

Ketidaksukaan orang-orang Belanda terhadap Abdoel Moeis disebabkan karena sifat-sifat nasionalisme yang diperlihatkan Abdoel Moeis di depan para pegawai orang-orang Belanda.

Abdoel Moeis kemudian diterima bekerja sebagai korektor di kantor harian De Preanger Bode di Bandung.

Kepandaian Abdoel Moeis dalam Bahasa Belanda, menjadikan dirinya diangkat sebagai hoofdcorrector di kantor harian tersebut.

Abdoel Moeis tercatat merupakan anggota dari Sarekat Islam yang dipimpin oleh Haji Oemar Said Tjokroaminoto.

Abdoel Moeis diangkan menjadi pemimpin redaksi surat kabar Kaum Muda, yaitu surat kabar terbitan Serikat Islam di Bandung.

Dalam surat kabar tersebut, Abdoel Moeis sering menulis dengan nama sandi “A.M”

Dalam organisasi Sarekat Islam, Abdoel Moeis aktif dalam gerakan memperjuangkan otonomi yang luas bagi Hindia Belanda sepanjang Perang Dunia I.

Abdoel Moeis masuk sebagai anggota delegasi “Comite Indie Weerbaar” (Panitia Pertahanan Hindia).

Pada tahun 1917, Abdoel Moeis berkunjung ke Negeri Belanda.

Sepulangnya dari Belanda,  surat kabar pimpinannya, yaitu Kaum Muda telah dibredel oleh pemerintah Hindia Belanda.

Namun demikian, surat kabar tersebut berdiri lagi dengan nama Neratja, yang masih mempertahankan Abdoel Moeis sebagai pimpinan surat kabar tersebut.

Dalam perjalanan selanjutnya, Abdoel Moeis diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat) yang dibuka pada 18 Mei 1918.

Sebagai seorang wartawan, Abdoel Moeis menulis berita di berbagai surat kabar.

Selain itu Abdoel Moeis juga menulis dalam bidang politik.

  • Sarekat Islam: Perjuangan Politik dan Pemogokan


Abdoel Moeis merupakan tokoh Sarekat Islam dengan pimpinan Haji Oemar Said (H.O.S) Tjokroaminoto.

Pada akhir dekade kedua abad ke-20, Sarekat Islam terbagi menjadi dua kubu yaitu Sarekat Islam Putih dan Sarekat Islam Merah.

Sarekat Islam Putih dipimpin oleh Abdoel Moeis dan Agoes Salim, sedangkan Sarekat Islam Merah dipimpin oleh Semaoen dan Darsono.

Dalam tubuh Sarekat Islam, Abdoel Moeis menerapkan sistem disiplin partai untuk menyingkirkan orang-orang kiri.

Abdoel Moeis pernah dituduh terlibat dalam kasus tewasnya seorang pengawas perkebunan berkebangsaan Belanda di Tolitoli, Sulawesi Tengah, pada Juni 1919.

Abdoel Moeis dituduh sebagai otak pembunuhan karena dianggap telah menghasut rakyat.

Abdoel Moeis yang saat itu merupakan tokoh Sarekat Islam juga merupakan tokoh pemimpin dari serikat buruh.

Secara kolektif, Abdoel Moeis dan tokoh-tokoh serikat buruh lain berorasi menolak sistem tanam paksa.

Kendati tuduhan dan anggapan yang mengarah ke Abdoel Moeis tidak terbukti, Abdoel Moeis kemudian tetap ditangkap, dibawa ke pengadilan dengan dihukum penjara.

  • Pemogokan

Kendati menolak gagasan Komunisme, namun Abdoel Moeis masih percaya terhadap aksi mogok kerja.

Bagi Abdoel Moeis, perburuhan tidak selalu melekat pada golongan komunis.

Abdoel Moeis percaya bahwa aksi mogok diperlukan selama bertujuan untuk mendapatkan keadilan.

Setelah keluar dari penjara di Tolitoli pada tahun 1919, Abdoel Moeis memimpin mogok para pekerja pegadaian.

Abdoel Moeis merupakan Ketua Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera yang merupakan organisasi pendukung Sarekat Islam yang berpusat di Yogyakarta.

Abdoel Moeis sering mengadakan aksi pemogokan kaum buruh, seperti diterangkan oleh Robert van Niel bahwa Abdoel Moeis menggerakkan serikat buruh di Yogyakarta untuk kasus dipecatnya para buruh lokal / pribumi.

Kolektivitas pemogokan serikat buruh pegadaian pimpinan Abdoel Moeis merambah hingga daerah-daerah lain di Jawa seperti di Pekalongan, Kedu, Magelang, Semarang, Surabaya dan kota-kota lainnya.

Abdoel Moeis berupaya mengakhiri pemogokan tersebut dengan cara damai dengan meminta pemerintah Hindia Belanda untuk membentuk komite yang bertugas menampung aspirasi.

Namun demikian, permintaan Abdoel Moeis ditolak dan banyak buruh-buruh yang terlibat dalam aksi mogok dipecat.

Gerakan pemogokan ini lambat laun terdengar di seluruh pelosok daerah di Hindia Belanda yang kemudian berkembang menjadi isu nasional.

Pemerintah Hindia Belanda merespon aksi pemogokan ini dengan menculik tokoh-tokoh serikat buruh dan anggota Sarekat Islam.

Begitu pula juga Abdoel Moeis yang ditangkap di Jawa Barat pada Februari 1922, dan kemudian dipenjara.

Setelah keluar dari penjara, Abdoel Moeis masih melakukan aksi-aksi bersama rakyat.

Kali ini, Abdoel Moeis memimpin gerakan menentang sistem pajak pemerintah Hindia Belanda.

Aksi ini direspon pemerintah Hindia Belanda dengan kembali menangkap Abdoel Moeis dan diasingkan di Garut, Jawa Barat.

Di luar dari pengasingannya, Abdoel Moeis kembali melakukan aksi-aksi.

Pertentangan yang terjadi dalam tubuh Sarekat Islam mengharuskan Abdoel Moeis meninggalkan Jakarta dan kembali ke Sumatera Barat untuk meneruskan gerakan politiknya pada tahun 1923.

Abdoel Moeis kemudian memimpin harian Utusan Melaju dan Harian Perobahan.

  • Mengasingkan Diri

Menyadari gejolak pemogokan begitu sengit, Abdoel Moeis memilih untuk berkontribusi dalam dengan menulis karya-karya sastra, yang salah satunya adalah karya sastra terkenal berjudul “Salah Asuhan” yang terbit pada tahun 1928.

Pada tahun 1926 dan 1927, Abdoel Moies melakukan perlawanan dalam politik pajak tanah dan perpanjangan waktu efpacht.

Selain itu aksinya dalam gerakan adat menggemparkan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah tahun 1945, Belanda datang dan melaksanakan agresi militer.

Dalam hal ini, Abdoel Moeis membentuk badan perjuangan bernama Persatuan Perjuangan Priangan, dengan tujuan turut berkontribusi dalam perjuangan kemerdekaan.

Sejak saat itu, Abdoel Moeis mulai tidak menonjolkan diri dalam kegiatan politik dan lebih memilih menulis novel-novel atau menerjemahkan sastra mancanegara.

Profesinya sebagai sastrawan digeluti Abdoel Moeis sampai meninggal dunia.

  • Jejak sebagai Sastrawan


Mempunyai keahlian di bidang sastra, Abdoel Moeis sering menulis dan membuat Novel.

Salah satu novel Abdoel Moeis yang berjudul ‘Salah Asuhan’ mendapat perhatian dari banyak kalangan.

Hal tersebut terjadi karena isi novel yang menceritakan persoalan citra pemuda Indonesia.

Beberapa komentar datang dari kritikus tentang Abdoel Moeis.

Pengalaman Abdoel Moeis dalam bidang penulisan telah mengangkat namanya.

Karya-karya terkenal Abdoel Moeis dalam penulisan adalah novel, cerita pendek, saduran, dan terjemahan.

Abdoel Moeis pernah menerjemahkan karya Mark Twain yang berjudul 'Tom Sawyer' yang kemudian diubah dalam Bahasa Indonesia 'Tom Sawyer Anak Amerika'.

Selain itu, Abdoel Moeis juga pernah menerjemahkan 'Don Kisot' karya Cervantes dalam Bahasa Indonesia.

Cerita anak berjudul 'Sebatang Kara' merupakan saduran dari Karya Hector Malot yang diterjemahkan oleh Abdoel Moeis.

Abdoel Moeis juga menulis novel dengan tema sejarah yaitu 'Surapati' dan 'Robert Anak Surapati'.

Salah satu cerita pendek yang dibuat Abdoel Moeis yang terkenal adalah berjudul 'Suara Kakaknya'

Selanjutnya, cerita pendek (cerpen) yang dibuat Abdoel Moeis berjudul 'Di Tepi Laut' dimuat dalam Boedaja No. 12, tahun 1948.

Kemudian, beberapa puisi karya Abdoel Moeis yang dimuat dalam beberapa surat kabar yaitu:

  1. “Ummat Hanjut di Dunia Gulita” dalam Boedaja No. 12, tahun 1948.
  2.  “Insjaflah” dalam Boedaja No. 4, tahun 1948.
  3.  “Kenangan” dalam Boedaja No. 12, tahun 1948.
  4. “Koedjoendjoeng” dalam Boedaja No. 12, tahun 1948.
  5.  “Melati” dalam Boedaja No. 12 tahun 1948.
  6.  “Rindoe Dendam” dalam Boedaja No. 1 tahun 1948.

Dalam perkembangan Sastra Indonesia, menurut A. Teeuw dalam Sastra Indonesia Modern Jilid II,  Abdoel Moeis merupakan golongan pertama dari seorang sastrawan yang nasionalis

Sebagian peneliti sastra juga memasukkan Abdoel Moeis sebagai seorang sastrawan yang menerbitkan karya sastra dalam Penerbit Balai Pustaka.

Karya-karya Abdoel Moeis muncul sekitar tahun 1920an dan awal tahun 1930an.

  • Pahlawan Nasional


Dalam perjalanannya, Abdoel Moeis meninggal pada 17 Juni 1959.

Kemudian, oleh Pemerintah Republik Indonesia, Abdoel Moeis dijadikan Pahlawan Nasional dengan Surat Keputusan (SK) Presiden Republik Indonesia No. 2183/59 pada tanggal 30 Agustus 1959.

Gelar pahlawan nasional yang diberikan kepada Abdoel Moeis merupakan gelar pahlawan nasional pertama kali di Indonesia yang kemudian dilanjutkan menjadi kegiatan rutin kenegaraan.

  • Sumber Literatur:


Jangan lupa subscribe YouTube channel Tribunnewswiki.com:

  1. A . Teeuw, Sastra Indonesia Modern Jilid II, (Jakarta: Pustaka Jaya, 1989)
  2. Dendy Sugono (ed), Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern, (Jakarta: Pusat Bahasan Departemen Pendidikan Nasional, 2003)
  3. Robert van Niel, Munculnya Elite Modern Indonesia, (Dunia Pustaka Jaya, 1984)
  4. Takashi Shiraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, (Pustaka Utama Grafiti, Cetakan Kedua, 2005)
  5. Yusmar Basri, Abdoel Moeis: politikus, jurnalis, sastrawan, (Jakarta: Mutiara Sumber Widya, 2001)

(TribunnewsWiki.com/Dinar Fitra)



Informasi Detail
Nama Abdoel Moeis
Gelar Soetan Penghoeloe
Tempat & Tanggal Lahir Bukittinggi, Sumatra Barat, 3 Juli 1886
Meninggal Bandung, 17 Juni 1959
Keluarga
Ayah Datuk Tumangguan Sutan Sulaiman
Pendidikan Europees Lagere School (ELS)
Kleinambtenaarsexamen (Amtenar Kecil)
STOVIA (keluar karena sakit)
Magang Departemen van Onderwijs en Eredienst
Pekerjaan
Klerk – Departemen van Onderwijs en Eredienst
Korektor – Kantor Harian De Preanger Bode
Hoofdcorrector - Kantor Harian De Preanger Bode
Pemimpin Redaksi - Surat Kabar Kaum Muda
Anggota Delegasi – Comite Indie Weerbar (Panitia Pertahanan Hindia)
Pimpinan – Harian Neratja
Anggota – Volksraad (Dewan Perwakilan Rakyat jaman Hindia Belanda)
Pemimpin Redaksi – Bintang Hindia
Pimpinan – Harian Utusan Melaju
Pimpinan – Harian Perobahan
Ketua - Perserikatan Pegawai Pegadaian Boemiputera (PPPB)
Organisasi Sarekat Islam
Pahlawan Nasional SK Presiden Republik Indonesia No. 2183/59, tanggal 30 Agustus 1959.


Sumber :




Editor: haerahr






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved