Chairil Anwar

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922 dari keluarga yang cukup berada.


Widi Pradana Riswan Hermawan

Chairil Anwar
m.tvguide.co.id
Chairil Anwar 

Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922 dari keluarga yang cukup berada.




  • Kehidupan Pribadi


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Chairil Anwar lahir di Medan, Sumatera Utara pada 26 Juli 1922 dari keluarga yang cukup berada.

Ayahnya, Toeloes adalah seorang Bupati Inderagiri, Riau, sedangkan sang ibu bernama Saleha.

Chairil Anwar bahkan memiliki tali kekeluargaan dengan Perdana Menteri Indonesia pertama, Sutan Syahrir. (1)

Meski menjadi anak tunggal dari keluarga yang cukup terpandang, namun Chairil Anwar tidak dimanjakan oleh orangtuanya.

Kondisi keluarga Chairil Anwar bahkan bisa dibilang berantakan.

Kedua orangtuanya bercerai dan ayahnya menikah lagi, sehingga sejak usia 19 tahun, Chairil Anwar hanya dibesarkan oleh ibunya di Jakarta.

Sejak kecil, Chairil Anwar begitu dekat dengan neneknya. Hal ini membuatnya sangat berduka ketika sang nenek meninggal dunia.

Kepedihan itu digambarkan oleh Chairil Anwar melalui sebuah sajak.

“Bukan kematian benar yang menusuk kalbu

Keridlaanmu menerima segala tiba

Tak kutahu setinggi itu atas debu

Dan duka maha tuan bertahta”

Selain sang nenek, ibunya menjadi perempuan kedua yang paling dia puja. Rasa hormatnya pada sang ibu kerap kali membuat Chairil Anwar kehilangan sisi liarnya.

Seorang teman masa kecilnya, Sjamsul Ridwan pernah menuliskan kehidupan Chairil Anwar semasa kecil.

Menurutnya, Chairil Anwar adalah seorang anak yang pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya.

Keinginan dan hasrat itulah yang kemudian membuat jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, bahkan bisa dikatakan tidak pernah diam.

Chairil Anwar pernah jatuh hati pada seorang perempuan bernama Sri Ayati, namun perasaan itu tidak pernah dia ungkapkan sampai akhir hayatnya.

Selain Sri Ayati, ada sederet perempuan lain yang pernah membuat hati Chairil Anwar kepincut, di antaranya adalah Ida, Gadis Rasyid, Mirad, dan Roosmeini.

Nama-nama itu bahkan pernah menjadi bagian puisi-puisi yang ditulis Chairil Anwar.

Namun satu-satunya perempuan yang pernah ia nikahi adalah Hapsah Wiraredja. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai seorang anak perempuan yang dinamai Evawani Alissa.

Sayangnya pernikahan tersebut tidak berlangsung lama, Hapsah Wiraredja menuntut cerai kepada Chairil Anwar pada 1948, saat putrinya masih berumur 7 bulan.

Selain karena masalah ekonomi, perceraian itu juga disebabkan karena gaya hidup liar Chairil Anwar yang tidak berubah bahkan setelah memiliki seorang anak yang kini berprofesi sebagai notaris.

Pasca bercerai, kesehatan Chairil Anwar mulai menurun sehingga ia harus dirawat di Rumah Sakit dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta.

Belum genap berusia 27 tahun, Chairil Anwar meninggal dunia. Ada beberapa versi yang mengatakan penyebab kematiannya, namun yang paling banyak adalah karena ia mengidap penyakit TBC.

Chairil Anwar kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Karet Bivak, Jakarta. (2)

Evawani Alissa dan Fadli Zon
Evawani Alissa (baju merah) saat meresmikan patung Chairil Anwar di Rumah Budaya Fadli Zon, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, bulan Juli 2013.(Kompas.com/Jodhi Yudono)

  • Riwayat Pendidikan


Chairil Anwar mengenyam pendidikan pertamanya di Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sebuah sekolah dasar milik pemerintah Hindia-Belanda khusus untuk anak-anak pribumi.

Lulus dari HIS, Chairil Anwar kemudian melanjutkan ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO), yang setara dengan sekolah menengah pertama.

Namun belum sempat lulus, Chairil Anwar memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolahnya.

Pada usia 19 tahun, setelah orangtuanya bercerai, Chairil Anwar kemudian pindah ke Jakarta ikut ibunya.

Meski pendidikannya terbatas, namun Chairil Anwar menguasai tiga bahasa asing, yakni Inggris, Belanda, dan Jerman.

Hal ini karena dia kerap membaca karya-karya pengarang internasional ternama seperti Rainer M. Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, H. Marsman, J. Slaurhoff dan Edgar du Perron.

Pengarang-pengarang itulah yang kemudian banyak memengaruhi gaya menulisnya. (3)

Chairil Anwar 2
Chairil Anwar (Istimewa)

  • Karier


Kendati sudah berhenti sekolah sejak sebelum lulus MULO, bukan berarti Chairil Anwar tidak memiliki cita-cita.

Chairil Anwar telah memantapkan diri untuk menjadi seorang seniman sejak usianya 15 tahun.

Sejak remaja Chairil Anwar juga sudah suka menulis.

Chairil juga sudah mulai mengirimkan karyanya ke berbagai media ketika usianya menginjak 20 tahun, salah satunya Pandji Pustaka, namun tak satupun karyanya dimuat.

Karyanya banyak ditolak karena dinilai terlalu individualistis yang tidak sesuai dengan semangat yang dianut masyarakat, yakni semangat Kawasan Kemakmuran Bersama Asia Timur Raya.

Kendati demikian, ia tetap menulis.

Bakatnya semakin terasah ketika Chairil Anwar pindah ke Jakarta bersama ibunya. Ia mulai banyak membaca karya pengarang-pengarang ternama internasional yang kemudian mempengaruhi gaya penulisannya.

Nama Chairil Anwar mulai banyak dikenal ketika puisinya yang berjudul Nisan dimuat oleh majalah pada tahun 1942.

Puisi Chairil Anwar paling banyak bertema tentang kematian, pemberontakan, individualisme, hingga eksistensialisme.

Berbagai puisinya ini memiliki karakter khas yang menarik, dan sering dianggap multi-interpretasi.

Namun, gaya bahasa ini pula yang membuat tulisan Chairil Anwar menjadi semakin populer dan digemari.

Pada masa pendudukan Jepang di Indonesia, Chairil Anwar juga bekerja sebagai penyiar radio milik Jepang. Di sinilah ia jatuh hati pada seorang perempuan bernama Sri Ayati.

Pada masa pendudukan Jepang, tulisannya banyak beredar di atas kertas murah dan tidak diterbitkan hingga tahun 1945.

Semua tulisannya baik yang asli, modifikasi, maupun yang diduga dijiplak kemudian dikompilasikan ke dalam tiga buku berjudul Deru Campur Debu (1949); Kerikil Tajam Yang Terampas dan Yang Putus (1949); dan Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi dengan Asrul Sani dan Rivai Apin).

Karya-karya Chairil Anwar juga memberikan kontribusi dalam upaya Indonesia melepaskan diri dari cengkeraman penjajah.

Hal ini tercermin dari karyanya, Karawang-Bekasi yang ia sadur dari sajak The Young Dead Soldiers karya Archibald MacLeish pada 1948.

Chairil Anwar juga menulis sajak berjudul Persetujuan dengan Bung Karno, yang merefleksikan dukungannya pada Bung Karno untuk terus mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945.

Bahkan sajaknya yang berjudul “Aku” dan “Diponegoro” mendapat banyak apresiasi sebagai sajak perjuangan.

Kata Aku binatang jalang dalam sajak Aku, diapresiasi sebagai dorongan kata hati rakyat Indonesia untuk bebas merdeka.

Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, Chairil Anwar menjadi pelopor Angkatan ’45 yang menciptakan tren baru pemaikaian kata dalam puisi yang sangat lugas, solid, dan kuat.

Selain menulis puisi, Chairil Anwar juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam Bahasa Indonesia.

Beberapa karya terjemahannya diantaranya Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide) dan Kena Gempur (1951, John Steinbeck).

Chairil Anwar juga pernah menjadi redaktur ruang budaya Siasat “Gelanggang” dan gema Suasana. Pada tahun 1946, Chairil Anwar juga menjadi pendiri Gelanggang Seniman Merdeka.

Chairil Anwar dikenal sebagai salah satu penyair besar yang pernah ada di negeri ini.

Sepeninggalannya, makamnya selalu diziarahi oleh penggemarnya yang selalu ada dari zaman ke zaman.

Bahkan hari kelahirannya dan hari kematiannya diperingati sebagai Hari Puisi Indonesia dan Hari Puisi Nasional.

Bahkan setelah meninggal, Chairil Anwar masih dianugerahi penghargaan Dewan Kesenian Bekasi (DKB) Award pada tahun 2007. Penghargaan ini akhirnya diserahkan kepada sang putri, Evawani Alissa. (4)

Mural wajah Chairil Anwar
Mural wajah Chairil Anwar. (Istimewa)

  • Karya


Kumpulan Puisi

Kerikil Tajam dan yang Terampas dan yang Putus (1949)

Deru Campur Debu (1949)

Tiga Menguak Takdir (1950 bersama Asrul Sani dan Rivai Apin).

Aku Ini Binatang Jalang (1986)

Koleksi sajak 1942-1949, diedit oleh Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986);

Derai-derai Cemara (1998).

Buku kumpulan puisi Aku Ini Binatang Jalang diterbitkan Gramedia (1986).

Karya Terjemahan

Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948, Andre Gide)

Kena Gempur (1951, John Steinbeck).

Karya-karya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol

Sharp gravel, Indonesian poems, oleh Donna M. Dickinson (Berkeley, California, 1960)

Cuatro poemas indonesios, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati (Madrid: Palma de Mallorca, 1962)

Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York, New Directions, 1963)

Only Dust: Three Modern Indonesian Poets, oleh Ulli Beier (Port Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)

The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)

The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock Fang, dengan bantuan HB Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)

Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath (Wina: Octopus Verlag, 1978)

The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)

Karya-karya tentang Chairil Anwar

Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan Kebudajaan (Djakarta, 1953);

Boen S. Oemarjati, “Chairil Anwar: The Poet and his Language” (Den Haag: Martinus Nijhoff, 1972);

Abdul Kadir Bakar, “Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil Anwar” (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974);

S.U.S. Nababan, “A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and Chairil Anwar” (New York, 1976);

Arief Budiman, “Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan” (Jakarta: Pustaka Jawa, 1976);

Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar, Auckland, 1976;

H.B. Jassin, “Chairil Anwar, pelopor Angkatan ’45, disertai kumpulan hasil tulisannya”, (Jakarta: Gunung Agung, 1983);

Husain Junus, “Gaya bahasa Chairil Anwar” (Manado: Universitas Sam Ratulangi, 1984);

Rachmat Djoko Pradopo, “Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia modern” (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1985);

Sjumandjaya, “Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987);

Pamusuk Eneste, “Mengenal Chairil Anwar” (Jakarta: Obor, 1995);

Zaenal Hakim, “Edisi kritis puisi Chairil Anwar” (Jakarta: Dian Rakyat, 1996). (5)

(TribunnewsWIKI/Widi)

Jangan lupa subscribe channel Youtube TribunnewsWIKI Official

Baca: Beyoncé Giselle Knowles

Baca: Sutan Syahrir

Baca: Fatmawati Soekarno

Baca: Tan Malaka

Baca: Soe Hok Gie



Info Pribadi
Nama Chairil Anwar
Lahir Medan, 26 Juli 1922
Berita Terkini
Meninggal Jakarta, 28 April 1949
Makam Tempat Pemakaman Umum Karet Bivak, Jl. Karet Pasar Baru Barat, Karet Tengsin, Tanahabang, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10250
Keluarga
Ayah Toeloes
Ibu Saleha
Pasangan Hapsah Wiraredja (1946 – 1948)
Anak Evawani Alissa, S.H.
Pendidikan Hollandsch-Inlandsche School (HIS)
Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)
Karier Penyair/Sastrawan


Sumber :


1. bio.or.id
2. bio.or.id
3. bio.or.id
4. bio.or.id


Penulis: Widi Pradana Riswan Hermawan






KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2019 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved