Gedung Sate

Gedung Sate berdiri pada September 1924. Gagasan untuk membangun Gedung Sate berawal dari penilaian pemerintah kolonial Belanda bahwa Batavia tidak lagi menjadi ibukota yang pantas karena berbagai dinamika yang terjadi.


Gedung Sate
Sumber foto musesumgedungsate.org
Gedung Sate 

Gedung Sate berdiri pada September 1924. Gagasan untuk membangun Gedung Sate berawal dari penilaian pemerintah kolonial Belanda bahwa Batavia tidak lagi menjadi ibukota yang pantas karena berbagai dinamika yang terjadi.




  • Sejarah Awal


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Gedung Sate berdiri pada September 1924.

Gagasan untuk membangun Gedung Sate berawal dari penilaian pemerintah kolonial Belanda bahwa Batavia tidak lagi menjadi ibukota yang pantas karena berbagai dinamika yang terjadi.

Gedung Sate dibangun untuk menjadi pusat pemerintahan Hindia Belanda, karena para petinggi colonial Belanda menganggap iklim di Bandung sama dengan iklim  Perancis Selatan ketika sedang musim panas.

Dahului pada masa pemerintahan kolonial Belanda, Gedung Sate disebut dengan Gouvernements Bedrijven (GB). (1)

Gedung Sate dirancang oleh sebuah tim ahli dari Belanda yang terdiri dari Ir. J. Gerber, Ir. Eh. De Roo dan Ir. G. Hendriks.

sarrrrr
Gedung Sate dahulu.

Proses pembangunan langsung ditangani oleh pihak Gemeente van Bandoeng atau pemerintahan kolonial kota Bandung saat itu yang diketuai oleh Kol. Pur. VL. Slors

Pembangunan Gedung Sate melibatkan 2000 pekerja yang terdiri dari 150 orang pemahat, pengukir batu nisan dan pengukir kayu berkebangsaan China yang berasal dari Konghu atau Kanton.

Peletakan batu bangunan Gedung Sate atau Gouvernements Bedrijven (GB).saat itu dilakukan oleh Johanna Caterina Coops, putri sulung Walikota Bandung yang bernama B. Coops serta Petronella Roelofsen sebagai wakil Gubernur Jenderal JP Graaf Van Limburg Stirum pada 27 Juli 1920.

Arsitektur

Arsitek pembangunan Gedung Sate menggabungakn beberapa aliran arsitektur ke dalam rancangan.

Dalam proses pembangunannya, maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage turut memberi saran agar tim ahli memasukkan unsur tradisional Indonesia sehingga Gedung Sate memiliki gaya arsitektur unik yang berupa perpaduan arsitektur Indo Eropa.

Untuk jendela mengadopsi konsep Moor Spanyol, dan untuk bangunan Gedung Sate menggunakan model Rennaisance ala Italia.

Selanjutnya untuk bagian bangunan menara ada arsitektur bergaya Asia, dimana atap gedung sate tampak seperti pura Bali atau pagoda di negeri Thailand.

Dan untuk bagian puncak Gedung Sate, dimana terdapat tiang dengan bentuk “tusuk sate” berjumlah 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati). (2)

Sementara untuk ornamen yang terbuat dari batu, yang letaknya ada pada bagian atas pintu utama Gedung Sate, sering diidentikan dengan arsistektur candi Borobudur.

Bentuk tampilan dari arah depan Gedung Sate Bandung pun sangat detil diperhitungkan oleh para perancangnya.

Pola arahnya ternyata mengadopsi arah sumbu poros utara dan selatan.

Keselatan menghadap Gunung Malabar di selatan dan kebalikannya ke utara menghadap Gunung Tangkuban Perahu.

  • Arsitektur


 Arsitek pembangunan Gedung Sate menggabungan beberapa corak budaya ke dalam rancangan.

Dalam proses pembangunannya, maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage turut memberi saran agar tim ahli memasukkan unsur tradisional Indonesia, sehingga Gedung Sate memiliki gaya arsitektur unik yang berupa perpaduan arsitektur Indo Eropa.

Untuk jendela mengadopsi konsep Moor Spanyol, dan untuk bangunan Gedung Sate menggunakan model Rennaisance ala Italia.

Selanjutnya untuk bagian bangunan menara ada arsitektur bergaya Asia, dimana atap gedung sate tampak seperti pura Bali atau pagoda di negeri Thailand.

Dan untuk bagian puncak Gedung Sate, dimana terdapat tiang dengan bentuk “tusuk sate” berjumlah 6 buah ornamen sate (versi lain menyebutkan jambu air atau melati). (3)

Sementara untuk ornamen yang terbuat dari batu, yang letaknya ada pada bagian atas pintu utama Gedung Sate, sering diidentikan dengan arsistektur candi Borobudur.

Bentuk tampilan dari arah depan Gedung Sate Bandung pun sangat detil diperhitungkan oleh para perancangnya.

Pola Arahnya ternyata mengadopsi arah sumbu poros utara dan selatan menghadap Gunung Malabar di selatan dan kebalikannya di utara menghadap Gunung Tangkuban Perahu.

Buah Kegagalan Rencana

Gedung Sate merupakan bagian kecil dari "Kompleks Pusat Perkantoran Insatansi Pemerintah Sipil Kolonial Belanda" yang menempati lahan Bandung Utara seluas 27.000 meter persegi yang disediakan oleh Gemeente Van Bandoeng lewat Raadbesluit yang disahkan pada tanggal 18 Desember 1929. (4)

Pembangunan Gedung Sate erat kaitannya dengan rencana Pemerintah Kolonial Belanda di Zaman Gubernur Jenderal J.P. Van Limburg Stirum yang memerintah antara Tahun 1916-1921 untuk melaksanakan usul H.F. Tillema pada Tahun 1916, seorang ahli Kesehatan Lingkungan dari Semarang, agar Ibukota Nusantara dalam hal ini Hindia Belanda dipindahkan dari Batavia atau Jakarta sekarang ke Kota Bandung.

Sejumlah Instansi atau departemen pemerintahan, dipindahkan dari Batavia, yang akan mendirikan gedung perkantorannya di sekitar Gedung Sate, diantaranya:

·         Departement Verkeeren en Waterstaat (Departemen Lalu Lintas dan Pengairan) atau DPU sekarang,

·         Hoofdbureau PTT (Kantor Pusat PTT),

·         Departement van Onderwijs en Eeredients (Departemen Pendidikan dan Pengajaran),

·         Departement van Financien (Departement Keuangan),

·         Departement van Binnenlandsch Bestuur (Departemen Dalam Negeri),

·         Departement van Economische Zaken (Departemen Perekonomian),

·         Hoge Raad (Mahkamah Agung),

·         Volksraan (Dewan Rakyat),

·         Centraall Regeering (Pusat pemerintahan),

·         Algemeene Secretarie (Sekretariat Umum),

·         Paleis van Gouverneur General (Istana Gubernur Jenderal),

·         Balai Negara dan,

·         Pusat Laboratorium Geologi.

Namun terjadi resesi ekonomi pada 1930-an dan rencana pemindahan ibukota negara beserta bangunan-banguan pemerintah pusat dari Batavia ke Bandung tidak dilanjutkan.

Sedangkan bangunan-bangunan yang sempat dirampungkan diantaranya Gedung Departement Verkeer en Waterstaat (Gedung Sate), Hoofdbureau PTT (Kantor Pusat Pos dan Giro), Laboratorium dan Museum Geologi, serta bangunan Pensioen Fonds (Dana Pensiun) yang kini menjadi Gedung Dwi Warna.

Pada 1980, Gedung Sate menjadi kantor Gubernur Jawa Barat setelah sebelumnya adalah kantor Dinas Lalu Lintas dan Pekerjaan Umum. (5)

Dalam masa perang kemerdekaan Gedung Sate memiliki nilai historis.

Pada tanggal 3 Desember 1945, tujuh orang pemuda pejuang yang mempertahankan Gedung Sate tersebut gugur melawan Pasukan Ghurka yang datang menyerang.

Kini sebuah monumen peringatan bagi pahlawan yang gugur itu, berdiri tegak di depan Gedung Sate.

Pada puncaknya terdapat ikon yang sangat terkenal yaitu "tusuk sate" dengan 6 buah ornamen sate yang konon melambangkan 6 juta gulden (jumlah biaya yang digunakan untuk membangun Gedung Sate). 

Nama Gedung Sate, secara harfiah diambil dari istilah kuliner sate dimana terdapat daging cokelat bertumpukan dalam satu tusuk lidi.

Pembangunan gedung ini memerlukan biaya tinggi karena memang material bangunannya pilihan. Batu berkualitas didatangkan dari pebukitan di Bandung Timur sekitar Arcamanik dan gunung Manglayang.

Marmer lantainya khusus didatangkan dari Italia.

  • Lokasi, Operasional dan Fasilitas


Gedung Sate berdiri di lahan seluas 27.990.859 m2

Alamat Gedung Sate berada di Jalan Diponegoro No. 22 Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.

Gedung Sate berjarak 5,5 km dari Bandara Husain Sastranegara.

Gedung Sate berjarak 3,1 km dari Stasiun Kereta Api Bandung.

Meski saat ini sekaligus berfungsi sebagai kantor pemerintahan Provinsi Jawa Barat, namun Gedung Sate bisa dimasuki wisatawan yang ingin berkunjung.

Di lantai dasar terdapat museum Gedung Sate yang berisi informasi sejarah tentang Gedung Sate dengan visualisasi teknologi yang modern.

Operasional Gedung Sate dibuka setiap hari Selasa hingga Minggu dengan waktu buka mulai dari pukul 08.00 hingga 16.00 WIB.

Tiket masuk hanya Rp. 5.000, namun jika berkunjung ke Gedung Sate harus terlebih dulu melakukan registrasi online via http://museumgedungsate.org/ dan harus mentaati aturan secara cermat karena area Gedung Sate juga digunakan sebagai kantor pemerintahan.

Fasilitas

Parkir

Restroom

Tempat kuliner

Penginapan

(TribunnewsWiki.com/Haris Chaebar)



Nama Lengkap Gedung Sate
Alamat Jalan Diponegoro No. 22 Kelurahan Cihaurgeulis, Kecamatan Coblong, Kota Bandung.
Koordinat 6.902459°S 107.618730°E
Google Map https://www.google.co.id/maps/place/GEDUNG+SATE


Sumber :


1. sejarahlengkap.com
2. tempatwisatadibandung.info
3. jabarprov.go.id








KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved