Mulai Menghantui Indonesia, Seberapa Bahaya Penyakit Cacar Monyet?

Pasca pemerintah Singapura mengumumkan telah menemukan penyakit cacar monyet atau monkeypox, pemerintah Indonesia telah melakukan langkah antisipasi.


zoom-inlihat foto
mulai-menghantui-indonesia-seberapa-bahaya-penyakit-cacar-monyet.jpg
Punch Media
Mulai Menghantui Indonesia, Seberapa Bahaya Penyakit Cacar Monyet?


TRIBUNNEWSWIKI.COM – Pasca pemerintah Singapura mengumumkan telah menemukan penyakit cacar monyet atau monkeypox, pemerintah Indonesia telah melakukan langkah-langkah antisipasi penularan virus tersebut.

Misalnya seperti yang dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Riau.

Dikutip dari Kompas.com pada Selasa (14/5/2019), Pemprov setempat meminta pihak Bandara Internasional Sultan Syarif Kasim (SSK) untuk memasang thermal detection.

Adapun tujuan pemasangan thermal detection ini adalah untuk memeriksa suhu tubuh penumpang yang datang dari Singapura dan Batam.

Meski hingga saat ini belum ada laporan terkait adanya penumpang yang terinfeksi virus cacar monyet, namun pemerintah tampaknya tak ingin kecolongan.

Selain Pemprov Riau yang telah memperketat penjagaan di pelabuhan dan bandara, Dinas Kesehatan Batam juga telah menyiapkan 6 ruang isolasi bagi penumpang yang terindikasi terjangkit virus cacar monyet.

Dua ruangan berada di RSUD Embung Fatimah, sedangkan 4 di RSBP Sekupang.

Terkait virus cacar monyet atau monkeypox itu sendiri, sebenarnya seberapa bahaya virus tersebut?

Menurut WHO, cacar monyet mirip dengan cacar yang biasa menyerang manusia. Meski jauh lebih ringan, namun cacar monyet dapat berakibat fatal jika tidak ditangani dengan benar.

Adapun angka kematian yang diakibatkan oleh penyakit ini yaitu antara 1% sampai 10%, di mana sebagian besar kematian terjadi pada anak-anak atau kelompok usia yang lebih muda.

Adapun masa inkubasi dari cacar monyet ini biasanya terjadi antara 6 hingga 16 hari, namun sering juga berkisar antara 5 hingga 21 hari.

Infeksi cacar monyet ini dibagi menjadi dua periode, yakni periode invasi dan periode erupsi kulit.

Periode invasi terjadi antara 0 sampai 5 hari. Biasanya pada fase ini, penderita akan mengalami demam, sakit kepala hebat, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri punggung, nyeri otot, dan kekurangan energi.

Sementara itu, periode erupsi kulit biasanya terjadi dalam 1 sampai 3 hari setelah munculnya demam.

Tahap ruam biasanya muncul pertama di bagian wajah, lalu kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain.

Sampai saat ini tidak ada pengobatan khusus atau vaksin yang tersedia untuk mencegah penyakit ini. Meski pada dasarnya cacar monyet adalah tipe penyakit yang akan sembuh dengan sendirinya dengan gejala mulai dari 14 hari sampai 21 hari.

Dikutip dari medicinenet.com, penularan cacar monyet biasanya terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi atau karena memakan daging yang tidak dimasak dengan baik.

Penularan dari manusia ke manusia juga mungkin terjadi, namun kasusnya hanya di kisaran 8% sampai 15%.
Lalu bagaimana caranya mencegah atau mengobati pasien yang telah terinfeksi virus cacar monyet?

Kendati belum ada pengobatan khusus, namun ada beberapa hal yang dapat digunakan untuk menangani pasien yang telah terjangkit virus cacar monyet.

Masih dari medicine.net, vaksinasi cacar harus diberikan dalam waktu 2 minggu setelah seseorang terpapar virus cacar monyet.

Selain itu, Cidofovir (Vistide), atau obat antivirus juga disarankan untuk pasien dengan gejala berat yang dapat mengancam jiwa.

Untuk melakukan pencegahan penularan cacar monyet sendiri dapat dilakukan dengan menghindari makanan atau menyentuh hewan yang diketahui telah tertular virus di alam liar, terutama tikus dan monyet Afrika.

Sementara itu, pasien yang tertular penyakit ini juga harus mengisolasi diri secara fisik sampai semua lesi cacar sembuh, semua keraknya telah hilang.

Untuk orang yang merawat pasien ini harus menggunakan penghalang seperti sarung tangan dan masker wajah untuk menghindari kontak langsung dengan pasien.

(TribunnewsWIKI/Widi)











KOMENTAR

ARTIKEL TERKINI

Artikel POPULER

© 2022 tribunnnewswiki.com,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved