Monumen Pers Nasional

Cikal bakal Monumen Pers Nasional berasal dari balai perkumpulan dan ruang pertemuan yang dibangun pada sekitar 1918. Ruang pertemuan ini dibangun atas perintah Mangkunegara VII, Pangeran Surakarta dan diberi nama 'Societeit Sasana Soeka'. Desain gedung


zoom-inlihat foto
monumen-pers-nasional.jpg
kemdikbud.go.id
Museum Pers Nasional adalah salah satu cagar budaya yang terletak di Jl. Gajahmada No.76, Timuran, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah.

Cikal bakal Monumen Pers Nasional berasal dari balai perkumpulan dan ruang pertemuan yang dibangun pada sekitar 1918. Ruang pertemuan ini dibangun atas perintah Mangkunegara VII, Pangeran Surakarta dan diberi nama 'Societeit Sasana Soeka'. Desain gedung




  • Sejarah #


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Cikal bakal Monumen Pers Nasional berasal dari balai perkumpulan dan ruang pertemuan yang dibangun pada sekitar 1918.

Ruang pertemuan ini dibangun atas perintah Mangkunegara VII, Pangeran Surakarta dan diberi nama 'Societeit Sasana Soeka'.

Desain gedung dirancang oleh Mas Aboekassan Atmodirono.

Pada 1933, radio publik pertama yang dioperasikan rakyat pribumi dirintis di gedung ini.

Radio ini diberi nama 'Solosche Radio Vereeniging'.

Solosche Radio Vereeniging menyiarkan musik gamelan langsung dari Solo untuk mengiringi Putri Mangkunegoro VII, Gusti Nurul, yang membawakan tari Bedhaya Srimpi di Istana Kerajaan Belanda di Den Haag, pada 7 Januari 1937.

Saat itu, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya melakukan pertemuan guna merancang radio pribumi Indonesia.

Selain radio, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) juga dibentuk di gedung ini pada 9 Februari 1946.

Pada masa kolonial Jepang di Hindia Belanda, gedung ini pernah menjadi klinik perawatan tentara.

Gedung yang menjadi cikal bakal Monumen Pers Nasional pernah menjadi kantor Palang Merah Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia.

Pendirian Museum Pers Nasional berawal dari ide para wartawan seperti Rosihan Anwar, BM Diah, dan S Tahsin saat perayaan sepuluh tahun PWI pada 1956.

Pada 22 Mei 1956, dibentuk lah sebuah yayasan yang menaungi Museum Pers Nasional dengan koleksi yang disumbangkan oleh Soedarjo Tjokrosisworo.

Di tahun-tahun awal berdirinya, museum pers belum memiliki museum dalam bentuk fisik.

Perencanaan pembangunan gedung museum diresmikan oleh Menteri Penerangan Budiarjo pada tanggal 9 Februari 1971.

Kemudian museum ini diberi nama resmi 'Monumen Pers Nasional' pada 1973.

Lahan Monumen Pers Nasional disumbangkan ke pemerintah pada 1977.

Monumen Pers Nasional dibuka untuk publik pada 9 Februari 1978.

Monumen Pers Nasional kemudian ditetapkan sebagai destinasi wisata pendidikan dan menerima sumbangan material terkait pers di Indonesia.

Pada 2012 dan 2013, pihak pengelola Monumen Pers Nasional melalukan upaya promosi dengan mengadakan kompetisi seperti lomba fotografi di laman resmi Facebook Monumen Pers Nasional.

Selain melalui media sosial, pihak pengelola juga mengadakan pameran keliling di beberapa kota di Indonesia, seperti Yogyakarta dan Magelang. 

Monumen Pers Nasional ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) berdasarkan SK Menteri NoPM.57/PW.007/MKP/2010 dan NoPM.57/PW.007/MKP/2010. (1)

Baca: Warung Selat Mbak Lies

Baca: Desa Klodran

  • Bangunan #


Monumen Pers Nasional terdiri atas bangunan lama dan bangunan baru.

Bangunan lama yang dibangun pada 1918 terletak di tengah-tengah bangunan baru dengan denah persegi empat menghadap ke timur laut.

  • Ruang Utama #


Ruang utama Monumen Pers Nasional berukuran 27m x 28m.

Ruang utama berisi koleksi majalah kuno, surat kabar se-Indonesia, hingga patung-patung tokoh pendiri PWI seperti Soetopo Wonoboyo, R. Bakrie Soeratmodja, Dr. Abdul Rivai, Dr. Danudirdja Setiabudi, R.M.Bintara, Djamaluddin Adinegoro, R.M.Soedaryo Tjokrosisworo, R.Darmosoegito, Djokomono R.M. Tirtohadisoerjo, dan Dr. GSSJ Ratulangie.

Patung-patung tokoh PWI (Persatuan Wartawan Indonesia)
Patung-patung tokoh pendiri PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dipajang di ruang utama Monume Pers Nasional. (pariwisatasolo.surakarta.go.id)

Dalam ruang ini juga terdapat pemancar radio kuno yang dikenal dengan sebutan 'radio kambing'.

Nama 'radio kambing' dipilih untuk mengenang peristiwa disembunyikannya pemancar radio oleh para pejuang RRI (Radio Republik Indonesia) dan TNI (Tentara Nasional Indonesia).

Saat itu RRI Solo diserang oleh tentara Belanda.

Pemancar radio RRI Solo kemudian disembunyikan di kandang kambing di Desa Balong, lereng Gunung Lawu saat peristiwa Agresi Militer Belanda II pada 1948-1949.

Koleksi lain di ruang utama Monumen Pers Nasional adalah batu peresmial Monumen Pers Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto, (1)

Baca: Jokowi Ajak Rakyat Indonesia Bersatu Kembali Pasca Putusan MK

Baca: Deretan Fakta Usai Gugatan Tim 02 Ditolak MK, Koalisi Adil dan Makmur Bubar hingga IHSG Menguat

Koleksi koran-koran yang terbit pada zaman dahulu dipajang di Monumen Pers Nasional, Kamis (13/9/2018).
Koleksi koran-koran yang terbit pada zaman dahulu dipajang di Monumen Pers Nasional, Kamis (13/9/2018). (TribunWow.com/Astini Mega Sari)
Salah satu koleksi Monumen Pers Nasional, pemancar 'radio kambing',
Salah satu koleksi Monumen Pers Nasional, pemancar radio RRI Solo yang disembunyikan di kandang kambing di Desa Balong, lereng Gunung Lawu saat peristiwa Agresi Militer Belanda II pada 1948-1949. Pemancar ini kemudian dikenal dengan 'radio kambing'. (pariwisatasolo.surakarta.go.id)

  • Ruang II #


Ruang II terletak di sebelah timur ruang utama.

Di ruang II terdapat enam diorama yang menggambarkan sejarah perkembangan pers.

Diorama I bercerita tentang pemberitaan yang sudah ada sejak zaman nabi.

Diorama II menggambarkan keadaan pers masa penjajahan VOC dan keadaan jurnalistik pribumi yang menggunakan bahasa daerah pada 1855.

Diorama III mengisahkan keadaan pers masa kolonial Jepang di Indonesia.

Semangat perjuangan pers di awal kemerdekaan Indonesia diceritakan pada diorama IV.

Pers pada masa liberal dan demokrasi terpimpin dikisahkan pada diorama V.

Kebebasan pers yang dimulai pada masa reformasi dideskripsikan dalam diorama VI.

Ruang II juga memiliki koleksi mesin ketik milik wartawan koran Sipatahoenan Bandung, Bakrie Soeratmaadja.

Selain itu juga terdapat koleksi berupa baju milik wartawan senior TVRI yang bertugas meliput integrasi Timor-Timur ke Indonesia tahun 1975, Hendro Subroto.

Hendro Subroto tertembak di dada saat mengenakan baju ini ketika bertugas meliput serangan di Kabupaten Bobonaro pada November 1975. (1)

Baca: Tak Bisa Masuk Sekolah Favorit, Siswa Asal Pekalongan Bakar Belasan Piagam Penghargaan

Baca: Disney Umumkan Tanggal Perilisan Album Soundtrack Film The Lion King, Ada 19 Lagu dalam Daftar

d
Baju wartawan senior TVRI, Hendro Subroto, yang dikenakan saat meliput serangan di Kabupaten Bobonaro pada November 1975 kemudian meninggal terkena tembakan di dada bagian atas. (TribunVideo/Fajri Digit)

 

  • Gerbang #


Gerbang Monumen Pers Nasional dihiasi dengan patung empat kepala dan badan naga terlentang yang dinamakan Catur Manggala Kura.

Patung ini merepresentasikan 'Suryo Sengkala mlakuning sedya habangun nagara', yang dalam bahasa Indonesia berarti tahun 1980 (tahun selesai pembangunan Monumen Pers Nasional).

Bagian belakang naga terdapat kenthongan besar yang diberi nama Kyai Swara Gugah yang berfungsi sebagai media informasi pada zaman dahulu. (1)

Baca: Terkait Putusan MK, Maruf Amin: Kita Satu, Kita adalah Indonesia

Baca: TKN Sindir Prabowo-Sandi: Seharusnya Mengakui Kemenangan Jokowi-Maruf dan Ucapkan Selamat

  • Ruang Konservasi dan Reservasi #


Ruangan ini dibagi menjadi dua bagian yang memiliki fungsi berbeda.

Ruang pertama digunakan untuk menyimpan surat kabar tahun 2000-an sedangkan ruang kedua menyimpan surat kabar sebelum tahun 2000.

Surat kabar ditata secara berkelompok dan berututan. (1)

  • Perpustakaan #


Perpustakaan di Monumen Pers Nasional memiliki koleksi ribuan buku tentang pers, komunikasi, dan informasi.

Monumen Pers Nasional juga membuka keanggotaan perpustakaan bagi masyarakat umum. (1)

Baca: Vanessa Angel Segera Bebas, Doddy Sudrajat Beri Pesan Kepada Sang Putri

Baca: Hasil dan Jadwal Copa America 2019, Brasil Lolos Semifinal, Argentina Dihantui Rekor Venezuela



Alamat Jl. Gajahmada No.76, Timuran, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah 57132
Koordinat 7°33'53.5
Google Map https://goo.gl/maps/cWiGCxRvBp27Z7Ht6
Luas Gedung 2.998 m2
Luas Lahan 2.907,26 m2
Pengelola Kementerian Komunikasi dan Informatika
Waktu Operasional Setiap hari pukul 08.00 - 15.00 WIB


Sumber :


1. cagarbudaya.kemdikbud.go.id


BERITATERKAIT
Ikuti kami di
KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2026 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved