Willibrordus Surendra Broto Rendra

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal W. S. Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah pada 7 November 1935.


Widi Pradana Riswan Hermawan

Willibrordus Surendra Broto Rendra
video.kompas.com
W. S. Rendra membaca puisi 

Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal W. S. Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah pada 7 November 1935.




  • Kehidupan Pribadi


TRIBUNNEWSWIKI.COM - Willibrordus Surendra Broto Rendra atau lebih dikenal W. S. Rendra lahir di Solo, Jawa Tengah pada 7 November 1935.

Keluarganya merupakan keluarga yang cukup terpandang dan berada.

Ayahnya, Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo adalah seorang guru Bahasa Indonesia dan Bahasa Jawa di sebuah sekolah Katolik di Solo, Jawa Tengah.

Sedangkan sang ibu, Raden Ayu Catharina Ismadillah merupakan seorang penari serimpi di Keraton Surakarta.

W. S. Rendra menghabiskan masa kecilnya di kampung halamannya di Solo, sebelum ia akhirnya pindah ke Yogyakarta karena kuliah di sana.

Selama perjalanan hidupnya, W. S. Rendra tercatat pernah menikah dengan tiga orang perempuan dan total memiliki anak sebanyak 11 orang.

Perempuan pertama yang dinikahi W. S. Rendra adalah Sunarti Suwandi, yang ia nikahi pada 31 Maret 1959.

Dari Sunarti Suwandi, W. S. Rendra memiliki lima orang anak, yakni Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta.

Rendra-Sunarti beserta anak-anaknya
Rendra-Sunarti beserta anak-anaknya (biografi.id)

Perempuan kedua yang dinikahi W. S. Rendra adalah Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat, seorang putri berdarah biru keturunan Keraton Yogyakarta.

Perempuan yang dipanggil Jeng Sito oleh W. S. Rendra ini dinikahinya pada 12 Agustus 1970.

Perkawinan ini sempat tidak direstui oleh keluarga Jeng Sito karena perbedaan agama, Jeng Sito Islam, dan W. S. Rendra Katolik.

Hal itu tidak menjadi masalah untuk W. S. Rendra, karena pada hari pernikahannya, disaksikan oleh temannya Taufiq Ismail dan Ajip Rosidi, W. S. Rendra mengucapkan dua kalimat syahadat.

Hal tersebut mengundang kontroversi di tengah publik, karena W. S. Rendra dinilai masuk Islam hanya untuk poligami saja.

Namun W. S. Rendra membantah, ia mengaku sudah sejak lama tertarik dengan ajaran Islam, terutama sejak periapan pementasan Kasidah Barzanji, beberapa bulan sebelum pernikahannya dengan Jeng Sito.

Adapun alasan W. S. Rendra yang lebih prinsipil, menurutnya Islam dapat menjawab persoalan pokok yang terus menghantuinya, yakni dengan menjamin kemerdekaan individual sepenuhnya.

“Saya bisa langsung beribadah kepada Allah tanpa memerlukan pertolongan orang lain. Sehingga saya merasa hak individu saya dihargai,” kata W. S. Rendra sambil mengutip ayat Quran, yang menyatakan bahwa Allah lebih dekat dari urat leher seseorang.

Adapun julukan Si Burung Merak didapatnya ketika ia menjami seorang temannya dari Australia di Kebun Binatang Gembiraloka, Yogyakarta.

Ketika melihat seekor burung merak jantan berjalan dengan dua betinanya, W. S. Rendra berseru, “Itu Rendra! Itu Rendra”, sambil terbahak.

Sejak saat itu, sampai sekarang julukan Si Burung Merak masih melekat dalam diri W. S. Rendra.

Dari pernikahannya dengan Jeng Sito, W. S. Rendra dikaruniai empat orang anak yakni Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati.

W. S. Rendra kembali menikah untuk ketiga kalinya. Istri ketiganya yakni, Ken Zuraida pada 1976 dan memiliki dua orang anak yakni Isaias Sadewa dan Maryam Supraba.

Namun pernikahan itu harus dibayar mahal oleh W. S. Rendra, karena pada 1979, ia harus menceraikan Sitoresmi dan tidak lama setelah itu, pada 1981 ia juga bercerai dengan istri pertamanya, Sunarti. (1)

W. S. Rendra menghembuskan napas terakhir pada 6 Agustus 2009 di Depok Jawa Barat di usianya yang ke 73 tahun.

W. S. Rendra dimakamkan di komplek pemakaman keluarga W. S. Rendra di Bengkel Teater Seni W. S. Rendra, Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat.

Lokasi makam W. S. Rendra tidak jauh dari makam sahabatnya, Mbah Surip.

Sekitar 1.000 orang dari berbagai kalangan mulai dari artis, pejabat, hingga masyarakat biasa ikut mendampingi prosesi pemakaman Si Burung Merak itu.

Beberapa anggota keluarga dan orang-orang terdekatnya yang hadir diantaranya Iwan Fals, Emha Ainun Nadjib, Tarzan, Ian Antono, Miing Bagito, dan Oding Agam.

Adnan Buyung Nasution yang kala itu menjabat sebagau Anggota Dewan Pertimbangan Presiden juga hadir dalam pemakaman W. S. Rendra. (2)

  • Riwayat Pendidikan


W. S. Rendra memulai pendidikannya di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, Solo pada tahun 1942.

Lulus dari TK, W. S. Rendra kemudian menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA dan lulus tahun 1952 di Sekolah Katolik, St. Yosef, Solo.

Lulus dari SMA, W. S. Rendra kemudian pergi ke Jakarta dengan niat untuk mendaftar ke Akademi Luar Negeri, namun ternyata pendaftaran tersebut sudah ditutup.

W. S. Rendra kemudian pergi ke Yogyakarta dan akhirnya kuliah di Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.

Namun W. S. Rendra tidak menyelesaikan kuliahnya. Ia kemudian mendapat beasiswa dari American Academy of Dramatical Art (AADA) untuk memperdalam pengetahuannya di bidang drama dan tari di Amerika sejak 1964 sampai 1967.

Ketika di Amerika, W. S. Rendra juga pernah mendapat undangan dari pemerintah setempat untuk mengikuti seminar tentang kesusastraan di Universitas Harvard. (3)

Ken Zuraida dan W. S. Rendra
Ken Zuraida dan W. S. Rendra (biografi.id)

  • Riwayat Karier


W. S. Rendra merupakan penyair atau sastrawan ternama yang pernah dimiliki Indonesia.

Bakatnya di bidang sastra sudah terlihat ketika W. S. Rendra masih duduk di bangku SMP. W. S. Rendra saat itu banyak menulis puisi, cerita pendek, serta naskah pementasan drama untuk berbagai kegiatan sekolahnya.

Selain menulis, W. S. Rendra juga sangat piawai ketika di atas panggung.

Drama pertama yang dipentaskan W. S. Rendra di atas panggung adalah “Kaki Palsu” yang ia bawakan ketika masih duduk di bangku SMP.

Sedangkan drama berjudul Orang-Orang di Tikungan menjadi drama pertamanya yang mendapat penghargaan dan hadiah dari Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan kebudayaan, Yogyakarta ketika ia masih duduk di bangku SMA.

Puisinya pertama kali dipublikasikan di media massa pada tahun 1952 oleh Majalah Siasat.

Sejak saat itu, karya-karyanya mulai banyak menghiasi berbagai majalah seperti Majalah Kisah, Seni, Basis, Konfrontasi, serta Siasat Baru.

Hal ini terus berlanjut, terutama di era 60 dan 70-an.

Menjelang naik ke kelas 2 SMA pada tahun 1953, W. S. Rendra sudah memantapkan dirinya untuk menjadi seorang penyair.

Pada tahun 1967 sepulangnya dari Amerika Seikat, W. S. Rendra mendirikan sebuah sekolah teater yang dinamainya Bengkel Teater di Yogyakarta. Ia juga mendirikan Bengkel Teater di Depok, Jawa Barat. (4)

Pengalaman-pengalaman ilmiah selama berada di Amerika Serikat sangat memengaruhi warna keseniannya.

Sebagaimana seniman, W. S. Rendra lebih banyak terlibat terhadap masalah-masalah sosial-politik-budaya.

Saat itu menjadi periode dimana W. S. Rendra bergulat mencari bentuk seni yang tepat untuk tema-tema sosial politik dari inspirasinya.

W. S. Rendra tidak bisa menerima kredo-kredo sosial realisme yang banyak dianut seniman pada waktu itu.

Akhirnya W. S. Rendra menemukan rumusan estetik untuk sajak-sajaknya yang bertema sosial politik sebagai berikut: metafora yang dipakai bersifat grafik dan plastik, dan dalam bentuk semacam itu ternyata ia bisa menciptakan sajak-sajak yang enak dibaca di muka umum. (5)

W. S. Rendra terus berkarya dan tampil dari panggung ke panggung hingga masa tuanya.

Karya-karyanya tidak hanya dikenal di dalam negeri, melainkan juga di luar negeri. Beberapa karyanya bahkan diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa asing seperti Inggris, Belanda, Jerman, Jepang, Hindi, Urdu, Korea, Rusia, Perancis, Cheko, hingga Swedia.

Selain itu, W. S. Rendra juga berhasil menyabet berbagai penghargaan atas karya-karyanya.

Meski demikian, Prof. A. Teeuw dalam bukunya yang berjudul Sastra Indonesia Modern II yang terbit 1989, mengungkapkan bahwa dalam sejarah kesusastraan Indonesia modern, W. S. Rendra tidak termasuk ke dalam kelompok Angkatan 45, Angkatan 60-an, maupun Angkatan 70-an.

Hal ini karena dari karya-karya yang dibuatnya, W. S. Rendra memiliki kepribadian dan kebebasannya sendiri.

Prosesi Pemakaman W. S. Rendra
JAKARTA, 7/8 - THE LATE RENDRA. Some people visit WS Rendra house in Bengkel Tetar Rendra in Cipayung, Depok, West Java, Friday (7/8). Rendra the founder of Bengkel Teater Rendra and modern theater in Indonesia, died at 22.00 WIB on Thursday (6/8).FOTO ANTARA/Ujang Zaelani/Koz/hp/LD/09.


Balada Orang-orang Tercinta (Kumpulan sajak)

Jangan Takut Ibu

Blues untuk Bonnie

Empat Kumpulan Sajak

Rick dari Corona

Sajak Seonggok Jagung

Sajak Rajawali

Surat Cinta

Rumpun Alang-alang

Sajak-sajak Sepatu Tua

Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api

Perjuangan Suku Naga

Mencari Bapak

Perjalanan Bu Aminah

Nyanyian Orang Urakan

Pamphleten van een Dichter

Potret Pembangunan Dalam Puisi

Disebabkan Oleh Angin

Orang Orang Rangkasbitung

Rendra: Ballads and Blues Poem (terjemahan)

State of Emergency

Do'a Untuk Anak-Cucu

Pesan Pencopet Kepada Pacarnya

Nyanyian Angsa

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta!

  • Festival Internasional


The Rotterdam International Poetry Festival (1971 dan 1979)

The Valmiki International Poetry Festival, New Delhi (1985)

Berliner Horizonte Festival, Berlin (1985)

The First New York Festival of the Arts (1988)

Spoleto Festival, Melbourne, Vagarth World Poetry Festival, Bhopal (1989)

World Poetry Festival, Kuala Lumpur (1992)

Tokyo Festival (1995)

  • Naskah Drama dan Saduran


Orang-orang di Tikungan Jalan (1954)

Bib Bob Rambate Rate Rata (Teater Mini Kata) - 1967

SEKDA (1977)

Selamatan Anak Cucu Sulaiman

Mastodon dan Burung Kondor (1972)

Hamlet (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)

Macbeth (terjemahan dari karya William Shakespeare, dengan judul yang sama)

Oedipus Sang Raja (terjemahan dari karya Sophokles, aslinya berjudul "Oedipus Rex")

Lysistrata (terjemahan)

Odipus di Kolonus (Odipus Mangkat) (terjemahan dari karya Sophokles)

Antigone (terjemahan dari karya Sophokles)

Kasidah Barzanji

Lingkaran Kapur Putih (1976)

Panembahan Reso (1986)

Kisah Perjuangan Suku Naga

Shalawat Barzanji

Sobrat

Kereta Kencana, (1962)

Eksperimen Paraguay (1963)

Pangeran Honburg (1968)

Menunggu Godot (1969)

Lysisastra (1974)

Perampok (1976)

Buku Harian Seorang Penipu (1989)

  • Pembacaan Sajak Tunggal


Sebagai penyair, WS. Rendra juga telah banyak melakukan pembacaan sajak tunggal di Yogyakarta, Bandung, Jakarta, Semarang, Surabaya, Jember, Malang, Banyuwangi, Pangkalpinang, Tembilahan, Bandarlampung, Tasikmalaya, Pontianak, Sukabumi, Medan, Tegal, Ujungpandang, Manado, Rotterdam, Leiden, Den Haag, Aachen, Berlin, Koln, Frankfurt, Luneberg, Bremen, Hanburg, Sydney, Canberra, Amellbourne, Adelaide, Perth, New Delhi, Bhopal, Trivandrum, Kuala Lumpur, Kota Kinabalu, Kuala Terengganu, Kota Bharu, Malacca, Bandar Seri Begawan, New York, Tokyo, Kyoto, Hiroshima, Leuven, Brussel, StocKholm, Paris, juga Praha. (6)

W. S. Rendra membaca puisi (matranews.id/)
W. S. Rendra membaca puisi (matranews.id/) (matranews.id/)

  • Penghargaan


Hadiah Pertama Sayembara Penulisan Drama dari Bagian Kesenian Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Yogyakarta (1954)

Hadiah Sastra Nasional BMKN (1956)

Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970)

Hadiah Akademi Jakarta (1975)

Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976)

Penghargaan Adam Malik (1989)

The S.E.A. Write Award (1996)

Penghargaan Achmad Bakri (2006) (7)

 (TribunnewsWIKI/Widi)

Jangan lupa subscribe channel Youtube TribunnewsWIKI Official


Baca: Chairil Anwar

Baca: Beyoncé Giselle Knowles

Baca: Tuduhan Bambang Widjojanto Hingga Tanggapan Yusril Mengenai Isi Gugatan 02 hanya Asumsi

Baca: Erupsi Lagi, Tinggi Kolom Abu Gunung Sinabung Mencapai 7.000 Meter



Info Pribadi
Nama Willibrordus Surendra Broto Rendra
Nama Lain W. S. Rendra
Wahyu Sulaiman Rendra
Si Burung Merak
Lahir Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935
Meninggal Depok, Jawa Barat, 6 Agustus 2009
Makam Komplek Pemakaman Bengkel Teater Seni W. S. Rendra, Cipayung, Citayam, Depok, Jawa Barat
Keluarga
Ayah Raden Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo
Ibu Raden Ayu Catharina Ismadillah
Pasangan Sunarti Suwandi (1959 – 1981)
Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat (1970 – 1979)
Ken Zuraida (1976 – 2009)
Anak Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, Klara Sinta (dari Sunarti Suwandi)
Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, Rachel Saraswati (dari Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat)
Isaias Sadewa, Maryam Supraba (dari Ken Zuraida)
Pendidikan TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, Solo
SD s.d. SMA Katolik, SMA Pangudi Luhur Santo Yosef, Solo (tamat 1955)
Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta (tidak lulus)
Mendapat beasiswa American Academy of Dramatical Art (1964 - 1967)
Karier Sastrawan
Penulis dan Pemain Teater


Sumber :


1. www.biografiku.com
2. properti.kompas.com
3. www.biografiku.com
4. www.biografiku.com
5. www.referensimakalah.com
6. www.referensimakalah.com
7. www.biografiku.com


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved