Sejarah #
TRIBUNNEWSWIKI.COM – Rencong merupakan senjata tradisional yang berasal dari Aceh.
Berdasarkan catatan sejarah, rencong mulai dikenal sejak zaman kepemimpinan Sulthan Ali Mugayatsyah berkuasa di Kerajaan Aceh pada tahun 1514 sampai 1528 M.
Sejarah lain menyebutkan masyarakat Aceh telah menggunakan rencong sejak berdirinya kerajaan-kerajaan Islam pada sekitar abad ke-13. (1)
Kedudukan rencong bagi Kesultanan Aceh sangatlah penting.
Rencong selalu diselipkan di pinggang Sultan Aceh, para Ulee Balang dan masyarakat awam dan merupakan simbol keberanian dan kegagahan ureueng Aceh
Rencong emas milik Sultan Aceh dapat dijumpai di Museum Sejarah Aceh.
Hingga kini, rencong masih dipakai dalam upacara pernikahan yang menjadi simbol keberanian seorang laki-laki dalam memimpin keluarga saat berumah tangga. (2)
Masyarakat Aceh selalu menjaga kelestarian rencong secara turun temurun.
Sejak masa Kerajaan Samudera Pasai dan Kerajaan Aceh Darussalam, laki-laki Aceh terbiasa menyematkan rencong di pinggang setiap bepergian.
Jika dilihat secara sekilas, rencong memiliki bentuk seperti kalimat Basmalah yang ditulis dalam Bahasa Arab.
Tulisan itu memang tidak terlihat secara mendetail, namun secara kasar bentuk rencong memang mirip dengan kalimat Basmallah.
Hal tersebut menunjukkan adanya hubungan yang erat antara rencong dengan Islam.
Dibuktikan dengan penggunaan rencong yang hanya boleh dipakai untuk kebaikan, membela diri atau berperang di jalan Allah.
Zaman dulu, rencong digunakan para pahlawan dan pejuang Aceh untuk melawan tentara Portugis, Jepang dan Belanda untuk mempertahankan tanah kelahiran. (3)
Bahan dan Proses Pembuatan Rencong #
Saat ini, bahan baku yang paling banyak digunakan untuk membuat rencong adalah logam jenis besi putih dan besi hitam.
Setelah dibelah sesuai kebutuhan, selanjutnya besi tersebut dipanaskan di atas bara.
Setelah besi tersebut menyala merah, kemudian diletakkan di atas tatakan untuk selanjutnya dihantam berulang-ulang menggunakan alat semacam palu berukuran ekstra besar.
Proses tersebut dilakukan secara terus menerus sampai memperoleh bentuk yang diinginkan.
Proses pembuatan ini dinamakan penempaan merupakan proses penentuan berhasil atau tidaknya pembuatan rencong.
Sementara itu, gagang rencong dibuat dari kayu atau tanduk yang diukir menggunakan kikir.
Pada zaman dulu, motif ukiran yang dibuat hanya sebatas motif etnik seperti motif pintu Aceh atau pucuk rebung saja.
Namun saat ini, para perajin lebih berani berkreasi dengan menerapkan aneka motif tumbuh-tumbuhan maupun hewan.
Tahap terakhir pembuatan rencong adalah finishing, gagang yang sudah diukir kemudian dihaluskan dengan alat khusus.
Kemudian masukkan besi yang sudah dibentuk ke dalam gagang, maka jadilah senjata tradisional tersebut. (4)
Jenis Rencong #
Ada beberapa jenis rencong yang dikenal di masyarakat.
Jenis-jenis rencong tersebut dibedakan dari bentuknya.
Setidaknya ada empat jenis rencong yang biasa ditemui yaitu rencong meupucok, meucugek, pufoi, serta meukuree.
Rencong meupucok memiliki pucuk di atas gagang dan biasanya dibuat dari emas.
Umumnya gagang rencong meupucok terlihat sedikit lebih kecil, namun makin ke ujung akan semakin besar.
Rencong ini biasa digunakan untuk upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masalah adat dan kesenian.
Rencong meucugek bentuknya sedikit berbeda, karena di gagang rencong terdapat sebuah bentuk panahan dan perekat yang dalam bahasa Aceh disebut cugek atau meucugek.
Cugek ini diperlukan agar rencong mudah dipegang dan tak mudah lepas saat dipakai untuk menikam ke tubuh musuh.
Sementara itu rencong pudoi punya bentuk gagang lebih pendek dan lurus, sehingga dianggap sebagai rencong yang belum rampung dibuat.
Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh dipakai untuk menyebut sesuatu yang dianggap kurang atau belum sempurna.
Beda lagi dengan rencong meukuree yang mata pisaunya terdapat aneka ukiran, berupa gambar hewan atau bunga.
Selain itu, bahan yang digunakan dalam pembuatan rencong biasanya disesuaikan dengan si pemakai.
Untuk raja atau sultan, biasanya sarung rencong terbuat dari gading, sedangkan pisaunya dibuat dari emas dengan ukiran kutipan ayat Al-Qur’an.
Namun bagi rakyat biasa, sarung rencong terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sementara belatinya menggunakan kuningan atau besi putih. (5)
Harga Rencong #
Saat ini masih ada beberapa sentra pembuatan rencong di Aceh.
Untuk kawasan Aceh Besar, tempat penempaan rencong terdapat di Desa Bait atau Sibreh dan Desa Lamblang atau Darul Imarah.
Ukuran menjadi faktor utama yang menentukan harga rencong.
Rencong dengan panjang 10 cm sampai 12 cm biasanya dihargai Rp 20.000 sampai Rp. 75.000, sedangkan rencong yang panjangnya lebih dari 12 cm dihargai Rp 75.000 sampai Rp. 80.000.
Tetapi untuk rencong koleksi khusus, ada yang harganya mencapai ratusan ribu rupiah bahkan jutaan rupiah. (6)
Ronceng berbahan besi putih biasanya lebih banyak diminati karena lebih tahan karat.
(TribunnewsWIKI/Widi Hermawan)
Jangan lupa subscribe channel Youtube TribunnewsWIKI Official
| Nama | Rencong |
|---|
| Kategori | Senjata Tradisional |
|---|
| Asal Daerah | Aceh |
|---|
| Bahan | Logam (besi putih, besih hitam, dsb) |
|---|
| Panjang | 10 cm sampai 50 cm |
|---|
Sumber :
1. kebudayaan.kemdikbud.go.id
2. kebudayaan.kemdikbud.go.id
3. pesona.travel
4. www.wikipedia.web.id
5. pesona.travel
6. www.indonesiakaya.com